BACAAJA – Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Penandatanganan ini dilakukan usai pertemuan bilateral selama 30 menit di Washington DC, setelah acara Board of Peace, Kamis (19/2/2026).
Hasilnya? AS bakal tetap pasang tarif 19 persen buat produk-produk asal Indonesia yang masuk ke pasar mereka. Yes, sembilan belas persen.
Bacaaja: Tarif 0% Produk Asal AS Ancam Kedaulatan Pangan Indonesia
Bacaaja: Perjanjian Kemitraan ICA-CEPA Diteken; Kanada Siap Hapus 90,5% Tarif Impor Produk Indonesia
Info ini dikonfirmasi langsung lewat pengumuman resmi Gedung Putih. Dalam beberapa minggu ke depan, kedua negara bakal menyelesaikan prosedur dalam negeri masing-masing supaya perjanjian ini resmi berlaku penuh.
Nggak semua produk kena 19 persen
Tenang, nggak semua produk langsung kena tarif tinggi. Ada beberapa barang yang dikecualikan dan bakal dapat tarif 0 persen.
AS juga bilang bakal bikin mekanisme khusus supaya tekstil dan pakaian jadi dari Indonesia bisa masuk dengan tarif 0 persen. Tapi, ada syaratnya.
Skemanya pakai kuota. Dan kuota itu dihitung berdasarkan seberapa banyak produk tekstil Indonesia yang pakai kapas atau serat buatan asal Amerika.
Jadi bukan nol persen bebas tanpa aturan. Tetap ada hitung-hitungan.
Di balik kebijakan ini, ada soal defisit dagang. Tahun 2025, AS mencatat defisit perdagangan barang dengan Indonesia sampai US$23,7 miliar. Itu bikin Indonesia masuk daftar mitra dengan defisit terbesar ke-15 buat AS.
Sebelum deal ini, rata-rata tarif Indonesia ke produk AS sekitar 8 persen. Sementara rata-rata tarif AS ke Indonesia cuma 3,3 persen.
Sekarang, dengan skema resiprokal 19 persen, jelas ada perubahan besar dalam peta tarif.
Siapa untung, siapa buntung?
Di satu sisi, ada peluang lewat fasilitas 0 persen untuk produk tertentu. Di sisi lain, angka 19 persen jelas bukan kecil buat pelaku ekspor.
Buat pengusaha, ini berarti harus makin strategis. Buat pemerintah, ini soal menjaga neraca dagang tetap aman. Buat publik? Kita bakal lihat dampaknya pelan-pelan—apakah harga, ekspor, atau industri dalam negeri ikut terdampak.
Yang jelas, deal sudah diteken. Angkanya sudah fix. Sekarang tinggal lihat, ini jadi peluang baru atau malah jadi PR panjang ke depan. (*)


