BACAAJA, SEMARANG – Olahraga memang salah satu kunci hidup sehat, apalagi buat menjaga jantung tetap kuat. Aktivitas fisik rutin bisa bantu menurunkan tekanan darah, memperbaiki kolesterol baik, sampai menekan risiko stroke dan penyakit serius lainnya. Tapi buat penderita jantung, olahraga nggak bisa asal pilih dan asal ngegas.
Bukan berarti orang dengan gangguan jantung harus stop olahraga total. Justru tubuh tetap butuh gerak supaya sirkulasi darah lancar dan stamina terjaga. Hanya saja, ada beberapa jenis olahraga yang sebaiknya dihindari karena bisa bikin kerja jantung terlalu berat.
Latihan seperti sit-up dan push-up sering dianggap aman karena tanpa alat. Padahal, buat penderita jantung, gerakan ini bisa memicu lonjakan tekanan darah yang cukup tajam. Para ahli bahkan menyarankan latihan ini dihindari jika kondisi jantung belum stabil.
Mengangkat beban berat juga masuk daftar yang perlu diwaspadai. Setelah serangan jantung, dokter biasanya membatasi angkat beban hanya beberapa kilogram saja. Beban berat bisa bikin jantung bekerja ekstra keras dalam waktu singkat.
Berenang memang kelihatan santai dan sering direkomendasikan sebagai olahraga sehat. Tapi di dalam air, jantung justru bekerja lebih keras karena aliran darah berubah dan ada tekanan dari air. Kalau intensitasnya terlalu tinggi, risiko justru bisa meningkat.
Latihan isometrik seperti plank juga perlu perhatian khusus. Gerakan menahan posisi tanpa banyak gerak ini bisa membuat tekanan darah naik perlahan tapi signifikan. Buat penderita jantung, kondisi ini jelas bukan kabar baik.
Lari juga bukan hal yang sepenuhnya dilarang, tapi intensitasnya harus dijaga. Lari jarak jauh atau kecepatan tinggi bisa memicu gangguan irama jantung. Patokan amannya, masih bisa ngobrol tanpa kehabisan napas saat berlari.
Bukan cuma olahraga, aktivitas harian berat juga bisa berbahaya. Mendorong benda berat, mengangkat kardus besar, atau bahkan mendorong mobil bisa memberi tekanan mendadak pada jantung. Aktivitas ini sering diremehkan, padahal risikonya nyata.
Latihan HIIT yang lagi tren juga sebaiknya dihindari dulu. Pola olahraga intensitas tinggi ini bisa memicu pusing, nyeri dada, bahkan gangguan irama jantung pada penderita penyakit jantung. Efektif buat bakar lemak, tapi risikonya tidak kecil.
Intinya, olahraga tetap penting, tapi harus tahu batas. Setiap kondisi jantung itu beda-beda, jadi jangan samakan diri sendiri dengan orang lain. Sebelum mulai atau ganti jenis olahraga, ngobrol dulu dengan dokter supaya tetap sehat tanpa nekat. (*)


