BACAAJA, SEMARANG- Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (Pertani HKTI) Jawa Tengah ngadain panen raya di Kelurahan Polaman, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Rabu (5/11). Dua hektare sawah penuh padi jenis M70D dipanen bareng-bareng, hasil dari benih dan pupuk bantuan HKTI Pusat.
“HKTI terus cari solusi buat setiap masalah di sektor pertanian. Termasuk bantu lewat benih unggul M70D yang bisa panen cuma dalam 45 hari,” kata Ketua Pertani HKTI Jateng, Nur Faisah, sambil menegaskan komitmennya dukung ketahanan pangan daerah.
Tapi di balik panen ceria, muncul satu keluhan klasik: irigasi yang nggak maksimal.
“Ini tadi ada laporan soal irigasi. Kami bakal langsung koordinasi dengan pemerintah biar bisa segera ditangani,” lanjut Nur Faisah.
Belum Memadai
Lurah Polaman, Hadi Priyanto, juga angkat bicara. Menurutnya, sebagian besar warganya masih hidup dari sawah, tapi pengairannya belum memadai. “Kami sudah sering lapor ke dinas, tapi belum ada solusi. Harapan kami, HKTI bisa bantu dorong pemerintah buat bangun irigasi,” ujarnya.
Faktanya, Kecamatan Mijen masih termasuk zona produktif di Kota Semarang. Tahun ini aja, Bulog udah nyerap produksi padi setara 4.740 ton dari sini. Tapi potensi itu bisa mandek kalau airnya tetap seret dan lahan terus berubah fungsi.
Dari Dinas Pertanian Kota Semarang, Irene Natalia Siahaan ngasih apresiasi buat para petani yang tetap semangat. Tapi dia juga ngingetin: “Kalau mau swasembada pangan, semua pihak harus kompak, dari benih, pupuk, sampai irigasi harus jalan bareng,” ucapnya. Jadi, panen boleh raya, tapi kalau air masih malu-malu, hasilnya bisa tinggal cerita. (tebe)


