BACAAJA, SEMARANG – Setiap tahun, jutaan warga Indonesia memilih menjalani pengobatan di luar negeri. Ternyata, keputusan itu bukan semata-mata karena teknologi medis yang lebih canggih atau nama besar rumah sakit.
Kementerian Kesehatan menilai ada faktor lain yang tak kalah penting, yakni pengalaman pasien selama mendapatkan layanan. Mulai dari cara pasien diperlakukan hingga kenyamanan saat menjalani proses pengobatan ikut memengaruhi keputusan mereka.
Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, dr. Sunarto, mengatakan pengalaman pasien atau patient experience kini menjadi salah satu tolok ukur utama dalam memilih layanan kesehatan.
Menurutnya, pengalaman itu bukan hanya soal hasil pengobatan. Hal-hal seperti keramahan petugas, kenyamanan fasilitas, kejelasan penjelasan dokter, hingga ketepatan waktu pelayanan juga ikut dinilai pasien.
Sunarto menjelaskan, kualitas dokter dan kecanggihan fasilitas memang tetap penting. Namun, keduanya kini menjadi bagian dari pengalaman menyeluruh yang dirasakan pasien sejak pertama datang hingga selesai menjalani perawatan.
Karena itu, rumah sakit di dalam negeri tidak cukup hanya mengandalkan tenaga medis yang kompeten. Pelayanan yang ramah, cepat, dan transparan juga menjadi kebutuhan yang semakin diperhatikan masyarakat.
Kementerian Kesehatan mengaku mencermati laporan yang menyebut sekitar satu hingga dua juta warga Indonesia setiap tahun memilih berobat ke luar negeri. Angka tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki mutu layanan kesehatan nasional.
Fenomena itu menunjukkan masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Persaingan layanan kesehatan kini tidak lagi hanya soal kemampuan medis, tetapi juga kepuasan pasien secara keseluruhan.
Sunarto menilai mutu layanan harus dipandang lebih luas. Mulai dari kualitas tindakan medis, kondisi bangunan rumah sakit, pemanfaatan teknologi, hingga kecepatan pelayanan perlu berjalan beriringan.
Pasien, menurutnya, datang bukan hanya untuk memperoleh diagnosis atau resep obat. Mereka juga ingin mendapatkan pengalaman berobat yang nyaman, jelas, dan membuat merasa dihargai.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Dewan Etik Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Muhammad Munawar. Ia menilai kepercayaan menjadi modal utama dalam hubungan antara dokter dan pasien.
Menurut Munawar, secanggih apa pun teknologi yang dimiliki rumah sakit, semuanya akan sia-sia bila pasien tidak memiliki rasa percaya kepada tenaga medis yang menanganinya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun hubungan yang dilandasi kejujuran dan keterbukaan. Dokter tidak hanya dituntut memiliki kemampuan klinis, tetapi juga integritas dalam memberikan pelayanan.
Munawar menyebut transparansi menjadi salah satu kunci agar pasien merasa aman selama menjalani pengobatan. Dengan komunikasi yang baik, kepercayaan pasien akan tumbuh lebih kuat.
Perbaikan layanan kesehatan, menurut para pakar, perlu dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya menghadirkan alat medis modern, tetapi juga membangun budaya pelayanan yang lebih manusiawi.
Harapannya, semakin banyak masyarakat yang yakin untuk menjalani pengobatan di dalam negeri. Ketika kualitas layanan, kenyamanan, dan kepercayaan berjalan seiring, rumah sakit di Indonesia dinilai mampu menjadi pilihan utama bagi pasien. (*)

