BACAAJA, SEMARANG – Gambar AI bergaya Studio Ghibli lagi ngehits banget di medsos. Dari karakter asli sampai potret selfie, semuanya bisa langsung berubah vibe jadi kayak animasi My Neighbour Totoro atau Spirited Away. Seru, iya. Estetik, jelas. Tapi ada yang jarang disadari: tiap kali kita generate gambar itu, Bumi ikut “bayar mahal” lewat energi, air, dan sumber daya alam yang terkuras.
Di balik layar, sistem AI generatif seperti ini butuh komputasi super besar. Bukan cuma sekali klik langsung muncul gambar, tapi ada ribuan GPU (graphic processing unit) yang nyala non-stop buat melatih dan menjalankan model. Energi yang dipakai setara dengan listrik ratusan rumah tangga. Belum lagi, server harus terus didinginkan—yang artinya butuh air dalam jumlah gila-gilaan.
Kalau sekali pakai mungkin terasa sepele. Tapi coba bayangin, jutaan orang di seluruh dunia lagi ikut tren bikin gambar AI. Dampaknya ke lingkungan? Bisa jadi jauh lebih besar dari yang kita kira.
Studio Ghibli sendiri nggak pernah kasih komentar resmi soal tren ini, tapi kutipan lama dari sang maestro Hayao Miyazaki kembali rame diangkat: dia pernah bilang kalau karya berbasis AI terasa “tidak punya jiwa.” Dan ternyata, bukan cuma soal rasa, tapi juga soal keberlanjutan.
Menurut studi Carnegie Mellon University, bikin seribu gambar AI aja butuh hampir 3.000 kWh listrik—setara ngecas penuh ponsel ribuan kali. Itu baru gambar. Belum model bahasa besar kayak GPT-4 yang parameternya udah tembus triliunan, bikin kebutuhan energinya makin nggak kebayang.
Air juga kena imbas. Data center yang jadi rumah buat AI ini pakai sistem pendingin raksasa, terutama di negara tropis. Di Singapura misalnya, pusat data udah menyumbang lebih dari 80% emisi gas rumah kaca dari sektor ICT.
Selain listrik dan air, ada masalah bahan baku. GPU dan baterai lithium-ion yang menopang AI dihasilkan dari penambangan mineral langka. Prosesnya nyumbang emisi karbon, bikin polusi, dan bikin ekosistem rusak.
Padahal, makin akurat AI, makin besar juga daya komputasi yang dipakai. Jadi makin canggih, makin boros. Ironis, kan?
Tapi di sisi lain, nggak bisa dipungkiri kalau AI juga punya potensi besar buat bantu efisiensi energi. Ada yang pakai buat ngatur sistem pendingin gedung biar lebih hemat listrik, ada juga yang bantu riset medis supaya lebih cepat dan tepat.
Jadi, tren gambar AI Ghibli-style ini sebenarnya kasih kita refleksi: teknologi bisa bikin hidup kita lebih keren dan gampang, tapi juga bisa jadi beban baru buat planet ini.
Mungkin bukan soal “stop total”, tapi soal gimana cara kita lebih bijak pakainya. Sama kayak nge-scroll medsos, kalau berlebihan pasti ada efek samping.
Buat sekarang, seru-seruan pakai AI masih bisa, tapi jangan lupa juga ada “harga tersembunyi” yang dibayar Bumi. Dan kalau ngomongin keberlanjutan, jelas teknologi secanggih apa pun tetap harus mikirin masa depan planet yang jadi rumah kita bareng-bareng. (*)


