BACAAJA, SEMARANG- Strategi pengelolaan aset milik Bapenda Provinsi Jawa Tengah sukses menarik perhatian DPRD Kalimantan Selatan. Hal ini terlihat dari kunjungan kerja Panitia Khusus (Pansus) I DPRD Kalsel ke Semarang, Jumat (27/3/2026).
Kunjungan ini bukan sekadar formalitas, tapi bagian dari studi komparasi untuk membahas perubahan regulasi pajak dan retribusi daerah. Fokus utamanya: gimana caranya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa cuma mengandalkan pajak.
Ketua Pansus I DPRD Kalsel, Muhamad Yani Helmi terang-terangan mengaku tertarik dengan pendekatan Jateng, terutama soal memaksimalkan aset yang sudah ada. “Yang menarik itu pemanfaatan aset. Tanah dan bangunan punya potensi besar kalau dikelola dengan benar,” ujarnya.
Baca juga: Bos Baru Bank Jateng Resmi Dilantik, Gubernur: Aset Sudah Tembus Rp100 Triliun, Gas Terus!
Menurut Helmi, konsep ini sangat mungkin diterapkan di Kalimantan Selatan. Bahkan, ia menyinggung contoh konkret yang selama ini mungkin “terlewat”: gedung sekolah.
Bayangin aja, gedung SMA atau SMK yang biasanya kosong di luar jam belajar bisa disewakan buat acara, mulai dari kegiatan masyarakat sampai resepsi pernikahan.
“Kalau satu gedung bisa disewa dua-tiga kali sebulan, nilainya lumayan banget. Apalagi kalau lokasinya di jalan protokol,” jelasnya. Artinya, aset yang tadinya “diam” bisa berubah jadi sumber pemasukan rutin tanpa harus bangun dari nol.
Optimalisasi Pendapatan
Sementara itu, dari pihak Jateng, Kabid Pengendalian dan Evaluasi Bapenda, Lilik Henry Ristanto menegaskan, peningkatan PAD memang nggak melulu soal pajak.
“Optimalisasi pendapatan itu juga soal kepatuhan dan pelayanan. Pajak penting, tapi pengelolaan aset juga nggak kalah strategis,” katanya. Pertemuan ini juga jadi ajang tukar pengalaman antar daerah.
Baca juga: Urusan Pajak, Jateng Naik Podium Nasional
Kedua pihak sepakat bahwa pengelolaan keuangan daerah ke depan harus lebih kreatif, adaptif, dan berkelanjutan. Harapannya, hasil diskusi ini nggak berhenti di ruang rapat, tapi benar-benar diimplementasikan, baik di Jateng maupun Kalsel.
Di saat banyak aset daerah cuma jadi bangunan sepi yang nunggu anggaran perawatan, ada juga yang mulai “disuruh kerja” buat nambah pemasukan. Karena ya… di zaman sekarang, yang nggak produktif bukan cuma orang, aset juga bisa kena evaluasi. (tebe)


