BACAAJA, WONOSOBO – Arus kunjungan wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru di Wonosobo terpantau relatif terkendali. Meski ada naik-turun di sejumlah destinasi, situasinya masih aman dan tidak memicu kepadatan berlebihan.
Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo menunjukkan kunjungan wisata periode 20–25 Desember 2025 tersebar cukup merata. Beberapa objek wisata memang mengalami penurunan dibanding tahun lalu, tapi ada juga yang justru mencatat lonjakan pengunjung.
Kepala Disparbud Wonosobo, Fahmi Hidayat, menyebut fluktuasi ini hal yang wajar. Menurutnya, cuaca, panjang libur, hingga selera wisatawan sangat memengaruhi pilihan destinasi.
“Yang penting semua tempat wisata tetap berjalan dengan aman, nyaman, dan pelayanannya terjaga,” ujar Fahmi, Kamis (25/12/2025) sore.
Taman Rekreasi Kalianget tercatat dikunjungi 1.903 wisatawan selama Nataru 2025. Angka ini turun sekitar 36 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 2.958 pengunjung.
Penurunan serupa juga terjadi di Gelanggang Renang Mangli. Total pengunjung tercatat 500 orang, turun sekitar 32 persen dari tahun 2024 yang mencapai 735 orang.
Waduk Wadaslintang pun mengalami kondisi yang hampir sama. Jumlah kunjungan turun sekitar 30 persen, dari 495 wisatawan di tahun sebelumnya menjadi 345 wisatawan pada Nataru kali ini.
Kawasan Dataran Tinggi Dieng masih jadi primadona wisata Wonosobo. Total kunjungan mencapai 10.760 wisatawan, meski angka ini turun sekitar 21 persen dibanding tahun lalu yang tembus 13.663 kunjungan.
Di tengah penurunan di sejumlah lokasi, kabar positif datang dari Telaga Menjer. Destinasi wisata alam ini justru menunjukkan tren yang cukup menggembirakan.
Wisata Bukit Telaga Menjer yang dikelola Pemda Wonosobo mencatat 3.602 kunjungan selama Nataru 2025. Angka tersebut naik sekitar 25 persen dibanding tahun 2024 yang berada di kisaran 2.885 wisatawan.
Lonjakan ini dinilai sebagai tanda meningkatnya minat wisatawan pada wisata alam yang menawarkan panorama tenang dan suasana santai. Telaga Menjer dianggap cocok untuk pelancong yang ingin “healing” tanpa hiruk pikuk.
Fahmi menambahkan, pihaknya terus melakukan evaluasi agar daya tarik wisata Wonosobo tetap kompetitif. Strategi promosi, pengelolaan destinasi, dan kualitas layanan menjadi fokus utama.
“Ke depan kami dorong inovasi atraksi wisata, penguatan event, dan kolaborasi dengan pengelola serta masyarakat,” pungkasnya. Harapannya, pariwisata Wonosobo bisa tumbuh stabil dan berkelanjutan, tidak cuma ramai saat musim liburan. (*)

