BACAAJA, SEMARANG- Suasana khidmat terasa di halaman parkir Rumah Sakit Roemani Semarang, Jumat (20/3/2026). Ribuan jamaah memadati lokasi sejak pagi buat melaksanakan Shalat Idulfitri.
Di tengah momen sakral itu, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Prof Rozihan menyampaikan pesan yang cukup “nendang”: jangan berhenti berbagi cuma karena Ramadan sudah selesai.
Baca juga: Muhammadiyah Gelar Puluhan Titik Shalat Idulfitri di Semarang, Ini Lokasinya
Menurutnya, banyak orang masih nganggep ibadah itu cuma soal ritual, shalat, puasa, selesai. Padahal, kata dia, level takwa justru kelihatan dari seberapa peduli kita ke orang lain. “Indikator puasa kita diterima itu simpel: takwa kita naik atau enggak,” ujarnya.
Ia menyinggung konsep Al-Atqa, level takwa tertinggi yang bukan diukur dari seberapa rajin ibadah sunnah, tapi dari keikhlasan dalam berbagi. Bahkan, ia nyebut istilah Jawa yang relate banget: nyah-nyoh, alias ringan tangan bantu orang lain.
Paket Komplit
Lebih jauh, ia mengingatkan kalau dalam Alquran, perintah shalat hampir selalu “ditemenin” sama zakat dan infak. Artinya, spiritual dan sosial itu paket komplit, nggak bisa dipisah. “Shalat jalan, tapi pelit? Ya belum lengkap,” kira-kira begitu garis besarnya.
Sementara itu, panitia pelaksana, Slamet Widodo menyebut, jumlah jemaah yang hadir mencapai sekitar 3.000 orang dari berbagai wilayah sekitar. Meski digelar di area rumah sakit, kegiatan tetap berjalan tertib.
Baca juga: Baru, Prediksi Idul Fitri 2026 NU, Muhammadiyah, dan Lembaga Pemerintah
Akses ambulans dan pasien juga tetap aman karena panitia sudah menyiapkan jalur khusus. Jadi ibadah tetap jalan, pelayanan kesehatan juga nggak keganggu.
Lebaran emang identik sama baju baru, opor, dan THR. Tapi kalau kata Prof Rozihan, upgrade terbesar justru bukan di outfit, melainkan di level kepedulian. Soalnya, percuma hati sudah “fitri”, kalau dompet masih “mode hemat ekstrem”. (tebe)


