BACAAJA, YOGYAKARTA – Teror itu datang kayak notifikasi tanpa henti. Masuk, muncul lagi, muncul lagi. Bukan cuma ke dirinya, tapi sampai nyasar ke orang yang paling ia jaga: ibunya sendiri.
Buat Tiyo Ardianto, Ketua BEM di Universitas Gadjah Mada, semua itu bukan hal baru. Ia tahu betul, ketika memilih berdiri di barisan pengkritik kekuasaan, risikonya nggak pernah kecil.
Di sebuah obrolan santai, Tiyo tampak tenang. Nggak ada gestur panik. Sore itu di Kudus, ia cerita satu per satu soal ancaman yang masuk—ke dirinya, ke ibunya, sampai ke kawan-kawan seperjuangan di kampus.
Ibu Ikut Diseret-seret
Teror terbaru justru bikin miris. Ibunya kembali jadi sasaran.
Dalam semalam, ada tiga pesan masuk dari nomor tak dikenal. Isinya serius: ada ormas di Yogyakarta yang disebut bakal melaporkan Tiyo ke Polda DIY. Tuduhannya nggak main-main—penggelapan dana Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK).
Belum selesai di situ, pesan lain menyusul. Kali ini membawa-bawa nama dosen UGM yang disebut kecewa dan menuding hal serupa. Lalu pesan ketiga datang dengan nada lebih menekan: pihak kepolisian siap mengusut tuntas kasus Tiyo.
Bagi Tiyo, narasi itu bukan barang baru. Ia menganggap tuduhan tersebut sudah lama dipakai untuk menggembosi dirinya.
Ketakutan Ibu, Keteguhan Anak
Sebagai ibu, tentu ada rasa takut. Awalnya sang ibu cemas, khawatir dengan keselamatan anaknya yang lantang mengkritik pemerintah.
Tapi Tiyo memilih menjelaskan pelan-pelan. Ia uraikan satu per satu bahwa kabar itu bukan fakta, melainkan pola teror yang sama—menciptakan tekanan psikologis agar ia mundur.
“Sekarang ibu sudah aman,” ujarnya singkat.
Bukan Cuma Dia
Tekanan ternyata nggak berhenti di lingkar keluarga. Sekitar 30 sampai 40 pengurus BEM UGM, menurut Tiyo, juga pernah merasakan teror serupa.
Namun mereka paham satu hal: bersuara lantang memang ada harganya. Sikap politik BEM yang terbuka berseberangan dengan pemerintah memang bikin gerah sebagian pihak.
Kritik MBG yang Bikin Panas
Salah satu kritik yang paling bikin riuh adalah soal program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tiyo bahkan menyebutnya dengan istilah pedas: “Maling Berkedok Gizi”.
Kritik itu diarahkan pada pemerintahan di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Menurutnya, ada banyak hal di sektor pendidikan yang lebih mendesak untuk dibenahi.
Bagi Tiyo, kritik bukan soal benci negara. Justru karena peduli. Ia mengibaratkan kritik seperti obat untuk republik yang sedang sakit. Nggak selalu pahitnya disukai, tapi tujuannya menyembuhkan.
Di tengah ancaman yang terus berdatangan, Tiyo memilih tetap berdiri. Buatnya, rasa takut itu manusiawi. Tapi membungkam diri sendiri justru lebih berbahaya.
Karena kalau kritik dibalas dengan teror, yang dipertaruhkan bukan cuma satu mahasiswa—tapi masa depan ruang demokrasi itu sendiri. (*)


