Sobar Harahap, pengamat media dan peneliti sosial politik. Tinggal di Semarang.
Semua foya-foya dan lupa menjaga stamina. Satu per satu pun berguguran. Mulai dari pemain, pelatih, klub sampai federasi. Serie A pun jadi liga paling buluk. Timnas Italia jadi timnas besar paling buruk.
Judul tulisan di atas memang tidak enak dibaca. Setidaknya membuat dahi kita mengernyit sambil bilang, “apaan sih membandingkan Timnas Indonesia dengan Italia, norak banget.”
Tapi begitulah realitanya. Italia benar-benar menyusul Indonesia untuk jadi negara ke sekian yang tidak lolos Piala Dunia 2026. Dalam konteks ini Italia akhirnya satu kelas dengan negara kita meski mereka juara piala dunia sebanyak 4 kali, yaitu pada 1934, 1938, 1982, dan 2006.
Jika melihat perjalanan mereka, ada perbedaan satu fase yang dilalui kedua negara. Italia baru saja gugur di fase play-off setelah dikalahkan Bosnia. Sementara Indonesia sudah tersingkir di fase sebelumnya, yakni putaran ke empat.
Data itu memang tidak memuat pernyataan bahwa Timnas Indonesia sudah setara dengan Italia. Tapi setidaknya dari catatan perjalanan kualifikasi Piala Dunia 2026 kita bisa berkaca, tim dengan sejarah mentereng pun bisa tersingkir di babak kualifikasi. Apalagi tim seperti Indonesia yang tidak pernah menorehkan sejarah apa pun di belantara sepak bola internasional.
Dengan kegagalan ini, Italia sudah mencatatkan rekornya tersendiri. Mereka jadi satu-satunya tim nasional dengan koleksi 4 juara Piala Dunia yang gagal masuk Piala Dunia tiga kali secara beruntun. Tragis.
Apakah kita layak sedih atau kecewa dengan kegagalan Italia? Saya rasa sih tidak. Jujur, secara pribadi tidak ada satu pemain dari Italia yang saya tunggu penampilannya di Piala Dunia. Atau setidaknya tidak ada pemain Italia yang ingin saya tonton penampilannya.
Beda misalnya dengan Norwegia dengan Erling Haaland, Prancis dengan Kylian Mbappé, Hugo Ekitiké, Ousmane Dembélé, Aurélien Tchouaméni, dll. Spanyol dengan Fernando Torres, Lamine Yamal, Dani Olmo, Dean Huijsen, dll. Bahkan saya lebih menunggu penampilan Timnas Turki yang menampilkan Arda Güler dan Hakan Çalhanoğlu. Bahkan Mesir pun juga pasti lebih ditunggu dengan sihir Mo Salah.
Atau kamu bisa menyebutkan siapa pemain Italia yang layak kita tunggu penampilannya di Piala Dunia? Apakah dia bermain di Madrid, Barcelona, Liverpool, Arsenal, Muenchen atau MU? Paling kan cuma Gianluigi Donnarumma yang kita tahu, plus Sandro Tonali. Cuma dua nama itu yang mentereng di luar Italia. Kalau pun ada lagi paling Cuma Nicolò Barella, Moise Bioty Kean dan Mateo Retegui. Lainnya? Ya pemain-pemain semenjana apa adanya di Serie A.
Merosotnya kualitas Serie A sering dijadikan biang kerok bobroknya Timnas Italia. Jika kita penggemar bola kita akan langsung tahu betapa mengenaskannya liga itu. Padahal dulu semua pertandingan di Serie A Italia selalu dinanti-nanti pecinta bola di seluruh dunia. Pada era 80-90-an, Serie A merupakan tempat berkumpulnya striker-striker mematikan. Ada Maradona di sana, ada Van Basten, Weah, Baggio, Batistuta, Ronaldo Nazario, Crespo, Del Piero, Totti, Salvatore, Bierhoff, dan Inzaghi.
Di sektor gelandang ada seniman-seniman bola yang memanjakan mata. Mulai Rijkaard, Platini, Zico, Socrates, Ancelotti, Gullit, Rui Costa, Zidane, Albertini, Donadoni, Rui Costa, Conte, Simeone, Veron, Recoba, Matthaus, Boban sampai Tardelli.
Dan yang paling membuat Serie A semakin ditakuti lawannya dari liga-liga lain ialah sektor pertahanannya. Di era itu bek-bek tangguh dunia berjejer di sana. Mulai dari Thuram, Cafu, Maldini, Baresi, Desailly, Nesta, Bergomi, Samuel, Ferrara, Montero, Blanc sampai Mihajlovic, Couto dan Pancaro. Lini pertahanan ini masih diperkuat dengan kiper yang luar biasa. Mulai dari Buffon, Toldo, Abbiati, Galli, Peruzzi, Rossi, Pagliuca sampai Zenga.
Era itu masih dilanjut era 2000-an dengan datangnya Shevchenko, Kaka, Adriano, Martins, Ibrahimovic, Nedved, De Rossi, iaquinta, Toni, Seedorf, Gattuso, Pirlo, Davids, Recoba dan lain sebagainya.
Serie A adalah tempat berkumpulnya pesepak bola kelas dewa dengan kekuatan tim hampir merata. Pesepak bola mana pun ingin bermain dan merasakan atmosfernya. Puncaknya, Serie A memberi dampak positif bagi perjalanan timnas Italia dengan menjadi runner up Euro 2000 dan Juara Piala Dunia 2006.
Tapi kejayaan yang berlebihan itu membuat jalan cerita Serie A layaknya drama Cina. Banyak intrik di sini dan di sana. Semua bisa diatur bergantung apa yang dikehendaki sang donatur. Mulai dari klub, pelatih, pemain, agen, federasi, sampai hasil akhir pertandingan.
Judi menjadi raja. Klub, pelatih, dan pemain turut bergelimang harta. Semua foya-foya dan lupa menjaga stamina. Satu per satu pun berguguran. Mulai dari pemain, pelatih, klub sampai federasi. Hasilnya, pasca-meraih juara dunia, Italia harus tertatih dan terseok-seok. Serie A jadi liga paling buluk, timnas Italia jadi timnas besar paling buruk.
Dengan segala yang dialami Italia itu saya jadi berpikir, “Oh, pantas Timnas Indonesia jadi seperti ini. Nasib yang menimpa kita sama dengan Timnas Italia.” Liga dan pemain dihancurkan oleh judi dan gaya hidup. Ya, beruntung saja Indonesia tidak punya sejarah sepak bola mentereng. Jadi tidak ada alasan bagi rakyat dunia untuk mem-bully kita. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


