Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Italia Satu Kelas dengan Indonesia, Tidak Lolos Piala Dunia 2026
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Italia Satu Kelas dengan Indonesia, Tidak Lolos Piala Dunia 2026

Redaktur Opini
Last updated: April 1, 2026 12:36 pm
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Sobar Harahap, pengamat media dan peneliti sosial politik. Tinggal di Semarang.

Semua foya-foya dan lupa menjaga stamina. Satu per satu pun berguguran. Mulai dari pemain, pelatih, klub sampai federasi. Serie A pun jadi liga paling buluk. Timnas Italia jadi timnas besar paling buruk.

 

Judul tulisan di atas memang tidak enak dibaca. Setidaknya membuat dahi kita mengernyit sambil bilang, “apaan sih membandingkan Timnas Indonesia dengan Italia, norak banget.”

Tapi begitulah realitanya. Italia benar-benar menyusul Indonesia untuk jadi negara ke sekian yang tidak lolos Piala Dunia 2026. Dalam konteks ini Italia akhirnya satu kelas dengan negara kita meski mereka juara piala dunia sebanyak 4 kali, yaitu pada 1934, 1938, 1982, dan 2006.

Jika melihat perjalanan mereka, ada perbedaan satu fase yang dilalui kedua negara. Italia baru saja gugur di fase play-off setelah dikalahkan Bosnia. Sementara Indonesia sudah tersingkir di fase sebelumnya, yakni putaran ke empat.

Data itu memang tidak memuat pernyataan bahwa Timnas Indonesia sudah setara dengan Italia. Tapi setidaknya dari catatan perjalanan kualifikasi Piala Dunia 2026 kita bisa berkaca, tim dengan sejarah mentereng pun bisa tersingkir di babak kualifikasi. Apalagi tim seperti Indonesia yang tidak pernah menorehkan sejarah apa pun di belantara sepak bola internasional.

Dengan kegagalan ini, Italia sudah mencatatkan rekornya tersendiri. Mereka jadi satu-satunya tim nasional dengan koleksi 4 juara Piala Dunia yang gagal masuk Piala Dunia tiga kali secara beruntun. Tragis.

Apakah kita layak sedih atau kecewa dengan kegagalan Italia? Saya rasa sih tidak. Jujur, secara pribadi tidak ada satu pemain dari Italia yang saya tunggu penampilannya di Piala Dunia. Atau setidaknya tidak ada pemain Italia yang ingin saya tonton penampilannya.

Beda misalnya dengan Norwegia dengan Erling Haaland, Prancis dengan Kylian Mbappé, Hugo Ekitiké, Ousmane Dembélé, Aurélien Tchouaméni, dll. Spanyol dengan Fernando Torres, Lamine Yamal, Dani Olmo, Dean Huijsen, dll. Bahkan saya lebih menunggu penampilan Timnas Turki yang menampilkan Arda Güler dan Hakan Çalhanoğlu. Bahkan Mesir pun juga pasti lebih ditunggu dengan sihir Mo Salah.

Atau kamu bisa menyebutkan siapa pemain Italia yang layak kita tunggu penampilannya di Piala Dunia? Apakah dia bermain di Madrid, Barcelona, Liverpool, Arsenal, Muenchen atau MU? Paling kan cuma Gianluigi Donnarumma yang kita tahu, plus Sandro Tonali. Cuma dua nama itu yang mentereng di luar Italia. Kalau pun ada lagi paling Cuma Nicolò Barella, Moise Bioty Kean dan Mateo Retegui. Lainnya? Ya pemain-pemain semenjana apa adanya di Serie A.

Merosotnya kualitas Serie A sering dijadikan biang kerok bobroknya Timnas Italia. Jika kita penggemar bola kita akan langsung tahu betapa mengenaskannya liga itu. Padahal dulu semua pertandingan di Serie A Italia selalu dinanti-nanti pecinta bola di seluruh dunia. Pada era 80-90-an, Serie A merupakan tempat berkumpulnya striker-striker mematikan. Ada Maradona di sana, ada Van Basten, Weah, Baggio, Batistuta, Ronaldo Nazario, Crespo, Del Piero, Totti, Salvatore, Bierhoff, dan Inzaghi.

Di sektor gelandang ada seniman-seniman bola yang memanjakan mata. Mulai Rijkaard, Platini, Zico, Socrates, Ancelotti, Gullit, Rui Costa, Zidane, Albertini, Donadoni, Rui Costa, Conte, Simeone, Veron, Recoba, Matthaus, Boban sampai Tardelli.

Dan yang paling membuat Serie A semakin ditakuti lawannya dari liga-liga lain ialah sektor pertahanannya. Di era itu bek-bek tangguh dunia berjejer di sana. Mulai dari Thuram, Cafu, Maldini, Baresi, Desailly, Nesta, Bergomi, Samuel, Ferrara, Montero, Blanc sampai Mihajlovic, Couto dan Pancaro. Lini pertahanan ini masih diperkuat dengan kiper yang luar biasa. Mulai dari Buffon, Toldo, Abbiati, Galli, Peruzzi, Rossi, Pagliuca sampai Zenga.

Era itu masih dilanjut era 2000-an dengan datangnya Shevchenko, Kaka, Adriano, Martins, Ibrahimovic, Nedved, De Rossi, iaquinta, Toni, Seedorf, Gattuso, Pirlo, Davids, Recoba dan lain sebagainya.

Serie A adalah tempat berkumpulnya pesepak bola kelas dewa dengan kekuatan tim hampir merata. Pesepak bola mana pun ingin bermain dan merasakan atmosfernya. Puncaknya, Serie A memberi dampak positif bagi perjalanan timnas Italia dengan menjadi runner up Euro 2000 dan Juara Piala Dunia 2006.

Tapi kejayaan yang berlebihan itu membuat jalan cerita Serie A layaknya drama Cina. Banyak intrik di sini dan di sana. Semua bisa diatur bergantung apa yang dikehendaki sang donatur.  Mulai dari klub, pelatih, pemain, agen, federasi, sampai hasil akhir pertandingan.

Judi menjadi raja. Klub, pelatih, dan pemain turut bergelimang harta. Semua foya-foya dan lupa menjaga stamina. Satu per satu pun berguguran. Mulai dari pemain, pelatih, klub sampai federasi. Hasilnya, pasca-meraih juara dunia, Italia harus tertatih dan terseok-seok. Serie A jadi liga paling buluk, timnas Italia jadi timnas besar paling buruk.

Dengan segala yang dialami Italia itu saya jadi berpikir, “Oh, pantas Timnas Indonesia jadi seperti ini. Nasib yang menimpa kita sama dengan Timnas Italia.” Liga dan pemain dihancurkan oleh judi dan gaya hidup. Ya, beruntung saja Indonesia tidak punya sejarah sepak bola mentereng. Jadi tidak ada alasan bagi rakyat dunia untuk mem-bully kita. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Efek Buruk Candaan Negatif yang Dinormalisasikan

Rupanya Begini Rasanya Menjadi Pasangan Muda yang Baru Menikah

Meromantisasi Nikah Muda di Medsos adalah Tindakan yang Memprihatinkan

Makan Bergizi Gratis, Tapi Rakyatnya Masuk IGD

Jangan Salahkan Gadget, Tetapi Bangun Kognisi Remaja agar Terbiasa Membaca

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). ASN Bisa Long Weekend Tiap Pekan? WFH pada Hari Jumat Resmi Diterapkan
Next Article Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Iran Siap Akhiri Perang, Teheran Ajukan Dua Poin Peting sebagai Syarat

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.

Iran Siap Akhiri Perang, Teheran Ajukan Dua Poin Peting sebagai Syarat

Italia Satu Kelas dengan Indonesia, Tidak Lolos Piala Dunia 2026

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN).

ASN Bisa Long Weekend Tiap Pekan? WFH pada Hari Jumat Resmi Diterapkan

Polisi menunjukkan barang bukti TPPU investasi bodong sarang burung walet, Selasa (31/3/2026). (ist)

Nggak Ngotak, Penipuan dan Cuci Uang Bermodus Bisnis Sarang Walet Bikin Rugi Rp78 M

Reaksi pemain timnas Italia setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2026.

Italia: dari ‘Raja Dunia’ jadi Tim Semenjana, 3 Kali Beruntun Gagal Lolos ke Piala Dunia

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Teguran dari Muhammad Iqbal Terkait Agama, Iman, dan Kemiskinan

Januari 12, 2026
Presiden Prabowo merombak kabinet dengan mencopot lima menteri, termasuk Sri Mulyani dan Budi Arie. Langkah ini dinilai sebagai konsolidasi politik, sekaligus melepaskan bayang Jokowi. Publik menanti, apakah reshuffle ini akan bawa perubahan nyata atau sekadar ganti nama. Foto: dok.
Opini

Dari Reshuffle, Prabowo Mulai Lepas Bayang Jokowi, Siapa Masuk Siapa Tersingkir?

September 15, 2025
Opini

Surat Terbuka untuk Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Maret 2, 2026
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membentuk Tim Transformasi Reformasi Kepolisian di saat Presiden Prabowo juga sedang membentuk Tim Reformasi Kepolisian dari eksternal kepolisian. Foto: dok.
Opini

Polisi Masa Kini: Antara Transformasi Serius dan Upgrade Aplikasi yang Masih Loading

September 15, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Italia Satu Kelas dengan Indonesia, Tidak Lolos Piala Dunia 2026
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?