BACAAJA, BOYOLALI- Siapa sangka, rumah sederhana di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali, jadi titik kumpul ide keren buat dorong ekonomi hijau. Puluhan ibu-ibu anggota UMKM Omah Toga bareng tim dosen plus mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) kompak ikutan pelatihan seru sejak Juni sampai November 2025.
Bukan sekadar pelatihan biasa, program ini dikemas dalam tajuk “Toga untuk Pemberdayaan Ekonomi Hijau”. Proyeknya sendiri jalan lewat skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didanai langsung oleh Kemendikbudristek. Nah, timnya dipimpin sama Anafil Windriya, SE, MM, dibantu Agung Budiatmo, SSos, MM, dan Dr Sri Utami Handayani, ST, MT.
Kalau biasanya Omah Toga identik sama budidaya tanaman obat keluarga kayak jahe, kunyit, temulawak, bunga telang, sampai rosela, sekarang mereka udah naik kelas. Produk turunannya macam teh herbal, cookies bunga telang, chiffon cake, sampai skincare alami siap dipoles biar makin kece.
Teknologi Pengering
Masalah klasiknya? Pengeringan masih ngandelin sinar matahari dan promosi masih sebatas “tetangga bilang ke tetangga”. Nah, di sinilah Undip turun tangan. Mereka ngenalin teknologi pengering berbasis panel surya, ngajarin digital marketing biar bisa gaspol jualan di medsos dan marketplace, plus bikin sistem keuangan sederhana biar cashflow UMKM lebih rapi. Bonusnya, desain kemasan baru biar produk Omah Toga makin aesthetic dan laku di pasar modern.
Ibu-ibu KWT pun sumringah banget. “Dulu paling jualan di warung desa, promosi dari mulut ke mulut. Sekarang kami lebih pede, semoga produk Omah Toga makin dikenal luas,” kata salah satu anggota dengan senyum lebar.
Selain cuan, program ini juga ikut support target Sustainable Development Goals (SDGs): bikin masyarakat lebih sehat, buka peluang kerja, sampai dorong konsumsi-produksi yang ramah lingkungan. Kolaborasi kampus dan desa ini bikin Desa Banyuanyar punya peluang jadi role model desa dengan konsep ekonomi hijau yang sustain, bukan cuma tren sesaat. (*)

