BACAAJA, SEMARANG- Pemprov Jateng terus ngebut transformasi kearsipan. Hingga 2025, sebanyak 20 ribu arsip sejarah dan naskah kuno telah didigitalisasi agar lebih aman sekaligus gampang diakses masyarakat.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Jateng, Rahmah Nur Hayati menyebut, proses digitalisasi ini bukan kerja instan. Ada tahapan panjang yang harus dilewati, mulai dari verifikasi, perbaikan arsip yang rusak, sampai alih media ke format digital.
“Sebanyak 20 ribuan arsip kuno maupun sejarah didigitalisasi sepanjang 2025. Prosesnya itu berjalan lima tahun,” kata Rahmah di Semarang, Rabu, (21/1/2026). Arsip-arsip yang dialihmediakan ini punya nilai sejarah tinggi dan rentan rusak kalau terus disimpan dalam bentuk fisik.
Baca juga: Museum Kartun Indonesia Bakal Hadir di Kota Lama Semarang, Jadi Rumah Baru Buat Seni & Kreativitas
Lewat digitalisasi, dokumen-dokumen tersebut jadi lebih terlindungi sekaligus bisa diakses lebih luas. “Ini bagian dari transformasi kearsipan, seiring tuntutan era digital,” ujarnya.
Rahmah memastikan proses digitalisasi masih terus berjalan. Bahkan, 20 ribu arsip yang sudah didigitalisasi itu disebut telah mencakup lebih dari separuh total arsip statis yang dimiliki Jawa Tengah.
Menurutnya, digitalisasi bukan cuma soal menyelamatkan arsip lama, tapi juga meningkatkan fungsi layanan kearsipan agar lebih relevan dan bermanfaat bagi masyarakat.
Transformasi Digital
“Yang pasti kita meningkatkan fungsi dan layanan, baik dari tata kelola kearsipan, karena semuanya bertransformasi,” jelasnya. Saat ini, arsip digital Jawa Tengah sudah terhubung dengan Sistem Informasi Kearsipan Nasional (SIKN) dan Jaringan Informasi Kearsipan Nasional (JIKN). Sementara di tingkat provinsi, tersedia Sistem Informasi Arsip Statis (SiArtis) sebagai pintu akses arsip digital.
Selain fokus digitalisasi, Disarpus Jateng juga mendorong kolaborasi lintas sektor. Mulai dari perangkat daerah, sekolah, pondok pesantren, hingga perguruan tinggi ikut dilibatkan untuk memperkuat budaya literasi dan kesadaran kearsipan.
“Sasarannya luas, baik personal, masyarakat, pondok pesantren, sekolah, perangkat daerah, swasta, bahkan BUMD. Baik untuk literasi maupun kearsipan,” katanya.
Arsip kuno sekarang sudah online. Jadi kalau sejarah masih susah diakses, mungkin bukan karena zamannya, tapi karena kita yang belum mau klik. (tebe)


