BACAAJA< JAKARTA – Situasi politik di Amerika Serikat kembali memanas dengan sorotan tajam yang mengarah ke Donald Trump. Di tengah dinamika global yang sedang tidak stabil, tekanan dari dalam negeri justru makin terasa, memunculkan kembali wacana lama soal kelayakan seorang presiden untuk tetap memimpin.
Kali ini, kritik datang secara terbuka dan tanpa tedeng aling-aling dari Chris Murphy, senator dari Partai Demokrat. Ia menyuarakan kekhawatiran serius terhadap kondisi kepemimpinan Trump yang dinilai sudah melewati batas kewajaran.
Dalam pernyataannya di media sosial, Murphy bahkan menyebut kondisi Trump sebagai “tidak waras,” sebuah istilah yang jarang digunakan secara terang-terangan dalam politik tingkat tinggi. Pernyataan ini langsung memantik perdebatan luas di kalangan publik dan elite politik.
Murphy tak hanya berhenti pada kritik, tapi juga mendorong langkah konkret dengan mengusulkan penggunaan Amandemen ke-25 dalam Konstitusi Amerika Serikat. Ia menyebut, jika berada di kabinet, dirinya akan langsung berkonsultasi dengan ahli hukum konstitusi.
Menurutnya, situasi saat ini bukan lagi soal perbedaan pandangan politik, melainkan menyangkut keselamatan banyak orang. Ia bahkan mengaitkan kebijakan Trump dengan korban jiwa yang terus bertambah di konflik global.
Pernyataan keras itu merujuk pada dampak konflik di Timur Tengah, di mana ribuan korban dilaporkan jatuh. Berbagai laporan menyebut angka korban sipil dan militer terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Data dari kelompok hak asasi manusia seperti HRANA menunjukkan angka kematian yang mencapai ribuan, termasuk warga sipil. Sementara laporan lain dari organisasi kemanusiaan global juga memperkuat gambaran situasi yang memprihatinkan.
Tak hanya itu, korban juga datang dari pihak militer Amerika sendiri, dengan laporan menyebut sejumlah personel tewas dalam konflik yang melibatkan Iran. Hal ini semakin memperbesar tekanan terhadap pemerintahan Trump.
Wacana Amandemen ke-25 sendiri bukan hal baru dalam sejarah politik Amerika. Aturan ini dirancang pasca tragedi Assassination of John F. Kennedy sebagai langkah antisipasi jika presiden tidak mampu menjalankan tugasnya.
Amandemen tersebut memberi jalan bagi wakil presiden untuk mengambil alih kekuasaan jika presiden dinilai tidak mampu, baik secara fisik maupun mental. Prosesnya melibatkan keputusan bersama dengan mayoritas anggota kabinet.
Dalam beberapa tahun terakhir, isu ini kerap muncul, tidak hanya pada Trump, tapi juga pada pendahulunya, Joe Biden. Faktor usia sering menjadi alasan utama munculnya kekhawatiran tersebut.
Trump sendiri kini mendekati usia 80 tahun, yang membuat diskusi soal kebugaran fisik dan mental kembali menguat. Di sisi lain, Biden juga menghadapi sorotan serupa saat masih menjabat.
Sejarah mencatat, seruan penggunaan Amandemen ke-25 terhadap Trump sudah pernah muncul sebelumnya, termasuk pasca kerusuhan di Gedung Capitol pada 6 Januari 2021.
Kini, tekanan tersebut muncul lagi, bahkan dengan nada yang lebih keras. Beberapa tokoh politik lain juga ikut menyuarakan kekhawatiran serupa, menandakan isu ini tidak bisa dianggap remeh.
Selain tekanan politik, Trump juga menghadapi tantangan dari sisi popularitas. Sejumlah survei terbaru menunjukkan penurunan tingkat persetujuan publik terhadap kinerjanya.
Survei dari Napolitan News Service mencatat hanya sekitar 40 persen responden yang masih menyetujui kinerja Trump, sementara mayoritas lainnya menyatakan tidak puas. Angka ini menunjukkan penurunan dibanding periode sebelumnya.
Penurunan ini bahkan terjadi dalam waktu relatif singkat, menandakan adanya perubahan sentimen publik yang cukup cepat. Dalam politik, tren seperti ini sering menjadi sinyal peringatan serius.
Survei lain yang dirilis CNN juga menunjukkan angka yang lebih rendah, dengan tingkat persetujuan hanya sekitar 35 persen. Ini menjadi salah satu titik terendah dalam masa jabatan Trump.
Meski demikian, pihak Gedung Putih tetap membela kinerja presiden. Juru bicara pemerintah menyebut bahwa legitimasi Trump berasal dari kemenangan pemilu yang sah.
Mereka juga menegaskan bahwa kebijakan yang dijalankan selama ini fokus pada ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan stabilitas nasional. Klaim ini menjadi bagian dari narasi pembelaan yang terus digaungkan.
Namun di tengah derasnya kritik dan penurunan dukungan, masa depan politik Trump kembali jadi tanda tanya besar. Wacana Amandemen ke-25 yang kembali mencuat bisa menjadi awal dari dinamika politik yang lebih besar dalam waktu dekat. (*)


