Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Berbagi Itu Indah, Bergibah Itu Nirfaedah
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Berbagi Itu Indah, Bergibah Itu Nirfaedah

Redaktur Opini
Last updated: Februari 24, 2026 7:22 am
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Akhmad Idris Akhmad Idris, dosen  sekaligus awardee BPI 2023 program doktoral di Universitas Negeri Malang.

Kebahagiaan itu akan semakin paripurna saat seseorang rela membagi kebahagiannya dengan orang lain di sekitarnya yang juga ingin ‘mencicipi’ kebahagiaan serupa.

 

Setiap tahun umat Islam menunggu satu bulan yang sangat mulia gegara, yaitu bulan Ramadan. Saking mulianya, hanya di bulan itu umat Islam mendapatkan kewajiban berpuasa. Di luar bulan itu, puasa bersifat opsional⸻hanya dilakukan orang-orang yang mau atau terpaksa mau.

Menurut hemat saya, satu hal yang perlu disorot dari pelbagai anjuran selama bulan Ramadan adalah saling berbagi. Alasannya sederhana, karena hampir setiap orang ‘mendadak’ ingin berbagi meskipun cukup dengan sepotong roti.

Selain anjuran, hal yang perlu disorot lainnya selama bulan Ramadan adalah tradisi rerasan yang seolah sulit ditinggalkan. Rerasan menjadi larangan yang harus ditinggalkan (terlebih di bulan Ramadan) karena puasa tidak hanya cerita tentang menahan haus dan lapar.

Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhary dari sahabat Abu Hurairah mengatakan, satu dari dua kebahagiaan orang yang berpuasa adalah ketika berbuka. Berbuka menjadi kebahagiaan karena satu di antara kenikmatan duniawi adalah makan ketika lapar.

Sejak subuh hingga magrib orang-orang yang berpuasa menahan lapar dan dahaga, sehingga menyantap menu favorit adalah hal yang paling dinanti sekaligus dirindui. Namun, di balik deru kebahagiaan tersebut, ada suara-suara lirih yang mengadu rasa lapar. Saat itu, hanya orang-orang tertentu yang mendengar rintihan lirih tersebut.

Lalu, bisakah orang-orang menikmati kebahagiaan berbuka puasa saat beberapa di antara mereka justru menangis kelaparan? Oleh sebab itu, kebahagiaan itu akan semakin paripurna saat seseorang rela membagi kebahagiannya dengan orang lain di sekitarnya yang juga ingin ‘mencicipi’ kebahagiaan serupa.

Paradoks kehidupan ini merupakan kehendak cum kebijaksanaan Sang Pencipta. Sebenarnya mudah saja Sang Pencipta membuat semua orang menjadi kaya ataupun sebaliknya, tetapi Dia ciptakan dua hal yang saling berlawanan untuk menguji dan melihat hal yang akan dilakukan oleh dua kelompok tersebut.

Bisakah orang-orang yang berlebihan harta untuk tidak menutup mata serta telinga dengan orang-orang yang kekurangan harta? Begitu pula bisakah orang-orang yang kekurangan harta untuk tidak mengeluh atas nasibnya, bahkan bersabar untuk tidak mempertanyakan takdir Tuhan?

Hal ini mengingatkan saya pada ungkapan Shalih Ahmad as-Syami dalam Mawa’izh al-Imam al-Hasan al-Bashri, yaitu sungguh masih ada seseorang yang rela menyobek kain sarungnya, lalu memberikan setengahnya kepada temannya. Menyisakan bagian yang tersisa untuk dirinya sendiri. Satu hal yang membuatnya tak ragu untuk melakukan hal tersebut adalah keyakinan untuk berbagi kebahagiaan.

Jika berbagi adalah anjuran di bulan Ramadan, maka sebaliknya rerasan adalah larangannya. Tidak berarti di luar Ramadan rerasan tidak dilarang, tetapi pada bulan Ramadan harus mendapatkan perhatian ekstra. Larangan juga tidak hanya rerasan, tetapi rerasan dewasa ini telah menjadi kebiasaan yang dianggap lumrah.

Saking lumrahnya, saya pernah diberitahu seseorang bahwa tak ada yang salah dalam rerasan, toh yang dibicarakan juga hal yang benar-benar terjadi. Sebuah pola pikir yang jelas-jelas menyimpang dari konsep rerasan itu sendiri, sebab rerasan atau yang biasa disebut ghibah itu memang harus sesuai fakta. Jika yang dibicarakan tidak sesuai dengan fakta, maka pembicaraan itu tak lagi disebut sebagai ghibah tetapi sudah beralih menjadi fitnah.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum ad-Din membagi rerasan ke dalam tiga bentuk, yakni ghibah; buhtan; dan ifki. Rerasan dapat disebut ghibah saat yang dibicarakan adalah yang sesuai dengan realita, lalu rerasan dapat dianggap sebagai buhtan ketika yang dibicarakan adalah sebuah kebohongan (buhtan inilah yang dapat disebut sebagai fitnah).

Rerasan dapat dikategorikan ifki jika yang dibicarakan hanya sebatas ‘katanya’ tanpa pernah memastikan ‘yang sebenarnya’. Dari tiga pembagian tersebut, dapat disimpulkan bahwa rerasan memang memiliki tingkatannya masing-masing. Entah disadari atau tidak, beberapa orang justru menganggap rerasan hanya bisa disebut sebagai ghibah. Tanpa pernah tahu bahwa rerasan bisa berkembang menjadi ifki, bahkan hingga ke tahap fitnah atau buhtan.

Akhir kata, sebagaimana yang telah disebutkan sejak awal bahwa puasa tidak sebatas menahan lapar dan dahaga. Mengamini pernyataan Muhammad Jamaluddin al-Qasimy ad-Damasyqy di dalam Mauidhatul Mu’minin, derajat puasa seseorang terbagi menjadi tiga tingkatan. Tingkat yang paling rendah adalah shaum al-umum, yakni hanya sebatas menjaga perut dan larangan bersetubuh.

Kemudian satu tingkat di atasnya adalah shaum al-khusus, yakni menjaga semua anggota tubuh (mulai dari mata, lisan, telinga, kaki, tangan, dan lainnya) dari perbuatan dosa. Sementara tingkat tertinggi adalah shaum al-khusus al-khusus, yakni menjaga hati dari godaan duniawi karena yang ada di hati hanya Yang Maha kasih. Pertanyaannya, puasa kita berada di tingkat yang mana?(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Meromantisasi Nikah Muda di Medsos adalah Tindakan yang Memprihatinkan

Self-Reward: Tren atau Kebutuhan?

Dari Rob sampai COP: Dilema-Dilema Keadilan Iklim

Mau Menang atau Kalah, MU Tetap Lucu Bahkan Bagi Saya yang Tidak Terlalu Suka Sepak Bola

Bagaimana Orang Jawa Mengungkapkan Rasa Cinta

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Puasa Bedug Dulu Dicengin, Kata Buya Yahya Keren
Next Article Secuil Cerita dari Sebuah Museum di Kota Lama Semarang

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Secuil Cerita dari Sebuah Museum di Kota Lama Semarang

Berbagi Itu Indah, Bergibah Itu Nirfaedah

Puasa Bedug Dulu Dicengin, Kata Buya Yahya Keren

Mokel Itu Apa Sih? Istilah Puasa Diam-Diam

Menko PMK yang juga Ketua Umum PKB, Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.

Ealah, Cak Imin Setujui Iuran BPJS Naik Lagi

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Belajar dari Venezuela: Melawan Politik Energi Asimetris

Januari 15, 2026
Opini

Fenomena Drama China: Fantasi Utopis dalam Negara yang Distopik

Januari 15, 2026
Opini

Degradasi Organisasi Mahasiswa: Hidup Segan Mati Tak Mau!

Januari 8, 2026
Gus Yasin dan Romy Rohmahurmuzi memberikan keterengan kepada awak media seusai Muktamar PPP X di Ancol Jakarta. Seperti Muktamar sebelumnya, Muktamar PPP tahun ini juga diwarnahi dengan perpecahan antar kader. Hasilnya, dua kubu salim klaim kemenangan melalui jalur aklamasi partai. Baik kubu incumben Mardionao maupun kubu Agus Suparmanto. Foto: dok.
Opini

Mardiono vs Agus Suparmanto, Drama Faksi PPP yang Tak Pernah Usai

September 28, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Berbagi Itu Indah, Bergibah Itu Nirfaedah
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?