Sobar Harahap, pengamat media dan peneliti sosial politik. Tinggal di Semarang.
“Ketika gaji 3 juta harus berkurang sekitar 350 ribu untuk bayar pajak motornya, Asep takutnya setengah mati.”
Meski sama sekali tidak gatal, Asep masih saja menggaruk-garuk kepalanya sambil sesekali mengelus-elus kening. Napasnya yang tersengal-sengal persis bunyi ban kempes yang dipompa. Bolak-balik Ia buka m-banking dan ngecek saldo. Tapi sayang, jumlah angkanya stagnan, enggak ada pergerakan sedikitpun.
Begitu juga dompetnya, lapisan kain pembatas di dalamnya lebih banyak dibanding isinya. Seolah-olah paham kondisi hati empunya, tidak satu pun gambar di lembaran uangnya yang berekspresi ceria. Semuanya flat. Datar tanpa keceriaan.
Asep ingin menangis sebenarnya. Ia sudah jengah dengan kepala yang rasanya makin berat. Teduhnya emper minimarket tidak mampu menenangkan hatinya. Dada yang sesak. Kening yang kencang. Tapi setelah beberapa kali mewek, tak ada setitik pun air yang keluar dari matanya.
Jengkellah ia. Ia mengeram lalu mengangkat handphone penuh emosi. Tangannya sudah siap membanting handphone sekencang-kencangnya. Tapi dalam hitungan sepersekian detik ia terperangah. Bayangan istrinya tiba-tiba muncul. Emosinya berubah menjadi ketakutan. Saat itu pula ia berpikir, ternyata istri lebih menakutkan dari kemiskinan.
Ketakutan itu pula yang membuat Asep kebingungan ngasih penjelasan ke istrinya. Meski istrinya bukan sarjana ekonomi, tapi jika soal uang perhitungannya 11-12 dengan Sri Mulyani. Ngeri. Bayangkan, uang 3 juta dari gaji bulanan Asep, diolah sedemikian rupa oleh istrinya sehingga bisa untuk biaya hidup empat manusia.
Itu sudah termasuk makan dan minum sehari tiga kali, uang saku dan jajan dua anak, arisan, angsuran motor beserta BBM-nya, belanja kebutuhan rumah tangga mulai dari sabun mandi, sampo, pasta gigi, minyak goreng, gas, gula, kopi dan tetek bengek lainnya. Bahkan sampai menabung pun sesekali bisa dia anggarkan.
Maka istrinya pernah mencak-mencak ketika Asep memintanya untuk bekerja. “Lha rumangsamu ngolah duit 3 juta ben cukup kanggo urip sebulan iku ora kerjo?” Maka ketika gaji 3 juta harus berkurang sekitar 350 ribu untuk bayar pajak motornya, Asep takutnya setengah mati. Soalnya biasanya Asep bayar cuma sekitar 200-250 ribu. Asep sempat marah ketika temannya meledek, “Halah, cuma 150 saja kok. Gak masalah.”
Bagi Asep, terlebih lagi bagi istrinya, uang 150 ribu itu sangat sangat berarti. “Jangan kamu pandang 150 ribunya, tapi pandanglah 3 jutanya. Jika kamu bilang 150 itu sedikit, uang 3 juta itu juga sangat sedikit untuk hidup kami berempat selama sebulan.”
Asep masih saja duduk termenung di emper minimarket. Tanpa jajan, tanpa makan dan tanpa teman. Sempat Ia berpikir betapa berat hidupnya, tapi di seberang ada lelaki tua duduk bersandar pohon di pedestrian. Ketika ia ingin mengasih iba, Asep teringat nasibnya. Teringat uang 3 juta yang sudah tidak genap. Urung ia bersedekah.
“Biarlah. Kalau pun ada yang bilang aku tidak manusiawi, akan kujawab, lebih tidak manusiawi ratusan atau ribuan orang yang dari tadi lewat. Toh mereka juga cuek.” Selain itu, lagi-lagi Asep terbayang wajah istrinya. “Kalau kamu kasihan melihat orang lain susah, kasihanilah dulu aku dan anak-anakmu yang sudah susah.”
Dengan satu tarikan napas, Asep akhirnya mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia bertekad memberi penjelasan pada istrinya, apa pun risikonya. Kalau pun harus mencari penghasilan tambahan, ia siap untuk bekerja apa pun, seberat apa pun.
Bagi Asep, segala susah payah akan ia hadapi asal bukan omelan istri. Bukannya Asep tidak kepikiran untuk mangkir dari pajak, tapi ia teringat sekolah anak-anaknya. Teringat kelancaran kerjanya. Teringat biaya pengobatan ibunya. Belum lagi, ia teringat segala rentetan denda yang bakal dikenakan padanya.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


