BACAAJA, MANADO – Gempa bumi tektonik dengan kekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah laut di tenggara Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada Kamis, (2/4) pukul 05.48 WIB.
Dampak gempa bikin Kota Manado, yang merupakan Ibu Kota Sulut, porak-poranda. Tercatat, 1 korban meninggal dunia tertimpa Gedung KONI Manado yang ambruk.
Guncangan gempa di Manado dirasakan lebih dari 1 menit. Otomatis dong, warga langsung berhamburan keluar setelah gempa terjadi.
Bacaaja: Gempa Pacitan Hentikan Perjalanan Kereta Api, Getaran Terasa sampai Jateng
Bacaaja: Breaking News! Pacitan Diguncang Gempa Pagi Ini, Getarannya Terasa Sampai Semarang
“Gempa ini kuat sekali, bahkan bunyi kuat dari beberapa perabotan rumah tangga kami,” kata Deysi, salah itu ibu rumah tangga di Kelurahan Malalayang, Kota Manado.
Berdasarkan data BMKG, pusat gempa berada pada koordinat 1,25 LU dan 126,25 BT dengan kedalaman 62 kilometer.
2.200 warga mengungsi
Gempa tak hanya terasa di wilayah Provinsi Sulut. Dampak gempa juga sampai Maluku Utara (Malut). Sekitar 460 kepala keluarga (KK) atau kurang lebih 2.200 warga di Pulau Mayau terpaksa mengungsi ke pegunungan setelah muncul peringatan tsunami dan gempa susulan yang masih terasa, Kamis (2/4/2026).
Warga yang mengungsi didominasi anak-anak, perempuan, hingga lansia. Mereka memilih menjauh dari pesisir demi cari tempat yang lebih aman.
Camat Batang Dua, Robyanto Koloca, mengatakan sampai saat ini warga masih terus bergerak menuju dataran tinggi.
“Warga masih terus mengungsi, mereka takut karena tanah di sini masih terasa bergetar,” ujarnya.
Meski gempa susulan yang terjadi berkekuatan kecil, getarannya tetap bikin warga waswas.
Kepanikan makin menjadi setelah warga melihat air laut tiba-tiba surut, fenomena yang sering dikaitkan dengan potensi tsunami.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Bitung jadi pemicu utama situasi ini.
Warga di wilayah Mayau dan Liliwi langsung berlarian ke gunung tanpa pikir panjang.
Meski BMKG sudah mencabut peringatan dini tsunami, sebagian besar warga memilih tetap bertahan di pengungsian.
Mereka bahkan mendirikan tenda sementara di area pegunungan dan belum berani kembali ke rumah.
Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, menyebut fenomena air laut surut jadi alasan utama warga masih bertahan.
“Warga masih berlindung di gunung karena khawatir potensi tsunami,” jelasnya.
Situasi ini bikin aktivitas warga lumpuh sementara. Banyak yang memilih stay di pengungsian sampai kondisi benar-benar dinyatakan aman.
Walau status tsunami sudah dicabut, rasa trauma dan takut masih terasa.
Intinya, meski ancaman mulai mereda, warga Pulau Mayau masih pilih main aman. Dalam kondisi kayak gini, keselamatan jelas jadi prioritas utama. (*)


