BACAAJA, CILACAP – Banjir yang melanda Kecamatan Wanareja, Cilacap, makin melebar setelah hujan deras beberapa hari terakhir bikin debit Sungai Cikawung dan Citanduy naik drastis. Dua desa—Sidamulya dan Tarisi—jadi titik yang paling terasa terdampak, sampai aktivitas ribuan warga ikut kacau.
Dari laporan lapangan, genangan makin melebar dan bikin gerak warga jadi terbatas. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Cilacap, Budi Setyawan, bilang kalau kondisi ini hasil monitoring tim UPTD PKBD Majenang yang terus muter dari rumah ke rumah.
Menurut Budi, air yang nggak juga surut bikin tim gabungan harus terus siaga. “Genangan air terus meluas seiring tingginya debit sungai. Kami terus berupaya melakukan penanganan darurat bersama lintas instansi dan relawan,” ujarnya.
Dampaknya cukup besar, terutama di Desa Sidamulya yang punya enam dusun terdampak. Ketinggian air di halaman dan jalan mencapai 5–50 sentimeter, sementara di dalam rumah bisa sampai 20 sentimeter di beberapa titik.
Sebaran dampaknya juga cukup detail. Dusun Mekarsari tercatat punya 279 rumah terdampak, 89 rumah terendam, dan ratusan warga harus cari tempat aman. Kondisi serupa juga terjadi di Dusun Margosari, Margodadi, Cibeureum, Sidodadi, hingga Bakung.
Nggak cuma rumah, banjir juga merendam fasilitas umum. Ada empat sekolah, lima tempat ibadah, 124 hektare sawah, dan puluhan hektare ladang yang ikut tenggelam. Jelas ini bikin aktivitas warga makin berat.
Untuk mobilitas, warga sekarang mengandalkan tiga perahu polyethylene milik BPBD dan satu dari LPBI NU. Dapur umum juga sudah jalan dan membagikan ribuan nasi bungkus agar kebutuhan dasar tetap terpenuhi.
Sejumlah pihak turun tangan bantu warga. Ada Danrem 071 Wijaya Kusuma, PMI, Bawaslu Cilacap, KNPI, lembaga pendidikan, sampai ormas yang ikut ngasih dukungan logistik dan tenaga.
Desa Tarisi pun nggak kalah parah. Air yang belum surut-surut bikin 841 rumah terdampak, dengan total hampir dua ribuan jiwa. Di beberapa titik, air di jalan bisa mencapai 83 sentimeter. Bahkan empat mesin penyedot dari BBWS Citanduy belum bisa bekerja optimal karena sungai masih terlalu penuh.
Budi bilang sebagian besar warga memilih bertahan di rumah sambil nunggu air menyusut. Sementara itu, tim gabungan dari BPBD, Polsek Wanareja, Koramil, dan relawan terus bergerak bagi logistik dan ngecek kondisi warga satu per satu.
Untuk memastikan kegiatan belajar tetap jalan, anak-anak sekolah dijemput pakai truk Satpol PP dan mobil pick-up biar tetap aman.
Kebutuhan mendesak masih terus bertambah. Mulai dari bahan pangan bergizi sampai obat-obatan untuk keluhan yang muncul karena banjir seperti gatal, pusing, atau batuk.
Meski hujan dua hari terakhir berhenti, ancaman cuaca ekstrem belum benar-benar hilang. Warga diminta tetap waspada sambil nunggu debit air turun dan kondisi kembali normal. (*)


