BACAAJA, BANJARNEGARA– Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) mengajak seluruh organisasi guru di daerah untuk berbenah dan bertransformasi agar mampu menjawab tantangan pendidikan abad ke-21 yang makin kompleks dan dinamis.
Pesan itu disampaikan Ketua Departemen Pembinaan dan Pengembangan Lembaga Pendidikan PB PGRI, James Frans Tomasow, saat menjadi narasumber seminar di Rumah Guru PGRI Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Rabu, (4/2/2026).
Baca juga: Huruf Cemerlang Ario Bawa Guru Cantik Banjarnegara Jadi Juara Porsenijar Jateng
“Pemimpin PGRI hari ini bukan cuma memimpin organisasi atau sekolah. Tantangannya lebih besar, membangun ekosistem pendidikan. Dan itu nggak bisa dihadapi dengan cara-cara lama,” tegas James.
Menurutnya, sebagai organisasi profesi guru terbesar di Indonesia, PGRI punya peran strategis untuk mendorong perubahan tata kelola pendidikan. Mulai dari manajemen organisasi, pola pembelajaran, sampai cara merespons perkembangan teknologi, tuntutan global, dan perubahan sosial yang bergerak cepat.
James menilai, masih banyak sekolah dan organisasi PGRI yang bertahan dengan pola lama. Padahal, model tersebut sudah kurang relevan dengan kondisi saat ini. “Transformasi itu harus serius dan berbasis data. Bukan sekadar ikut tren lalu berhenti di tengah jalan,” ujarnya.
Konsistensi Kepemimpinan
Ia mengingatkan, perubahan setengah-setengah justru berbahaya karena membuat organisasi mudah kembali ke pola lama. Karena itu, dibutuhkan kepemimpinan yang tegas dan konsisten agar transformasi benar-benar berjalan berkelanjutan.
Kegiatan seminar tersebut diikuti puluhan pengurus PGRI serta Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP) Kabupaten Banjarnegara. Dalam kesempatan yang sama, PB PGRI juga menyerahkan bantuan seperangkat alat podcast kepada PGRI Kabupaten Banjarnegara.
Bantuan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi karena Banjarnegara menjadi daerah dengan peserta terbanyak dalam Diklat daring Guru Indonesia Maraton Belajar (Gemar). Perangkat podcast tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi organisasi, berbagi praktik baik pendidikan, sekaligus menguatkan literasi digital di lingkungan PGRI.
Baca juga: 2026, Status Honorer Guru Semarang Resmi Tamat
Sementara itu, Ketua PGRI Kabupaten Banjarnegara, Heling Suhono, menyatakan kesiapan jajarannya untuk meninggalkan cara lama dan mulai menerapkan pengelolaan organisasi yang lebih tertib, inovatif, dan adaptif.
Ia menyebut, PGRI Banjarnegara juga tengah mendorong kemandirian organisasi lewat pembentukan koperasi sebagai unit usaha, agar tidak terus bergantung pada iuran anggota. “Kami ingin sekolah-sekolah PGRI di Banjarnegara berkembang menjadi sekolah unggulan yang dipercaya dan diminati masyarakat,” katanya.
Kalau murid dituntut melek teknologi, gurunya juga harus berani upgrade cara berpikir. Sebab di abad ke-21, yang ketinggalan bukan yang kurang pintar, tapi yang masih nyaman dengan cara lama. (tebe)


