BACAAJA, KENDAL- Suara mesin meraung, motor berjibaku menaklukkan lintasan, dan para rider adu nyali sampai batas kemampuan. Namun, di balik keseruan Gubernur Cup Jateng PETE Indonesia Hard Enduro #1, ada cerita lain yang tak kalah menarik: warga sekitar ikut kecipratan rezeki.
Digelar di Argon Enduro Park, Desa Sidomukti, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, Minggu, (11/10/2026), ajang ini bukan sekadar panggung pembuktian para pencinta motor trail. Ramainya peserta dan penonton ikut menggerakkan usaha penginapan, kuliner, hingga pedagang kecil di sekitar lokasi.
Ketua Pelaksana, Arif Yulianto, bahkan menyebut penginapan milik warga kebagian limpahan pengunjung. “Alhamdulillah, homestay-homestay di sini pada laris semuanya,” kata Arif.
Nah, ini baru efek domino yang terasa sampai ke kantong warga. Penonton datang, peserta membawa keluarga, perut mulai keroncongan, lalu warung dan pedagang lokal mendapat kesempatan menambah pemasukan.
Baca juga: Menpora-Menpar Dukung Sport Tourism
Panitia juga menyediakan ruang berjualan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat. Harapannya, acara otomotif tak cuma meninggalkan jejak ban di lintasan, tetapi juga perputaran uang di lingkungan sekitar. “Kami ingin memastikan bahwa keberadaan event ini juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat lokal,” ujarnya.
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi mengapresiasi penyelenggaraan kompetisi tersebut. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga ruang untuk mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat. “Inilah bentuk solidaritas kebersamaan antara masyarakat,” kata Luthfi.
Kegiatan itu turut menjadi kesempatan bagi jajaran pemerintah provinsi, kabupaten, hingga desa untuk berkumpul dan berinteraksi langsung dengan warga.
Tak hanya berisi deru mesin dan adu ketangkasan, acara tersebut juga diwarnai santunan kepada anak yatim serta penanaman pohon. Jadi, ada pesan sosial dan kepedulian lingkungan yang ikut dibawa di tengah kompetisi otomotif.
Sport Tourism
Arif mengatakan, ajang ini memang dirancang untuk ikut mengembangkan sport tourism atau pariwisata berbasis olahraga di Jawa Tengah. Kendal dinilai punya karakter alam dan lintasan menantang yang menarik bagi komunitas hard enduro.
Jika dikemas secara berkelanjutan, kompetisi semacam ini berpotensi memperkenalkan destinasi lokal sekaligus menghidupkan usaha warga. Bukan cuma penginapan dan warung makan, tetapi juga perdagangan di sekitar kawasan acara.
Hingga Minggu pagi, tercatat sementara 135 peserta mengikuti kompetisi tersebut. Jumlahnya masih berpotensi bertambah. Salah seorang peserta, Fido, mengaku sudah sering mengikuti ajang hard enduro. Ia menilai lintasan di Kendal kali ini seru sekaligus menantang.
“Saya sudah sering ikut hard enduro seperti ini. Trek kali ini seru dan menantang banget. Harapannya, ke depan semakin banyak acara seperti ini dan hadiahnya juga lebih besar,” ujar Fido.
Baca juga:
Gubernur Cup Jateng Hard Enduro memberi gambaran bahwa sebuah kompetisi bisa punya manfaat lebih luas daripada sekadar menentukan siapa yang paling cepat atau paling tangguh di lintasan. Ketika pengunjung datang dan transaksi ikut bergerak, warga punya peluang merasakan manfaat langsung.
Namun, pekerjaan rumahnya belum selesai ketika mesin dimatikan dan para rider pulang. Sport tourism perlu agenda yang konsisten, promosi yang tepat, serta ruang bagi UMKM lokal untuk terus berkembang.
Sebab, kalau homestay baru laris saat ada balapan, sementara setelahnya kembali sepi, yang ngebut mungkin cuma motor di trek. Ekonomi warga tetap butuh jalan panjang agar bisa ikut melaju. (tebe)

