BACAAJA, SEMARANG – Menjelang bulan suci, banyak orang mulai beres-beres bukan cuma rumah, tapi juga diri sendiri. Salah satu yang sering dilakukan adalah mandi wajib sebelum masuk hari pertama puasa Ramadhan.
Tradisi ini di beberapa daerah dikenal dengan istilah padusan. Intinya sederhana, pengin menyambut Ramadhan dalam kondisi suci dan lebih siap secara lahir batin.
Tapi perlu diluruskan dulu, mandi wajib bukan syarat sah puasa. Jadi kalau seseorang belum mandi saat masuk waktu Subuh, puasanya tetap sah selama sudah niat dan tidak melakukan hal yang membatalkan.
Yang dianjurkan para ulama, kalau memang dalam kondisi hadas besar, sebaiknya segera mandi sebelum Subuh supaya bisa sholat dan ibadah lainnya dalam keadaan suci.
Dalam hadis disebutkan bahwa Muhammad pernah memasuki waktu fajar dalam keadaan junub, lalu mandi setelahnya dan tetap melanjutkan puasa. Artinya, junub saat fajar tidak otomatis membatalkan puasa.
Istilah mandi sebelum puasa Ramadhan sering dipakai untuk dua hal. Pertama, mandi sunnah untuk menyambut bulan suci. Kedua, mandi wajib bagi yang memang sedang berhadas besar.
Kalau mandi sunnah, tujuannya lebih ke simbol kesiapan diri. Semacam reset sebelum masuk bulan penuh ampunan.
Sedangkan mandi wajib dilakukan karena ada sebab, seperti mimpi basah, berhubungan suami istri, selesai haid atau nifas, dan kondisi lain yang menyebabkan hadas besar.
Banyak orang memilih mandi lebih dulu sebelum puasa pertama karena merasa lebih tenang. Rasanya seperti membuka lembaran baru dengan tubuh dan hati yang bersih.
Untuk yang memang wajib mandi, niatnya dibaca saat mulai mengguyurkan air ke tubuh:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ اْلحَدَثِ اْلأَكْبَرِ مِنَ اْلِجنَابَةِ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى
Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari minal janabati fardhan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari janabah, fardhu karena Allah Ta’ala.”
Kalau hanya ingin mandi sunnah menyambut Ramadhan dan tidak dalam keadaan hadas besar, niatnya berbeda:
نَوَيْتُ أَدَاءَ اْلغُسْلِ اْلمَسْنُوْنِ لِيْ فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ مِنْ رَمَضَانَ لله تَعَالَى
Nawaitu adâ’al ghuslil masnûni lî fî hadzihil lailatil min romadhona lillâhi ta’âlâ.
Artinya: “Aku berniat menjalankan mandi yang disunnahkan kepadaku pada malam ini di bulan Ramadhan karena Allah Ta’ala.”
Soal tata caranya, mandi wajib nggak bisa asal guyur. Dimulai dari niat, mencuci tangan, membersihkan bagian yang kotor, berwudu seperti hendak sholat, lalu memastikan seluruh tubuh terkena air secara merata.
Bagian lipatan seperti belakang telinga, leher, dan sela-sela tubuh juga jangan sampai terlewat. Karena sah atau tidaknya mandi tergantung air yang benar-benar merata ke seluruh badan.
Setelah selesai, dianjurkan membaca doa:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ
Asyhadu an laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa Rasuluhu, allahumma-jalni minattawwabina, waj-alni minal-mutathahirrina.
Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku bagian dari orang-orang yang senantiasa bertobat dan termasuk golongan orang yang selalu menjaga kesucian diri.”
Akhirnya, niat mandi wajib sebelum puasa Ramadhan bukan cuma soal formalitas. Ini tentang kesiapan hati, tentang kesungguhan menyambut bulan yang istimewa.
Karena Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi momen untuk benar-benar membersihkan diri, luar dan dalam. (*)


