BACAAJA, INDIA – Situasi keamanan di India tengah kembali memanas. Pasukan keamanan India dilaporkan menewaskan 14 pemberontak Maois dalam dua bentrokan terpisah yang terjadi di negara bagian Chhattisgarh, Sabtu (3/1/2026).
Dua baku tembak itu terjadi saat aparat menggelar operasi penyisiran di wilayah pedalaman yang selama ini dikenal sebagai basis kelompok Naxalite. Operasi ini jadi bagian dari upaya besar pemerintah India untuk menekan pemberontakan Maois yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Bentrok pertama pecah di kawasan hutan Basaguda–Tarrem, Kabupaten Bijapur. Sementara bentrokan kedua terjadi di hutan Konta–Kistaram, Kabupaten Sukma, sekitar ratusan kilometer dari ibu kota negara bagian, Raipur.
Kepolisian Chhattisgarh menyebut operasi dilakukan setelah tim District Reserve Guard menerima laporan intelijen soal pergerakan kelompok Maois. Saat penyisiran dimulai sejak pagi, baku tembak pun tak terhindarkan.
Hasilnya, 12 jenazah pemberontak ditemukan di wilayah Sukma dan dua lainnya di Bijapur. Hingga operasi selesai, tidak ada laporan korban dari pihak pasukan keamanan.
Kelompok Maois atau Naxalite dikenal sebagai gerakan bersenjata yang mengklaim memperjuangkan hak masyarakat adat di wilayah kaya sumber daya alam. Namun, konflik berkepanjangan ini telah menelan lebih dari 10 ribu korban jiwa selama beberapa dekade.
Selain menewaskan para pemberontak, pasukan keamanan juga mengamankan sejumlah senjata. Di lokasi bentrokan ditemukan senapan serbu AK-47, INSAS, senapan self-loading, serta berbagai jenis amunisi.
Wilayah Sukma dan Bijapur sendiri sudah lama masuk zona merah konflik Maois. Daerah ini pernah menjadi pusat aktivitas ekstremisme sayap kiri di kawasan Bastar, Chhattisgarh selatan.
Operasi ini menjadi pembuka di awal 2026, setelah sepanjang 2025 aparat India mengklaim berhasil menewaskan ratusan pemberontak dan membuat ribuan lainnya menyerahkan diri.
Pemerintah India pun optimistis. Targetnya jelas, kekerasan Maois ingin benar-benar diakhiri pada Maret 2026 seiring melemahnya kekuatan kelompok bersenjata tersebut.
Gerakan Naxalite yang bermula dari desa Naxalbari enam dekade lalu kini disebut tinggal menyisakan kantong-kantong kecil perlawanan. Meski begitu, operasi keamanan disebut bakal terus digencarkan hingga target tercapai. (*)


