BACAAJA, SEMARANG – Di balik cerita makan dan minum tak layak, Adrian menyimpan luka yang lebih dalam. Ia harus menghadapi kematian temannya sendiri di atas kapal.
Menurut Adrian, kondisi kesehatan temannya terus menurun. Ia menduga penyebabnya makanan kedaluwarsa dan air minum yang tak layak.
“Teman saya sakit lama, akhirnya meninggal di kapal,” katanya lirih saat bercerita di Semarang, Senin (19/1/2026).
Bacaaja: Neraka di Tengah Laut: Ketika Awak Kapal Tersiksa, Dipaksa Makan-Minum Tak Layak
Bacaaja: Liburan Jadi Zonk! Kapal ke Karimunjawa Rusak, Bikin Wisatawan Naik Darah
Yang membuatnya terpukul, jenazah temannya tak langsung dipulangkan. Tubuh korban justru disimpan di freezer kapal.
Freezer itu biasanya dipakai untuk menyimpan ikan hasil tangkapan. Bagi Adrian, itu pengalaman paling menyakitkan selama di laut.
“Jadi kalau ke freezer, lihat, rasanya sedih banget,” ucapnya.
Ia sempat memprotes keputusan tersebut. Adrian meminta jenazah dipulangkan agar keluarga bisa menguburkan dengan layak.
Namun permintaan itu ditolak perusahaan. Tidak ada proses resmi, tidak ada empati.
Karena terus menekan dan melawan keputusan kapten, Adrian akhirnya dipulangkan. Tapi masalah tak berhenti di situ.
Saat tiba di darat, paspornya justru diblokir.
Pengalaman itu membekas sampai sekarang. Adrian berharap kisahnya jadi peringatan keras soal nasib awak kapal perikanan migran.
Koalisi pembela pelaut migran menilai kasus seperti ini terjadi karena pengawasan yang lemah. Jika dibiarkan, korban hanya akan terus bertambah. (bae)


