NADHIEM Makarim adalah sosok yang menginspirasi banyak anak muda Indonesia. Sebagai pendiri Gojek, ia berhasil membangun perusahaan yang kini menjadi unicorn pertama di Indonesia, bahkan mencapai status decacorn. Keberhasilan Gojek mencerminkan visi Nadiem dalam memanfaatkan teknologi untuk memecahkan masalah sosial dan ekonomi di Indonesia.
Namun, perjalanan karier Nadiem tidak berhenti di dunia bisnis. Pada tahun 2019, ia dipanggil untuk mengabdi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Indonesia Maju. Keputusan ini menunjukkan komitmennya untuk berkontribusi dalam pembangunan sektor pendidikan di Indonesia. Selama menjabat, Nadiem berhasil meningkatkan anggaran pendidikan secara signifikan, mencerminkan prioritas pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Namun, setelah masa jabatannya berakhir, Nadiem terlibat dalam kasus hukum terkait dugaan korupsi dalam pengadaan laptop Chromebook untuk siswa. Pada 4 September 2025, Kejaksaan Agung menetapkannya sebagai tersangka dan menahannya. Kasus ini menyoroti tantangan dalam pengawasan dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran publik.
Selain itu, setelah pengunduran dirinya dari Gojek, Nadiem diketahui masih memegang sekitar 4,81% saham perusahaan tersebut. Namun, informasi mengenai siapa yang membeli saham tersebut tidak secara terbuka diumumkan. Pihak yang mungkin membeli saham tersebut antara lain investor institusional, perusahaan teknologi besar, atau individu dengan kepentingan strategis di industri digital.
Perjalanan karier Nadiem Makarim mencerminkan dinamika antara dunia bisnis dan politik, serta tantangan dalam menjaga integritas dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran publik. Ke depan, penting bagi individu yang bertransisi antara kedua dunia ini untuk mempertimbangkan dengan cermat potensi konflik kepentingan dan memastikan transparansi dalam setiap langkah yang diambil.(*)


