BACAAJA, YOGYAKARTA – Kisah sederhana dari lingkar pertemanan justru jadi titik awal lahirnya inovasi yang nggak biasa. Seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada melihat langsung bagaimana temannya berjuang dengan kesehatan mental, tapi di sisi lain juga menyaksikan betapa mudahnya akses layanan psikologi di luar negeri. Dari situ, muncul ide yang kemudian berkembang jadi solusi berbasis teknologi.
Pengalaman itu terjadi saat ia mengikuti program pertukaran mahasiswa di Inggris. Di sana, layanan konseling terasa begitu dekat—cukup lewat ponsel, mahasiswa bisa langsung ngobrol dengan tenaga profesional. Hal ini kontras dengan kondisi di Indonesia yang masih menghadapi keterbatasan akses dan jumlah tenaga psikolog yang belum seimbang dengan kebutuhan.
Mahasiswa tersebut adalah Giga Hidjrika Aura Adkhy, yang kemudian mengembangkan inovasi bernama UGM-AICare atau yang akrab disebut Aika. Inovasi ini bukan sekadar aplikasi biasa, tapi dirancang sebagai teman virtual berbasis kecerdasan buatan yang bisa diajak ngobrol layaknya manusia.
Lewat Aika, pengguna bisa menyampaikan keluhan tanpa harus merasa canggung. Sistemnya dibuat seolah-olah pengguna sedang curhat dengan teman sendiri, bukan dengan mesin. Ini jadi poin penting, karena banyak orang masih merasa malu atau ragu untuk langsung menemui psikolog.
Menariknya, Aika nggak cuma mendengar, tapi juga menganalisis. Dari percakapan yang terjadi, sistem akan mengidentifikasi kondisi psikologis pengguna dan memberikan respons yang sesuai. Kalau keluhannya ringan, Aika akan memberikan saran sederhana seperti teknik relaksasi atau pengaturan pola istirahat.
Namun jika masalah yang dihadapi lebih kompleks, Aika nggak tinggal diam. Sistem ini langsung mengarahkan pengguna ke psikolog profesional, sehingga penanganannya bisa lebih tepat dan cepat. Di sinilah Aika berperan sebagai jembatan, bukan pengganti manusia.
Berbeda dari AI generatif yang biasanya hanya merespons secara pasif, Aika dirancang sebagai AI agent yang lebih aktif dan mandiri. Artinya, sistem ini bisa mengambil langkah lanjutan berdasarkan analisis yang sudah dilakukan, bukan sekadar menjawab pertanyaan.
Cara kerjanya pun dibuat mendekati metode psikolog. Aika akan menggali cerita dari pengguna, memahami konteks masalah, lalu menyusun rangkuman yang berisi penilaian awal hingga rekomendasi. Hasil ini kemudian bisa diteruskan ke psikolog untuk ditindaklanjuti.
Dalam penggunaannya, Aika melibatkan tiga peran utama. Mahasiswa sebagai pengguna utama, psikolog atau konselor sebagai pihak yang menerima laporan dan memberikan penanganan, serta admin yang mengelola sistem secara keseluruhan.
Konsep ini membuat alur layanan jadi lebih efisien. Psikolog tidak perlu memulai dari nol karena sudah mendapat gambaran awal dari Aika. Sementara mahasiswa juga merasa lebih siap karena sudah lebih dulu “bercerita” melalui platform tersebut.
Selain itu, Aika juga dilengkapi fitur pemantauan setelah sesi konseling. Pengguna akan mendapatkan pengingat melalui email untuk menjaga konsistensi perawatan mental mereka. Ke depan, sistem ini bahkan direncanakan terhubung dengan platform komunikasi seperti Telegram.
Integrasi tersebut memungkinkan terbentuknya support group antar pengguna. Jadi, mereka yang memiliki pengalaman serupa bisa saling menguatkan, tanpa harus merasa sendirian menghadapi masalahnya.
Salah satu keunggulan lain dari Aika adalah soal privasi. Banyak orang enggan mencari bantuan karena takut ceritanya tersebar. Dengan sistem ini, pengguna bisa lebih leluasa menyampaikan apa yang dirasakan tanpa tekanan sosial.
Inovasi ini juga jadi jawaban atas hambatan psikologis yang sering muncul, seperti rasa takut dihakimi atau dianggap lemah. Dengan pendekatan berbasis AI, proses awal jadi terasa lebih ringan dan tidak mengintimidasi.
Giga menyebut bahwa tujuan utama dari pengembangan Aika bukan hanya sebagai proyek akademik, tapi juga bentuk kontribusi nyata untuk meningkatkan kesadaran kesehatan mental di kalangan mahasiswa.
Upaya ini pun membuahkan hasil membanggakan. Aika berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi internasional EDU Chain Hackathon 2025, sebuah ajang bergengsi yang diikuti berbagai inovator dari berbagai negara.
Penghargaan tersebut jadi bukti bahwa solusi berbasis empati dan teknologi bisa berjalan beriringan. Bahkan, ide yang berangkat dari masalah sederhana bisa berkembang menjadi inovasi berdampak luas.
Ke depan, pengembangan Aika masih akan terus dilakukan. Mulai dari peningkatan akurasi analisis hingga perluasan fitur agar semakin banyak orang bisa merasakan manfaatnya.
Harapannya, teknologi seperti ini bisa jadi pintu masuk bagi mereka yang selama ini ragu mencari bantuan. Karena kadang, langkah pertama memang yang paling sulit.
Dengan adanya Aika, proses itu jadi lebih mudah, lebih dekat, dan terasa lebih manusiawi. Sebuah langkah kecil, tapi punya potensi besar untuk mengubah cara kita memandang kesehatan mental.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan penuh tekanan, inovasi seperti ini hadir sebagai pengingat bahwa teknologi bukan cuma soal kecanggihan, tapi juga tentang kepedulian. (*/ugm.ac.id)

