BACAAJA, KEBUMEN- Karya anak-anak penyandang disabilitas Kebumen kembali membuktikan diri di panggung dunia. Dari tangan kreatif mereka lahir batik pegon, kain khas dengan sentuhan aksara Jawa Kuno, yang kini sudah melenggang sampai ke Singapura dan Turki.
Batik pegon ini diproduksi di Rumah Inklusif Kebumen, sebuah wadah pemberdayaan keluarga penyandang disabilitas yang berdiri sejak 2009. Dari tempat sederhana di Kampung Panggel, Desa Kembaran, lahir berbagai produk kreatif yang sudah dipamerkan dalam event nasional hingga internasional.
Keberhasilan ini mendapat apresiasi dari Ketua Dekranasda Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin. Saat berkunjung langsung ke Rumah Inklusif, kemarin. Nawal bahkan memborong beberapa produk busana dengan motif batik pegon.
“Rumah Inklusif ini telah mendampingi banyak anak penyandang disabilitas, mulai dari pendidikan, sampai mereka diajari membuat karya. Khasnya tentu batik pegon,” ujar Nawal.
Yang bikin Nawal kagum, beberapa motif batik pegon ternyata punya pesan khusus. Ada motif dengan gambar tangan bertuliskan anti-bullying, sebagai simbol gerakan melawan perundungan dan kekerasan sejak dari lingkungan rumah.
“Budaya anti-bullying ini harus dibangun sejak dini, dan karya seperti batik bisa jadi media yang kuat,” tambahnya. Dalam kunjungan itu, anak-anak penyandang disabilitas juga tampil percaya diri lewat fashion show kecil, mengenakan busana hasil karya mereka sendiri.
Momen itu membuat suasana kian meriah sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya. Selain memborong produk, Nawal juga menggelar bedah buku karyanya berjudul Pesantren Anti-Bullying dan Kekerasan Seksual. Ia berharap semangat inklusif terus tumbuh di masyarakat, terutama bagi penyandang disabilitas.
Terus Berkarya
Koordinator Rumah Inklusif, Muinatul Khairiyah, menyebut hingga kini lembaga yang ia kelola sudah membina lebih dari 100 anak penyandang disabilitas . Programnya beragam, mulai dari pelatihan batik pegon, seni, kewirausahaan, hingga pertanian.
“Saat ini sudah ada 16 motif batik pegon. Produk kami pernah dipamerkan di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, bahkan sampai Turki tahun 2022 dan Singapura 2023,” kata perempuan yang akrab disapa Iin itu.
Menurut Iin, kunjungan Nawal memberi energi baru bagi para penyandang disabilitas untuk terus berkarya. “Kami para orang tua berharap anak-anak bisa tumbuh mandiri dan sukses, meski dengan keterbatasan,” ujarnya.
Nawal pun menegaskan komitmennya mendukung para penyandang disabilitas di Jateng. Dengan jaringan seperti Difabel Zone, ia berharap anak-anak mampu melahirkan karya, membuka usaha kecil, hingga benar-benar berdaya. (*)


