Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Trump Dicap Tidak Waras, Isu Pemakzulan Kembali Menguat Lagi
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Trump Dicap Tidak Waras, Isu Pemakzulan Kembali Menguat Lagi

Kali ini, kritik datang secara terbuka dan tanpa tedeng aling-aling dari Chris Murphy, senator dari Partai Demokrat. Ia menyuarakan kekhawatiran serius terhadap kondisi kepemimpinan Trump yang dinilai sudah melewati batas kewajaran.

Nugroho P.
Last updated: April 7, 2026 7:41 am
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
Donald Trump.
SHARE

BACAAJA< JAKARTA – Situasi politik di Amerika Serikat kembali memanas dengan sorotan tajam yang mengarah ke Donald Trump. Di tengah dinamika global yang sedang tidak stabil, tekanan dari dalam negeri justru makin terasa, memunculkan kembali wacana lama soal kelayakan seorang presiden untuk tetap memimpin.

Kali ini, kritik datang secara terbuka dan tanpa tedeng aling-aling dari Chris Murphy, senator dari Partai Demokrat. Ia menyuarakan kekhawatiran serius terhadap kondisi kepemimpinan Trump yang dinilai sudah melewati batas kewajaran.

Dalam pernyataannya di media sosial, Murphy bahkan menyebut kondisi Trump sebagai “tidak waras,” sebuah istilah yang jarang digunakan secara terang-terangan dalam politik tingkat tinggi. Pernyataan ini langsung memantik perdebatan luas di kalangan publik dan elite politik.

Murphy tak hanya berhenti pada kritik, tapi juga mendorong langkah konkret dengan mengusulkan penggunaan Amandemen ke-25 dalam Konstitusi Amerika Serikat. Ia menyebut, jika berada di kabinet, dirinya akan langsung berkonsultasi dengan ahli hukum konstitusi.

Menurutnya, situasi saat ini bukan lagi soal perbedaan pandangan politik, melainkan menyangkut keselamatan banyak orang. Ia bahkan mengaitkan kebijakan Trump dengan korban jiwa yang terus bertambah di konflik global.

Pernyataan keras itu merujuk pada dampak konflik di Timur Tengah, di mana ribuan korban dilaporkan jatuh. Berbagai laporan menyebut angka korban sipil dan militer terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

Data dari kelompok hak asasi manusia seperti HRANA menunjukkan angka kematian yang mencapai ribuan, termasuk warga sipil. Sementara laporan lain dari organisasi kemanusiaan global juga memperkuat gambaran situasi yang memprihatinkan.

Tak hanya itu, korban juga datang dari pihak militer Amerika sendiri, dengan laporan menyebut sejumlah personel tewas dalam konflik yang melibatkan Iran. Hal ini semakin memperbesar tekanan terhadap pemerintahan Trump.

Wacana Amandemen ke-25 sendiri bukan hal baru dalam sejarah politik Amerika. Aturan ini dirancang pasca tragedi Assassination of John F. Kennedy sebagai langkah antisipasi jika presiden tidak mampu menjalankan tugasnya.

Amandemen tersebut memberi jalan bagi wakil presiden untuk mengambil alih kekuasaan jika presiden dinilai tidak mampu, baik secara fisik maupun mental. Prosesnya melibatkan keputusan bersama dengan mayoritas anggota kabinet.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu ini kerap muncul, tidak hanya pada Trump, tapi juga pada pendahulunya, Joe Biden. Faktor usia sering menjadi alasan utama munculnya kekhawatiran tersebut.

Trump sendiri kini mendekati usia 80 tahun, yang membuat diskusi soal kebugaran fisik dan mental kembali menguat. Di sisi lain, Biden juga menghadapi sorotan serupa saat masih menjabat.

Sejarah mencatat, seruan penggunaan Amandemen ke-25 terhadap Trump sudah pernah muncul sebelumnya, termasuk pasca kerusuhan di Gedung Capitol pada 6 Januari 2021.

Kini, tekanan tersebut muncul lagi, bahkan dengan nada yang lebih keras. Beberapa tokoh politik lain juga ikut menyuarakan kekhawatiran serupa, menandakan isu ini tidak bisa dianggap remeh.

Selain tekanan politik, Trump juga menghadapi tantangan dari sisi popularitas. Sejumlah survei terbaru menunjukkan penurunan tingkat persetujuan publik terhadap kinerjanya.

Survei dari Napolitan News Service mencatat hanya sekitar 40 persen responden yang masih menyetujui kinerja Trump, sementara mayoritas lainnya menyatakan tidak puas. Angka ini menunjukkan penurunan dibanding periode sebelumnya.

Penurunan ini bahkan terjadi dalam waktu relatif singkat, menandakan adanya perubahan sentimen publik yang cukup cepat. Dalam politik, tren seperti ini sering menjadi sinyal peringatan serius.

Survei lain yang dirilis CNN juga menunjukkan angka yang lebih rendah, dengan tingkat persetujuan hanya sekitar 35 persen. Ini menjadi salah satu titik terendah dalam masa jabatan Trump.

Meski demikian, pihak Gedung Putih tetap membela kinerja presiden. Juru bicara pemerintah menyebut bahwa legitimasi Trump berasal dari kemenangan pemilu yang sah.

Mereka juga menegaskan bahwa kebijakan yang dijalankan selama ini fokus pada ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan stabilitas nasional. Klaim ini menjadi bagian dari narasi pembelaan yang terus digaungkan.

Namun di tengah derasnya kritik dan penurunan dukungan, masa depan politik Trump kembali jadi tanda tanya besar. Wacana Amandemen ke-25 yang kembali mencuat bisa menjadi awal dari dinamika politik yang lebih besar dalam waktu dekat. (*)

You Might Also Like

Rekening Pejabat Makin Gendut! Presiden Teken Perpres Kenaikan Gaji Pejabat, ASN, dan TNI-Polri

Kemenpora: Bonus SEA Games Tinggal Gas, Atlet Harap Sabar Dikit

Kasus Striptis di Karaoke Semarang, Bawahan Jadi Tersangka ‘Otaknya’ Tak Tersentuh

BI Jateng Gelar Jasirah Race 2025: Dorong Wisata Sejarah dan Digitalisasi Ekonomi

Polisi Klaim Kasus Iko Unnes Murni Kecelakaan, CCTV Masih Disimpan Rapat-Rapat

TAGGED:donald trumpheadlinekondisi donald trumppemakzulan donal trump
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article China Kirim 10.000 Robot Humanoid, Siap Gantikan Peran Manusia di Eropa dan Asia
Next Article Pesta Nikah Berujung Duka, Akhirnya Pelaku Dikeler Polisi

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Dukung Program Sumur Resapan, Saleh: Solusi Sederhana untuk Cegah Banjir

WFH, Hemat Energi atau Cuma Pindah Tagihan? Ini Kata Akademisi

Nawal Yasin Ajak Pesantren Hidupkan Lagi “DNA Literasi”

WFH atau “Weekend Tipis-Tipis”? Produktivitas Dipertanyakan

Sawah Kebanjiran, Luthfi Jamin Stok Pangan Masih Aman

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ilustrasi petugas mengevakuasi warga korban banjir di Pati.
Info

Nestapa Warga Pati: Sudah 2 Minggu Kebanjiran, Eh Bupatinya Ditangkap KPK

Januari 22, 2026
Hukum

Rumah Mewah Disita, Bos Minyak Masih Raib

Oktober 18, 2025
Bupati Temanggung, Agus Gondrong, mengecek kesiapan Puskesmas yang siaga selama 24 jam.
Info

Catat! Berikut Daftar Puskesmas di Temanggung Siaga IGD 24 Jam selama Mudik Lebaran

Maret 20, 2026
Daerah

ASN Semarang Diminta Nggak Cuma Sibuk, Tapi Berdampak

Januari 2, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Trump Dicap Tidak Waras, Isu Pemakzulan Kembali Menguat Lagi
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?