BACAAJA, KUDUS – Seorang siswa SMK dari Kabupaten Kudus tiba-tiba jadi perbincangan hangat di media sosial setelah menulis surat terbuka yang ditujukan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Bukan sekadar curhat biasa, isi surat ini cukup bikin banyak orang berhenti scroll karena pesannya beda dari yang lain. Siswa bernama Muhammad Rafif Arsya Maulidi ini dengan berani menyatakan kalau dirinya menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) — tapi bukan karena menentang sepenuhnya, melainkan karena punya usulan yang menurutnya lebih berdampak.
Arsya, yang masih duduk di kelas XI jurusan Desain Komunikasi Visual di SMK NU Miftahul Falah Cendono, Kecamatan Dawe, memilih menyuarakan pemikirannya lewat tulisan yang ia unggah di Instagram pribadinya. Dalam surat itu, ia meminta agar jatah MBG yang seharusnya ia terima dialihkan saja untuk menambah kesejahteraan guru, khususnya guru honorer di sekolahnya. Ia merasa, masih banyak guru yang berjuang dengan penghasilan terbatas, padahal peran mereka sangat besar dalam membentuk masa depan siswa. Baginya, perhatian ke guru adalah investasi jangka panjang yang lebih “ngena”.
Unggahan tersebut langsung ramai disorot. Dalam waktu singkat, postingan itu mengumpulkan ribuan tanda suka dan ratusan komentar, mayoritas berisi dukungan. Banyak netizen yang menganggap langkah Arsya ini berani sekaligus menyentuh, karena datang dari seorang pelajar yang justru memikirkan kesejahteraan gurunya. Apalagi, dalam unggahan itu ia juga menandai sejumlah tokoh penting seperti Gibran Rakabuming Raka, berharap pesannya bisa benar-benar sampai ke pihak yang punya kewenangan.
Yang bikin surat ini makin menarik, Arsya bahkan menghitung secara sederhana nilai dana yang ia maksud. Dengan sisa masa sekolah sekitar 18 bulan, ia mengalikan jumlah hari belajar dengan nominal bantuan harian, hingga menghasilkan angka sekitar Rp6,7 juta. Menurutnya, angka itu mungkin kecil kalau dilihat per individu, tapi bisa jadi bentuk apresiasi nyata kalau dialihkan untuk membantu guru. Ia juga menegaskan bahwa langkah ini murni inisiatif pribadi, tanpa paksaan dari siapa pun.
Di balik aksinya, Arsya punya pandangan yang cukup dalam soal pendidikan. Ia percaya kalau kemajuan bangsa itu nggak lepas dari kualitas guru. Program seperti MBG memang penting, tapi menurutnya, peningkatan kesejahteraan guru juga nggak kalah krusial. Dengan cara yang santun dan penuh pertimbangan, ia mencoba menyampaikan aspirasi—bahwa perhatian terhadap pendidikan seharusnya dimulai dari mereka yang berdiri di depan kelas setiap hari. Sikap ini pun membuka ruang diskusi baru di tengah masyarakat soal prioritas kebijakan dan bagaimana suara anak muda bisa ikut mewarnai arah kebijakan publik. (*)


