BACAAJA, SEMARANG- Kawasan Kota Lama Semarang kembali jadi sorotan nasional. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menerima kunjungan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno yang ingin melihat langsung bagaimana kawasan cagar budaya ini berhasil “naik kelas”, Sabtu (31/1/2026),
Dari bangunan tua yang dulu sepi, Kota Lama kini berubah jadi ruang publik aktif, ramai wisatawan, hidup secara ekonomi, tapi tetap hormat sama sejarah. Dan itu yang bikin Jakarta penasaran.
Baca juga: Kota Lama Paling Laris Selama Libur Nataru, Gratisan Memang Juara
“Kunjungan ini kesempatan buat saling belajar. Kota Lama Semarang melalui proses panjang revitalisasi, bukan cuma mempertahankan bangunan lama, tapi juga bikin kawasan ini hidup dan berkelanjutan,” kata Agustina.
Menurutnya, merawat kawasan bersejarah itu bukan proyek instan. Kuncinya ada di konsistensi dan kerja bareng semua pihak, pemerintah, warga, sampai pelaku ekonomi kreatif. “Kami apresiasi kehadiran Pak Wagub. Revitalisasi seperti ini nggak bisa jalan sendiri, harus kolaboratif,” lanjutnya.
Rano Karno sendiri blak-blakan soal alasan memilih Semarang. Ia menilai struktur Kota Lama Semarang punya banyak kemiripan dengan Kota Tua Jakarta. Bedanya, Semarang sudah selangkah lebih depan dalam menghidupkan bangunan bersejarah.
Kemiripan Struktur
“Kami ingin belajar dari Semarang. Jakarta sedang membenahi Kota Tua, dan kami melihat ada kemiripan struktur kawasan,” ujar Rano, pemeran Si Doel dalam serial Si Doel Anak Sekolahan yang kondang di layar kaca tahun 1990 an ini.
Kunjungan ini sekaligus menegaskan posisi Semarang sebagai role model nasional dalam pengelolaan kawasan heritage. Bukan cuma cantik secara visual, tapi juga relevan secara ekonomi dan sosial.
Agustina menegaskan, Pemkot Semarang terbuka untuk kolaborasi lintas daerah. Targetnya jelas: membangun ekosistem pelestarian budaya yang adaptif dengan zaman, tanpa kehilangan identitas.
“Semoga kolaborasi Semarang dan Jakarta ini jadi pemantik daerah lain supaya lebih peduli dengan sejarahnya. Semarang siap jadi mitra strategis,” tutupnya.
Kota Lama Semarang sudah membuktikan: bangunan tua tak harus jadi museum sunyi. Tinggal kemauan, dirawat serius, bukan sekadar dipugar pas mau dikunjungi pejabat. (tebe)


