DI SEBUAH sudut Desa Karangjambe, Kecamatan Wanadadi, Banjarnegara, benang warna-warni tiap hari muter di tangan Rahmawati Nurul Layli. Awalnya cuma buat ngisi waktu, sekarang malah jadi ladang cuan.
Yang dulu sekadar hobi santai sore, berubah jadi usaha handmade serius. Produk rajutannya pelan-pelan jalan jauh, bahkan sampai lintas negara.
Layli ngerjain sendiri sebagian besar pesanan. Mulai dari dompet, tas, topi, gantungan kunci, sampai cover siwak yang cukup unik.
“Awalnya cuma iseng rajut biar nggak gabut, lama-lama banyak yang pesan,” cerita Layli. Dari situ dia mutusin buat seriusin.
Pemasarannya nggak cuma lewat tetangga atau kenalan. Ia jualan online juga, jadi jangkauannya makin luas.
Pesanannya datang dari berbagai kota di Jawa Tengah, dari Sragen, Semarang, Purbalingga sampai Purwokerto. Beberapa paket bahkan udah mendarat di Singapura dan Malaysia.
Selain rajutan, Layli juga nerima pesanan buket dan parsel. Ada juga seserahan mahar custom sesuai request pembeli.
“Harganya mulai lima ribuan sampai ratusan ribu tergantung tingkat ribetnya,” katanya santai.
Dalam sebulan, omzetnya rata-rata sekitar tiga juta rupiah. Nominal yang cukup buat bantu kebutuhan rumah.
“Lumayan banget buat nambah pemasukan keluarga,” tambahnya.
Buat Layli, rajutan bukan cuma barang jualan. Itu jadi bukti kalau kreativitas desa bisa punya panggung sendiri.
Nggak harus dari kota besar buat dikenal luas. Yang penting konsisten dan sabar ngerjain.
Kepala Desa Karangjambe, Susilo Jatmiko, ikut bangga lihat warganya berkembang. Menurutnya potensi kerajinan di kampungnya memang banyak.
“Rajutan ini salah satu contoh warga bisa bikin peluang ekonomi sendiri,” ujarnya.
Di desa itu juga ada pembuat buket, mainan kayu, sampai alat tangkap ikan tradisional. Semua tumbuh dari keterampilan tangan.
“Kerajinan seperti ini bukan cuma jaga kreativitas, tapi juga bantu penghasilan keluarga,” jelasnya.
Cerita Layli nunjukin usaha besar nggak selalu lahir dari modal besar. Kadang cuma dari benang, jarum, dan ketelatenan. (*)


