BACAAJA, DEMAK- Pemprov Jateng mulai tancap gas menangani banjir di Demak. Nggak cuma di fase darurat tapi juga sampai ke urusan jangka panjang. Targetnya jelas: bukan cuma beresin dampak, tapi biar banjirnya gak jadi langganan tiap tahun.
Wagub Jateng, Taj Yasin Maimoen menegaskan, kalau masalah ini gak bisa diselesaikan sendirian. Butuh kerja bareng dari semua level, kabupaten, provinsi, sampai pusat. Menurutnya, data awal sudah ada, tinggal diperdalam untuk menentukan kebutuhan dan langkah konkret di lapangan.
Salah satu fokus utama sekarang adalah perbaikan rumah warga yang rusak, sambil tetap membenahi sumber masalah seperti tanggul dan aliran sungai. Pemprov pun gak jalan sendiri. Sumber bantuan datang dari berbagai pihak, mulai pemerintah, lembaga seperti Baznas dan Palang Merah Indonesia, sampai relawan dari organisasi masyarakat.
Baca juga: Tanggul Jebol, Banjir Demak Meluas ke Enam Desa
Tenaga lapangan juga bakal diperkuat. Relawan dari Ansor dan Banser disebut siap turun tangan bantu perbaikan rumah warga. Bantuan pun mulai digelontorkan. Ada perbaikan tujuh unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), ratusan paket sembako, hingga bantuan uang tunai dari PMI.
Di lapangan, kondisi memang mulai membaik. Warga sudah mulai dapat listrik, air bersih, dan bantuan makanan. Tapi kerusakan yang ditinggalkan banjir masih terasa berat.
Tersapu Banjir
Ma’arif (39), salah satu warga terdampak, bilang rumahnya rusak sekitar 40 persen. Lebih parah lagi, rumah orang tuanya hilang tersapu banjir. “Kalau rumah kayu seperti kami, bisa sampai Rp80 juta. Itu belum isi rumahnya,” ujarnya.
Warga juga masih butuh bantuan untuk membersihkan puing dan sisa bangunan yang tertimbun lumpur. Banjir ini sendiri terjadi setelah tanggul Sungai Tuntang jebol di beberapa titik pada 3 April lalu, membuat air merendam sembilan desa di empat kecamatan.
Baca juga: Luthfi: Banjir Demak Nggak Cuma Soal Tanggul Jebol
Total ada lebih dari 5.000 warga terdampak, dengan ribuan sempat mengungsi. Meski air sudah mulai surut, beberapa titik masih rawan karena tanggul belum sepenuhnya diperbaiki. Pemprov memastikan, ke depan fokus gak cuma di pemulihan, tapi juga pembenahan sistem pengendalian banjir secara menyeluruh.
Karena kalau setiap tahun ceritanya sama, banjir datang, bantuan turun, lalu lupa lagi, yang tenggelam bukan cuma rumah warga, tapi juga harapan kalau keadaan bisa benar-benar berubah. (tebe)


