BACAAJA, SOLO – Pemkot Solo mulai ancang-ancang ngebut di sektor pendidikan. Wali Kota Solo, Respati Ardi, menggelar rapat koordinasi bareng Dinas Pendidikan Surakarta buat nyusun road map pendidikan 2026, dengan dua fokus utama: kesejahteraan guru dan kualitas pembelajaran.
Nggak tanggung-tanggung, peningkatan ini bakal menyasar semua jenjang, mulai dari PAUD sampai SMP.
“Hari ini bersama jajaran Dinas Pendidikan kita membuat road map pendidikan termasuk kesejahteraan tenaga pendidik mulai dari guru PAUD sampai SMP. Kita pikirkan kesejahteraan yang layak sekaligus peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar serta pemenuhan sarana dan prasarana,” kata Respati, Rabu (4/2/2026).
Bacaaja: Peduli Kesehatan Mental, Respati akan Tambah Psikolog dan Upgrade Posyandu Plus di Solo
Bacaaja: Solo Sabet ASEAN Clean Tourist City Award, Respati: Kita Gak Main-main Soal Kebersihan
Selain ngomongin kesejahteraan, Respati juga spill rencana penambahan guru di sekolah negeri. Bahkan, tenaga pendamping buat pelajar disabilitas ikut jadi prioritas.
Targetnya jelas: bikin sekolah negeri makin kuat dan berani head-to-head sama sekolah swasta.
“Ini demi majunya pendidikan di Surakarta. Kita juga siapkan program unggulan di SMP supaya bisa bersaing dengan sekolah swasta,” jelasnya.
Kepala Dinas Pendidikan Surakarta, Dwi Ariyatno, nggak menampik kalau dunia pendidikan Solo lagi menghadapi potensi krisis tenaga pengajar.
Sampai akhir tahun, jumlah guru diprediksi bakal berkurang karena pensiun, mutasi, promosi, bahkan ada yang meninggal dunia.
“Pengurangan itu sudah kami proyeksikan dari Januari sampai Desember. Jadi kita harus siapkan skema pengganti supaya kelas tidak kosong dan layanan pendidikan tetap jalan,” paparnya.
Masalahnya, ada kebijakan larangan pengangkatan tenaga non-ASN yang bisa jadi batu sandungan. Tapi Pemkot nggak kehabisan akal.
Salah satu opsi yang lagi dikaji adalah skema kontrak jasa perorangan alias tenaga ahli pendidik, solusi biar kebutuhan mendesak tetap ketutup.
“Kami sudah konsultasi dengan bagian pengadaan dan itu dimungkinkan, tentu menyesuaikan kemampuan. Prioritas tetap pada kebutuhan paling mendesak, termasuk guru pendamping khusus,” tambah Dwi.
Butuh tambahan 286 guru
Secara hitungan kasar, Solo butuh tambahan sekitar 286 guru hingga akhir 2026. Tapi Respati minta perekrutan difokuskan dulu ke sektor yang paling krusial.
“Prioritasnya kebutuhan mendesak, termasuk guru pendamping khusus yang memang sudah dipetakan dan sangat dibutuhkan beberapa sekolah,” tandasnya.
Kalau roadmap ini beneran jalan mulus, bukan cuma guru yang makin sejahtera, kualitas pendidikan Solo juga berpotensi naik level.
Singkatnya: guru kuat, sekolah hebat, masa depan siswa ikut melesat. (*)


