BACAAJA, DEMAK– Di tengah gempuran konten digital yang serba cepat, siapa bilang dongeng sudah kehilangan panggungnya? Justru lewat suara, ekspresi, dan imajinasi, cerita bisa kembali hidup.
Semangat itulah yang dibawa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (FPBS UPGRIS) saat mengajak siswa SMAN 1 Karangtengah, Demak, belajar seni mendongeng secara langsung, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan bertajuk “Lawatan Sastra” ini menjadi bagian dari Narawita Fest ke-4, festival tahunan yang digelar FPBS dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FPBS UPGRIS setiap Oktober untuk merayakan bahasa, sastra, dan keberagaman budaya Indonesia.
Baca juga: Rektor UPGRIS Minta Wisudawan Berdampak bagi Masyarakat
Bukan sekadar datang, menyampaikan materi, lalu pulang. Lawatan Sastra kali ini dikemas dalam pelatihan mendongeng yang mengajak siswa mengenal seni bertutur dari sisi teknis sekaligus kreatif.
Hadir sebagai narasumber, Dr Muhajir, SPd, MHum yang dikenal dengan nama pena Muhajir Arrosyid. Akademisi sastra sekaligus praktisi seni pertunjukan, penulis, dan pendongeng ini membagikan berbagai teknik agar cerita tak sekadar terdengar, tetapi juga terasa hidup di hadapan penonton.
Para siswa diajak mengolah suara, membangun karakter tokoh melalui gerak tubuh dan gestur, memainkan dialog, hingga memanfaatkan alat peraga. Mereka juga belajar membangun interaksi dan memainkan emosi agar penonton ikut larut dalam cerita.
Meninggalkan Kesan
Dengan bekal tersebut, mendongeng diharapkan tak lagi dipandang sebagai aktivitas membaca cerita dengan suara lantang. Ada kreativitas, teknik pertunjukan, dan kemampuan komunikasi yang perlu diasah agar sebuah kisah mampu meninggalkan kesan.
Dekan FPBS UPGRIS, Siti Musyarokah, SPd, MHum hadir bersama Ketua BEM FPBS UPGRIS, Firza Yudha serta jajaran pimpinan fakultas dan pengurus mahasiswa. Kedatangan mereka disambut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Karangtengah, Siti Alfiah, SPd bersama jajaran guru.
Siti Musyarokah mengatakan, Lawatan Sastra menjadi cara membawa semangat Bulan Bahasa langsung ke lingkungan sekolah. Menurutnya, keberadaan pendongeng saat ini terbilang terbatas sehingga perlu ada upaya untuk mengenalkan sekaligus merawat tradisi lisan kepada generasi muda.
Baca juga: Wisuda UPGRIS Kukuhkan 1.255 Sarjana dan Magister
Ia berharap pelatihan ini mampu mengasah keterampilan bertutur dan kreativitas siswa, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap sastra Indonesia.
Sementara itu, Siti Alfiah mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar langsung dari praktisi dan pakar di bidangnya. Baginya, proses menimba ilmu tak harus selalu berlangsung di dalam kelas.
Lawatan Sastra menjadi salah satu agenda Narawita Fest ke-4, yang juga menghadirkan panggung seni sastra, kompetisi sastra, musikalisasi puisi, serta pertunjukan seni budaya. Festival ini turut menjadi ruang apresiasi bagi sekolah dan tokoh yang konsisten berkontribusi dalam dunia bahasa dan sastra.
Pada akhirnya, dongeng bukan sekadar kisah tentang kancil yang cerdik atau raksasa yang menakutkan. Di dalamnya ada warisan bahasa, nilai kehidupan, dan imajinasi yang tak selalu bisa ditemukan lewat guliran layar ponsel. Sebab, kalau generasi muda hanya sibuk menonton cerita orang lain, siapa yang kelak mau berdiri dan menceritakan kisah bangsanya sendiri? (tebe)

