BACAAJA, SEMARANG- Laga antara PSIS Semarang melawan Persiku Kudus di Stadion Wergu Wetan, Sabtu (11/4/2026), jadi gambaran paling nyata situasi genting yang lagi dialami Laskar Mahesa Jenar.
Dari awal, pertandingan ini memang nggak mudah. Persiku tampil pede di depan pendukung sendiri, bahkan lebih dominan dalam penguasaan bola. Tapi PSIS sempat nunjukin kelasnya.
Menit ke-24, Beto Goncalves buka keunggulan. Striker senior itu masih nunjukin insting tajamnya, dapat celah sedikit, langsung jadi gol. Belum selesai di situ, Rafinha nambah keunggulan di menit 45+7. Skor 2-0 di babak pertama jadi modal yang harusnya cukup aman.
Baca juga: PSIS Pulang Bawa Satu Poin
Apalagi PSIS datang nggak dengan skuad terbaik. Beberapa pemain kunci absen, tapi justru di situ mereka main lebih disiplin dan efektif. Masalahnya, sepak bola nggak berhenti di 45 menit.
Keunggulan dua gol yang harusnya jadi pegangan, pelan-pelan hilang. Persiku bangkit, tekanan meningkat, dan PSIS mulai kehilangan kontrol. Hasil akhirnya? Nggak ada kemenangan. Poin penuh yang sudah di depan mata harus lepas, diganti satu angka yang terasa “kurang”.
Pelatih PSIS Semarang, Andri Ramawi mengapresiasi para anak asuhnya yang sudah berjuang keras di kandang Macan Muria. Andri memberikan apresiasi tinggi terhadap daya juang anak asuhnya.
Catatan Berharga
‘’Meski gagal mengamankan tiga poin, tapi kami sempat unggul dua gol di babak pertama. Semangat pantang menyerah pemain ini dari awal babak hingga menit akhir menjadi catatan paling berharga bagi kami,’’ ungkapnya, seusai laga.
Dan di klasemen, satu poin itu belum cukup bikin aman. Persiba Balikpapan masih terus membayangi di zona bawah. Jarak tipis, tekanan tebal. Artinya jelas: PSIS lagi nggak punya margin buat salah.
Kalau lawan Persiku aja sudah bikin deg-degan, laga berikutnya jauh lebih berat. Persipura Jayapura sudah menunggu. Dan ini bukan sekadar pertandingan biasa.
Persipura punya pengalaman, mental, dan kualitas yang bisa ngebalikkan situasi kapan saja. Buat PSIS, ini bukan cuma soal strategi, tapi soal mental bertahan di bawah tekanan. Tanggal 18 April 2026 nanti bisa jadi titik balik atau justru titik jatuh.
Baca juga: Pincang, PSIS Tetap Bidik Kemenangan
“Saat ini kami fokus menatap sisa pertandingan di putaran ketiga Liga 2,’’ tandas Andri. Selain menghadapi Persipura, Laskar Mahesa Jenar masih memiliki dua laga tersisa. Laga kandang kontra Tirnado FC (25/4) dan bertandang ke Sleman menghadapi PSS (2/5).
PSIS sekarang kayak lagi pegang tiket lolos, tapi tangannya licin, sedikit saja lengah, langsung jatuh. Lawan Persipura nanti bukan cuma soal menang atau kalah, tapi soal siapa yang benar-benar siap “war” sampai akhir. Kalau masih gampang kehilangan fokus, jangan kaget kalau yang hilang bukan cuma poin… tapi juga harapan. (tebe)

