BACAAJA, SEMARANG – Banyak orang mencari resep agar bisa hidup sampai usia 100 tahun. Mulai dari rajin makan sayur, rutin olahraga, hingga menghindari rokok sering disebut sebagai kunci umur panjang.
Namun, hasil penelitian terbaru justru menunjukkan tidak ada satu kebiasaan yang bisa menjamin seseorang bakal menjadi centenarian atau hidup hingga seabad. Umur panjang ternyata lahir dari perpaduan banyak faktor yang saling berkaitan.
Kesimpulan itu diperoleh dari tim peneliti yang dipimpin ahli farmakologi Shaima Ibrahim dari American University in Cairo, Mesir. Mereka menelaah 124 penelitian tentang orang berusia 100 tahun atau lebih yang dipublikasikan selama 55 tahun.
Dalam kajian tersebut, para ilmuwan juga mempelajari kelompok usia 105 hingga 109 tahun, bahkan mereka yang berhasil mencapai usia lebih dari 110 tahun. Semua data kemudian dianalisis untuk mencari pola yang sama.
Hasilnya menunjukkan bahwa umur panjang dipengaruhi kombinasi faktor genetik, kondisi biologis, gaya hidup, lingkungan, hubungan sosial, hingga unsur keberuntungan. Jadi, tidak ada satu “rahasia ajaib” yang berlaku untuk semua orang.
Para peneliti menemukan bahwa orang yang berumur sangat panjang umumnya mengalami proses penuaan yang sedikit berbeda di tingkat sel tubuh. Sistem perbaikan DNA mereka cenderung bekerja lebih baik dibanding kebanyakan orang.
Selain itu, fungsi mitokondria yang menjadi sumber energi sel juga relatif lebih sehat. Tubuh mereka pun dinilai lebih mampu mengendalikan peradangan yang sering dikaitkan dengan berbagai penyakit kronis.
Meski faktor keturunan ikut berpengaruh, ilmuwan tidak menemukan satu gen tertentu yang menjadi penentu utama seseorang bisa hidup hingga 100 tahun. Pengaruh genetik justru berasal dari gabungan banyak variasi gen yang masing-masing memberikan efek kecil.
Gaya hidup tetap memegang peran penting dalam perjalanan menuju usia lanjut. Orang-orang yang berhasil mencapai usia sangat panjang umumnya memiliki pola makan yang lebih banyak mengandalkan bahan pangan nabati.
Aktivitas fisik mereka juga tidak selalu berupa olahraga berat. Banyak yang tetap aktif lewat kegiatan sederhana seperti berjalan kaki, berkebun, atau mengerjakan pekerjaan rumah setiap hari.
Kebiasaan tidak merokok menjadi pola lain yang cukup sering ditemukan. Di samping itu, mereka biasanya memiliki hubungan yang erat dengan keluarga maupun lingkungan sosial.
Dari sisi psikologis, banyak centenarian dikenal memiliki mental yang tangguh. Mereka cenderung mampu mengelola tekanan hidup dengan lebih baik dan tidak mudah larut dalam kecemasan.
Menariknya, hidup sampai usia 100 tahun bukan berarti bebas dari penyakit. Sebagian besar tetap mengalami gangguan kesehatan, tetapi penyakit serius biasanya muncul pada usia yang jauh lebih tua.
Para peneliti membagi kelompok centenarian menjadi tiga tipe. Ada yang nyaris lolos dari penyakit berat, ada yang baru sakit saat usia sangat lanjut, dan ada pula yang sudah sakit sejak lama tetapi mampu bertahan hidup selama bertahun-tahun.
Meski begitu, penelitian ini belum bisa memastikan hubungan sebab-akibat secara mutlak. Karena hanya mempelajari mereka yang berhasil mencapai usia sangat tua, belum tentu semua faktor yang ditemukan menjadi penyebab langsung umur panjang.
Temuan ini memperlihatkan bahwa hidup lebih lama bukan hasil dari satu kebiasaan saja. Menjaga pola makan, tetap aktif bergerak, tidak merokok, serta merawat hubungan sosial masih menjadi langkah paling realistis untuk meningkatkan peluang menikmati usia yang lebih sehat. (*)

