BACAAJA, SEMARANG – Tradisi buka puasa pakai kurma sudah seperti “paket lengkap” tiap datang Ramadhan. Banyak yang merasa kurang afdol kalau takjil pertama bukan buah manis khas Timur Tengah itu.
Tapi, gimana kalau di rumah nggak ada kurma? Atau harganya lagi nggak bersahabat? Apakah pahala jadi berkurang?
Pertanyaan ini pernah dibahas santai tapi dalem oleh KH Ahmad Bahauddin Nursalim, yang akrab disapa Gus Baha. Ulama asal Rembang ini dikenal sering menyederhanakan hal-hal yang terasa ribet dalam agama.
Menurut Gus Baha, buka puasa dengan kurma memang sunnah. Tapi sunnah itu bukan kewajiban yang harus dipaksakan dalam segala kondisi.
Dalam salah satu ceramahnya yang tayang di YouTube, ia mencontohkan daerah yang secara ekonomi sulit. “Kalau di Gunungkidul misalnya, kondisinya melarat, apa mungkin pakai kurma mengejar sunnah?” ujarnya.
Pesannya jelas: jangan bikin agama terasa berat. Kalau kurma ada dan mudah didapat, silakan. Kalau nggak ada, ya nggak perlu panik.
Dalam fikih sendiri sudah terang. Kalau bisa berbuka dengan kurma, itu baik. Kalau tidak ada, cukup makanan manis.
Kalau makanan manis pun nggak ada, cukup apa saja yang halal dan tersedia. Intinya adalah menyegerakan berbuka, bukan sibuk cari simbol.
Gus Baha bahkan bilang, “Jangan dikit-dikit sunnah dibilang sunnah karena mampu. Kalau memang tidak mampu, ya sudah.”
Ia pernah bercerita, tamu-tamunya sering datang membawa aneka kurma. Tapi bukan berarti setiap buka puasa ia selalu memakannya.
“Gus, kurma, Gus,” kata tamunya. Ia malah menjawab santai, “Kurma buat apa? Makan saja sendiri,” sambil tersenyum.
Alih-alih kurma, ia mengaku lebih suka dawegan atau kelapa muda untuk berbuka. Sederhana, segar, dan sesuai selera.
Menurutnya, sunnah itu fleksibel sesuai kemampuan. Kalau mampu dan ingin mengamalkannya, silakan. Tapi jangan sampai bikin orang lain merasa tertekan.
Sering kali orang salah kaprah soal sunnah. Seolah-olah kalau tidak menjalankannya, ibadah jadi cacat.
Padahal Islam itu datang membawa kemudahan, bukan beban tambahan. Prinsipnya jelas: الدين يسر (agama itu mudah).
Dalam hadis riwayat Muhammad disebutkan, “Jika salah seorang di antara kalian berbuka, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Jika tidak ada, maka dengan air, karena air itu menyucikan.”
Artinya, bahkan air putih saja sudah cukup. Jadi yang utama adalah membatalkan puasa tepat waktu, bukan soal harus buah tertentu.
Gus Baha juga mengingatkan agar tidak gampang menghakimi orang lain. Apalagi cuma karena takjilnya beda.
Ibadah yang bagus itu yang dijalani dengan ikhlas, bukan karena gengsi atau takut dinilai kurang islami.
“Jangan sampai sunnah yang ringan malah jadi beban,” kurang lebih begitu pesannya dalam berbagai pengajian.
Buka puasa itu momen bahagia setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Harusnya dinikmati, bukan dipusingkan.
Jadi kalau ada kurma, silakan. Kalau nggak ada, teh manis, gorengan, atau air putih pun sah-sah saja.
Yang penting berbuka, bersyukur, dan tetap jaga hati. Karena yang dinilai bukan jenis makanannya, tapi ketulusan dan ketaatan kita saat menjalani Ramadhan. (*)


