BACAAJA, SEMARANG – Dulu waktu kecil, istilah puasa bedug sering banget jadi bahan candaan. Siapa yang cuma kuat sampai Zuhur, langsung kena ledekan, “Ah, cuma puasa bedug!”
Padahal buat anak-anak yang baru belajar, nahan lapar setengah hari itu sudah perjuangan besar. Tapi suasana tongkrongan bocah kadang nggak peduli, yang penting seru-seruan.
Puasa bedug sendiri biasanya dilakukan dari Subuh sampai azan Zuhur, lalu lanjut lagi sampai Magrib. Model latihan ini memang identik dengan anak-anak yang belum baligh.
Menariknya, pengasuh LPD Al Bahjah Cirebon, KH Yahya Zainul Ma’arif, justru melihat puasa bedug dari sisi yang beda. Dalam salah satu kajiannya, ia menyebut praktik ini bagus dalam konteks pendidikan.
Lewat tayangan di kanal YouTube Al Bahjah TV, Buya Yahya menjelaskan bahwa mendidik anak puasa itu nggak boleh pakai cara keras. Harus ada sentuhan tarbiah, bukan sekadar hitam-putih fikih.
“Kalau kuat, silakan lanjut. Tapi kalau nggak kuat, jangan dipaksa. Tapi juga jangan dibiarkan dari pagi nggak puasa sama sekali,” ujarnya santai.
Menurutnya, tradisi puasa bedug lahir dari kebiasaan kampung yang sarat nilai pendidikan. Walau istilahnya nggak ada dalam kitab fikih, semangatnya ada dalam dunia tarbiah.
Anak yang dibiarkan bebas makan minum seharian tanpa belajar puasa, lama-lama bisa kehilangan rasa hormat pada Ramadhan. Di situ pentingnya latihan bertahap.
Buya Yahya mencontohkan, kalau anak lapar jam 9 pagi, boleh saja berbuka. Nanti coba lagi. Lapar lagi jam 12, boleh makan lagi. Tapi tetap ada aturan, bukan bebas sebebas-bebasnya.
“Ini bulan mulia, jadi tetap harus ada adabnya,” tegasnya.
Dari pola seperti itu, anak belajar disiplin pelan-pelan. Mereka tahu ini bukan hari biasa, ada suasana khusus yang harus dihormati.
Sahur pun tetap dianjurkan. Walau belum kuat puasa penuh, anak sebaiknya tetap dibangunkan untuk sahur supaya merasakan atmosfer Ramadhan.
Kalau siang hari anak kecil asyik jajan es krim tanpa rasa bersalah, kata Buya, itu bisa jadi tanda belum ada pendidikan tentang puasa di rumahnya.
Orang tua punya peran penting untuk menanamkan rasa hormat terhadap bulan suci. Bukan soal wajib atau tidaknya, tapi soal pembiasaan.
Ia juga mengingatkan, memaksa anak puasa penuh tanpa kesiapan bisa berbahaya secara psikologis. Bukannya cinta ibadah, malah jadi trauma.
Pendekatan yang lembut dan bertahap justru bikin anak merasa puasa itu menyenangkan. Mereka tumbuh dengan kenangan manis tentang Ramadhan.
Dalam konteks itu, puasa bedug bukan simbol kelemahan. Justru itu jembatan awal menuju puasa yang utuh saat sudah baligh nanti.
Tradisi ini seharusnya nggak lagi dipandang remeh. Di balik kesederhanaannya, ada strategi pendidikan yang bijak.
Ramadhan memang bukan cuma soal kuat-kuatan. Buat anak-anak, ini tentang belajar mengenal ibadah dengan hati riang.
Jadi kalau sekarang masih ada yang puasa bedug, nggak usah dicengin lagi. Bisa jadi, di situlah awal tumbuhnya cinta pada puasa yang sesungguhnya. (*)


