BACAAJA, SEMARANG – Puasa itu bukan cuma urusan perut kosong seharian. Lebih dari itu, ini soal ngerem diri, ngerawat sikap, dan jaga batasan yang sudah diatur. Tapi muncul satu pertanyaan yang sering bikin orang mikir, kalau lagi puasa terus buka aurat, itu batal nggak sih?
Pertanyaan ini sempat dibahas oleh ulama asal Cirebon, KH Yahya Zainul Ma’arif, yang akrab disapa Buya Yahya. Dalam salah satu ceramahnya, ia menjelaskan dengan lugas dan gampang dipahami.
Lewat tayangan di kanal YouTube Al Bahjah TV, Buya Yahya menegaskan bahwa membuka aurat itu tidak membatalkan puasa. Artinya, secara hukum fikih, puasanya tetap sah.
Namun, ada catatan penting. Meski puasanya sah, membuka aurat tetaplah dosa. Dan dosa itu bisa saja lebih besar daripada pahala puasanya sendiri.
“Hukum wanita membuka aurat adalah tidak membatalkan puasanya, tapi dia telah melakukan dosa yang bisa jadi dosanya lebih banyak daripada pahala puasanya,” jelasnya dalam ceramah tersebut.
Penjelasan ini jadi pengingat bahwa sah dan diterima itu dua hal yang beda. Sah secara aturan belum tentu nilainya utuh di sisi Allah kalau masih dibarengi maksiat.
Buya Yahya bahkan memberi ilustrasi ekstrem agar mudah dipahami. Misalnya ada orang berpuasa tapi sengaja telanjang di tempat umum. Puasanya tetap dihitung sah, tapi dosanya besar sekali.
“Orang yang membuka aurat, misalnya ada yang berpuasa tetapi telanjang bulat di pinggir jalan, puasanya tetap sah. Tapi dosanya besar,” ungkapnya.
Jadi jelas, yang bikin puasa batal itu bukan soal aurat terbuka atau tidak. Yang membatalkan tetap hal-hal seperti makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari Ramadhan.
Lalu bagaimana dengan melihat aurat orang lain? Buya Yahya juga menjawab hal ini. Melihat aurat tidak membatalkan puasa, tapi tetap saja berdosa.
“Kalau kita melihat aurat seseorang, itu tidak membatalkan puasa kita. Tapi tetap dosa,” tegasnya.
Di sinilah letak pentingnya menjaga diri. Puasa bukan cuma tahan lapar dan haus, tapi juga menahan mata, lisan, dan perilaku dari hal-hal yang dilarang.
Kalau orang puasa tapi masih ringan membuka aurat, berkata kasar, atau menyakiti orang lain, bisa jadi yang didapat cuma capek dan lapar saja.
Rasulullah pun pernah mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus. Pesan ini jelas banget: jangan sampai ibadah jadi kosong makna.
Menutup aurat, baik laki-laki maupun perempuan, adalah bagian dari ketaatan yang berdiri sendiri. Bukan sekadar pelengkap, tapi kewajiban yang tetap berlaku, entah sedang puasa atau tidak.
Ramadhan seharusnya jadi momen upgrade diri. Kalau biasanya masih lalai soal aurat, justru di bulan puasa ini jadi waktu yang pas buat lebih disiplin.
Lingkungan juga berpengaruh. Kalau sekitar kita saling mengingatkan dan mendukung untuk berpakaian sopan, menjaga pandangan, suasana ibadah jadi lebih adem.
Intinya, buka aurat saat puasa tidak bikin puasanya otomatis batal. Tapi jangan santai juga, karena dosanya tetap jalan.
Puasa yang ideal itu bukan cuma sah di atas kertas hukum, tapi juga penuh nilai dan pahala. Jadi bukan cuma lulus syarat, tapi juga lulus kualitas.
Jangan sampai sibuk nanya batal atau nggak, tapi lupa nanya: puasanya berkah nggak? Karena pada akhirnya, yang dicari bukan cuma status sah, tapi ridha Allah dan hati yang makin bersih. (*)


