Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: MBG Prasmanan di Sleman Sisakan 3,3 Kg Makanan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

MBG Prasmanan di Sleman Sisakan 3,3 Kg Makanan

Nugroho P.
Last updated: Oktober 8, 2026 5:01 pm
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
ilustrasi model baru MBG, menggunakan sistem prasmanan. (foto istimewa)
SHARE

BACAAJA, YOGYAKARTA – Model baru layanan Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dites di dua sekolah di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kali ini, makanan tidak langsung dibagikan dalam bentuk porsi jadi, melainkan disajikan dengan konsep prasmanan agar siswa bisa mengambil makanan sesuai kebutuhannya.

Contents
Masakan Tetap dari Dapur SPPGSisa Makanan Jadi Bahan Evaluasi

Uji coba ini digelar Badan Gizi Nasional (BGN) lewat Kedeputian Sistem dan Tata Kelola. Selain melihat respons siswa dan guru, BGN juga ingin mengukur seberapa efektif model prasmanan dari sisi keamanan pangan, kenyamanan, kebersihan sampai jumlah makanan yang tersisa.

Hasil awalnya cukup positif. Tingkat kepuasan siswa dan guru dalam uji coba tersebut mencapai skor 5 dari 5, sementara total makanan yang tersisa dari dua sekolah hanya tercatat 3,3 kilogram.

Uji coba MBG prasmanan ini melibatkan SPPG Sleman Turi Bangunkerto 2 dengan sasaran siswa SDN Soprayan serta SPPG Polda DIY yang melayani SD Muhammadiyah Bantar.

Pelaksanaan pilot project tersebut dijadwalkan berlangsung pada 5-16 Oktober 2026. Jadwal ini mengikuti ketetapan yang sudah dibuat BGN pusat untuk pengujian model layanan MBG prasmanan.

Koordinator Regional BGN DIY Wirandita Gagat Widyatmoko mengatakan, total penerima manfaat dalam uji coba mencapai 106 siswa. Rinciannya, 59 siswa kelas 4 sampai 6 SDN Soprayan dan 47 siswa kelas 5 serta 6 SD Muhammadiyah Bantar.

Masakan Tetap dari Dapur SPPG

Meski konsep penyajiannya prasmanan, proses memasak tidak dipindahkan ke sekolah. Seluruh makanan tetap diolah secara terpusat di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Setelah selesai dimasak, makanan kemudian dikirim langsung ke sekolah masing-masing. Di lokasi, SPPG menyiapkan food tray yang sudah disterilkan untuk digunakan para penerima manfaat.

Gagat menjelaskan, sistem tersebut tetap diterapkan untuk menjaga standar keamanan dan kebersihan makanan. Dengan begitu, perubahan model penyajian tidak mengubah alur utama pengolahan makanan di dapur SPPG.

Uji coba ini memang bukan sekadar melihat apakah siswa suka mengambil makanan sendiri. BGN juga ingin memastikan setiap tahapan layanan tetap memenuhi standar yang sudah ditetapkan.

Dari sisi keamanan dan higienitas, hasil uji organoleptik di dua lokasi dinyatakan layak. Kepatuhan siswa dalam menggunakan alat pelindung diri (APD) juga cukup tinggi, mencapai 99 persen.

Respons dari penerima manfaat pun disebut sangat positif. Siswa dan guru memberikan penilaian maksimal terhadap pelaksanaan layanan dalam uji coba tersebut.

Sisa Makanan Jadi Bahan Evaluasi

Salah satu hal yang ikut diperhatikan BGN adalah food waste atau makanan yang tidak habis dikonsumsi. Dari dua sekolah yang menjadi lokasi pilot project, total sisa makanan mencapai 3,3 kilogram.

Di SDN Soprayan, sisa makanan tercatat sebanyak 1,6 kilogram. Sementara di SD Muhammadiyah Bantar, jumlahnya sedikit lebih tinggi, yakni 1,7 kilogram.

Angka tersebut tidak sekadar dicatat lalu selesai. BGN akan menggunakannya sebagai bahan evaluasi untuk membaca pola makan sekaligus mengetahui menu seperti apa yang lebih disukai penerima manfaat.

Data sisa makanan juga bisa menjadi gambaran apakah porsi yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan siswa. Dari sini, model prasmanan bisa terus disesuaikan agar makanan yang disediakan tidak banyak terbuang.

Menurut Gagat, pilot project ini juga dirancang untuk menguji beberapa aspek sekaligus. Mulai dari keamanan pangan, higiene, kenyamanan pelayanan, tingkat kepuasan penerima manfaat hingga pengendalian food waste.

Lokasi SPPG dan sekolah yang digunakan dalam uji coba sudah ditentukan berdasarkan arahan serta ketetapan pelaksanaan pilot project dari BGN.

Hasil pelaksanaan di lapangan nantinya akan menjadi bahan BGN untuk menyempurnakan model layanan MBG dengan sistem prasmanan. Evaluasi tidak hanya menyentuh soal penyajian, tetapi juga alur pelayanan dan standar kebersihan.

BGN ingin model tersebut bisa dikembangkan berdasarkan data nyata, bukan sekadar asumsi. Karena itu, setiap temuan selama masa uji coba akan menjadi bagian dari evaluasi sebelum konsep tersebut dikembangkan lebih jauh.

Gagat mengatakan pengembangan model layanan MBG perlu dilakukan secara terukur dengan melihat kondisi yang benar-benar terjadi di lapangan. Dengan cara tersebut, setiap perubahan bisa dibuat berdasarkan kebutuhan penerima manfaat.

Harapannya, sistem MBG prasmanan ke depan bisa memberikan pengalaman makan yang lebih nyaman bagi siswa. Di saat yang sama, kualitas makanan, keamanan pangan dan kebersihan tetap menjadi prioritas.

Uji coba ini juga menjadi cara BGN melihat apakah konsep prasmanan mampu berjalan efektif di lingkungan sekolah. Jika hasil evaluasinya dinilai baik, temuan tersebut dapat menjadi bahan untuk pengembangan model layanan MBG berikutnya.

Pada akhirnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari makanan yang sampai ke siswa. Seberapa aman makanan, seberapa nyaman layanan, seberapa banyak yang dikonsumsi dan seberapa sedikit yang terbuang juga ikut menjadi ukuran penting. (*)

You Might Also Like

4 Turis Spanyol Hilang di Pulau Padar, Tim SAR: Mereka Satu Keluarga

Keracunan MBG, Prabowo Sebut Masalah Besar: Jangan Sampai Dipolitisasi

Susi Pudjiastuti Buka-bukaan Soal Mental Maling Pejabat, Publik Riuh

Korban Dugaan Keracunan MBG Karo Sulit Bicara

Kemarau Bikin Waswas, Ribuan Warga Cilacap Mulai Antre Air Bersih

TAGGED:MBGMBG Prasmanananmodel layanan MBGsisa makanan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Trauma Bullying Bisa Pulih, Begini Cara Bangkit
Next Article Komisi II Tunggu Salinan Putusan MK soal Gibran

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kasus Bullying di Pemalang Disorot, Pemprov: CCTV Jangan Cuma Jadi Pajangan

Mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng periode 2003–2013, Dr. Sos. Drs. KH. Muhammad Adnan, M.A., meninggal dunia pada Rabu (7/10/2026) malam di RS Samsoe Hidajat, Semarang. (Dok. Maarif NU Jawa Tengah)

Kiai Adnan, Mantan Ketua PWNU Jateng dan Sosok Akademisi Itu Telah Wafat

Tim PKM FK Unnes Kawal Kesehatan Ternak hingga Daging Kurban di Magelang

Usai Asian Games, Takraw Jateng Bidik Tiga Emas PON 2028

Giant Sea Wall Belum Berdiri, Mangrove Diminta Jadi Pasukan Pertama Jaga Pantura

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Politik

Pilkada Emang Banyak Masalah, tapi Bukan Lempar ke DPRD Solusinya

Desember 30, 2025
Olahraga

Catur Semarang Naik Kelas, Tapi Yunior Putri Masih Jadi PR

September 13, 2026
Info

Viral Banget, Begini Fakta Dibalik Truk Ngelawan Takdir di Rel Kaligawe

Oktober 22, 2025
Info

Petasan Makan Korban: Ledakan Dini Hari di Tambakrejo Renggut Satu Nyawa

Maret 20, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: MBG Prasmanan di Sleman Sisakan 3,3 Kg Makanan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?