BACAAJA, JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai terasa geliatnya di sejumlah sektor usaha. Namun, efek ekonominya ternyata belum menyebar merata ke sektor yang selama ini jadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Program tersebut memang ikut mengerek sektor akomodasi serta makanan dan minuman. Tapi, menurut analis, kenaikan itu belum otomatis berarti MBG sudah berhasil menggerakkan industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan secara signifikan.
Analis Ekonomi Politik Lab 45, Nadia Restu Utami, menilai ada yang perlu dicermati dari pola pertumbuhan tersebut. Sebab, tiga sektor utama yang seharusnya ikut terdorong justru belum menunjukkan lonjakan yang sebanding.
Nadia mengatakan sektor akomodasi serta makanan dan minuman memang mencatat pertumbuhan cukup tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS), kata dia, juga mengaitkan pertumbuhan sektor tersebut dengan pelaksanaan program MBG.
“Ternyata akomodasi makanan dan minuman itu tumbuh drastis. Dan BPS bilang itu karena adanya MBG,” ujar Nadia melalui kanal YouTube Bambang Widjojanto, Kamis (20/8/2026).
Meski begitu, Nadia mengingatkan agar dampak MBG terhadap ekonomi tidak dilihat hanya dari ramainya bisnis makanan. Menurutnya, efek program tersebut idealnya bisa menjalar lebih jauh ke sektor produksi dan rantai pasok.
Ia menyebut industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan sebagai tiga sektor yang mestinya ikut mendapat dorongan kuat. Ketiganya selama ini punya peran penting sebagai penggerak ekonomi dari sisi lapangan usaha.
“Harusnya yang ditopang atau digalakkan, didorong itu adalah industri sektor pengolahan kemudian pertanian dan ketiga adalah perdagangan,” jelas Nadia.
Namun, kondisi di lapangan dinilai belum menunjukkan pola seperti yang diharapkan. Pertumbuhan ketiga sektor tersebut belum terlihat lebih besar hanya karena adanya program MBG.
Menurut Nadia, hal ini menjadi catatan penting bagi pemerintah. Jangan sampai dampak ekonomi MBG hanya berhenti di hilir, sementara sektor yang memproduksi bahan pangan dan mengolah berbagai kebutuhan program justru belum ikut terkerek.
Ia menilai kontribusi MBG yang saat ini paling gampang terlihat memang berada di sektor makanan dan minuman. Pasalnya, program tersebut banyak melibatkan pelaku UMKM serta usaha yang bergerak langsung dalam penyediaan makanan.
“Dengan kata lain MBG justru tidak meningkatkan pertumbuhan di sektor yang tiga tadi,” kata Nadia.
Karena itu, pemerintah dinilai perlu melihat rantai ekonomi MBG secara lebih utuh. Mulai dari petani dan pemasok bahan pangan, industri pengolahan, distribusi, perdagangan, sampai pelaku usaha yang menyajikan makanan untuk penerima manfaat.
Jika rantai tersebut bisa tersambung dengan baik, MBG bukan cuma menjadi program pemenuhan gizi. Efeknya juga berpotensi lebih terasa terhadap aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
Sebaliknya, jika perputaran anggaran lebih banyak berhenti di sektor makanan dan minuman, dampak terhadap mesin ekonomi nasional bakal tetap terbatas. Evaluasi soal siapa yang paling banyak mendapat manfaat dari program ini pun menjadi penting dilakukan. (*)

