BACAAJA, JAKARTA- Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sekaligus Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri menyampaikan ucapan selamat atas penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran.
Ucapan tersebut disampaikan melalui surat yang diberikan kepada Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, saat bertemu di kediaman Megawati di Menteng.
Megawati mengaku senang karena Iran kini kembali memiliki pemimpin setelah masa transisi pascakematian ayah Mojtaba, Ali Khamenei. “Ini adalah surat kedua, saya merasa gembira karena Iran sekarang sudah punya pemimpin kembali,” ujar Megawati dalam keterangannya, Rabu (11/3/2026).
Baca juga: Media AS Laporkan Arab Saudi-Israel Dorong Trump Serang Iran, Begini Tanggapan Riyadh
Dalam pertemuan tersebut, Megawati didampingi sejumlah petinggi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, di antaranya Hasto Kristiyanto, Ahmad Basarah, Yasonna Laoly, Eriko Sotarduga, serta Andi Widjajanto.
Sebelumnya, pada 3 Maret 2026, Megawati Soekarnoputri juga telah mengirimkan surat belasungkawa kepada pemerintah Iran atas wafatnya Ali Khamenei.
Pemimpin tertinggi Iran tersebut dilaporkan tewas setelah serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Dalam pertemuan itu, Megawati bahkan memperlihatkan foto lama saat dirinya melakukan kunjungan resmi ke Teheran pada 2004 dan bertemu langsung dengan Ali Khamenei.
“Ini bukti saya punya hubungan persahabatan dengan almarhum Ayatollah Ali Khamenei,” kata Megawati. Pertemuan dengan Dubes Iran berlangsung hangat selama lebih dari satu jam. Sebelum berpisah, Megawati juga memberikan cendera mata berupa kemeja tenun ikat khas Bali kepada Mohammad Boroujerdi.
Pemimpin Tertinggi
Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran oleh Assembly of Experts, lembaga ulama tertinggi di negara tersebut. Penunjukan itu diumumkan pada 9 Maret 2026, sekitar sepekan setelah kematian ayahnya.
Beberapa nama sempat muncul sebagai kandidat kuat, di antaranya Alireza Arafi, Mohsen Araki, serta Hassan Khomeini, cucu dari pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini.
Namun pada akhirnya, Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama memilih Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Transisi ini menjadi momen penting dalam sejarah politik Iran. Sebab sebelumnya lembaga tersebut hanya sekali mengawasi pergantian pemimpin tertinggi, yakni pada 1989 saat Ali Khamenei menggantikan Ruhollah Khomeini.
Baca juga: Drama Politik Masuk Lapangan: Iran Mundur dari Piala Dunia 2026
Di tengah dunia yang lagi tegang oleh konflik geopolitik, diplomasi kadang datang lewat cara yang sederhana: surat ucapan selamat dan cendera mata. Politik global boleh panas, tapi urusan etika diplomasi tetap jalan, minimal dimulai dari kalimat klasik: “Selamat atas jabatan barunya.” Kadang memang begitu… sebelum pembicaraan serius dimulai, basa-basi dulu yang harus rapi. (tebe)


