BACAAJA, SEMARANG – Beberapa bangunan di ujung Perumahan Bukit Manyaran Permai (BMP), Gunungpati, Semarang, kondisinya miris. Tembok retak di sana-sini, ada yang miring, ada juga yang sudah ditinggal penghuninya. Bekas kerusakan lama masih kelihatan jelas.
Permukiman itu jauh dari kata aman. Beberapa rumah posisinya pas di bibir jurang. Bagian belakangnya langsung ngadep tanah turun dan semak liar. Ada rumah yang ditopang papan kayu, sekadar biar nggak makin ambles.
Wilayah ini memang bukan kawasan biasa. Perum BMP berdiri di jalur patahan sesar Semarang, tanahnya labil. Warga sudah paham, tinggal di sini artinya harus siap hidup bareng risiko.
Bacaaja: Warga Deliksari Semarang Dihantui Bayang-bayang Longsor, Hidup dalam Mode Siaga
Bacaaja: Triastono Risau Tanah Terus Bergerak, Warga Deliksari Bertahan di Tengah Ancaman Longsor
Warga masih ingat betul kejadian Maret 2021 lalu. Waktu itu longsor datang dini hari, sekitar delapan rumah roboh. Sejak kejadian itu, retakan jadi pemandangan yang nggak asing lagi.
Meski begitu, belakangan ini kondisinya relatif tenang. Nggak ada retakan baru yang mencolok. Kebanyakan yang rusak sekarang memang sisa-sisa kejadian lama.
Dasuki, salah satu warga, rumahnya cuma sekitar 10 meter dari titik tanah gerak waktu longsor dulu. Dia memilih cara sederhana biar tanah nggak gampang bergerak lagi. Lingkungan sekitar rumahnya ditanami pohon.
Ketua RW di Perum BMP, Budi Handoko, bilang kondisi perumahan sejauh ini masih aman. Warga dan pengurus terus ngelakuin langkah-langkah pencegahan.
“Alhamdulillah di sini aman-aman. Bukan berarti ke depan kita tahu ya, tapi setidaknya yang sudah kita lakukan, bangun bronjong-bronjong itu aman,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).
Menurut Budi, urusan air juga jadi perhatian. Soalnya air kecil-kecil kalau dibiarkan bisa jadi masalah besar.
“Air sehari-hari kelihatannya sedikit, tapi kalau nggak ditata ya bahaya. Makanya saluran-saluran kita benahi,” katanya.
Saluran air ke arah bronjong, lanjut Budi, sudah dikerjakan tahun lalu. Hasilnya cukup terasa karena aliran air jadi lebih rapi dan nggak bocor.
Penguatan tebing di BMP dikerjakan bertahap. Ada yang dari bantuan Pemkot Semarang lewat Dinas Perkim, ada juga yang dari dana aspirasi dewan. (bae)


