BACAAJA, JAKARTA – Istilah “jantung basah” belakangan cukup sering dipakai untuk menggambarkan masalah kesehatan jantung. Sebutan ini biasanya dikaitkan dengan kondisi ketika jantung sudah tidak bekerja optimal hingga menyebabkan cairan menumpuk di paru-paru.
Dokter Spesialis Jantung dan Konsultan Kardiologi Intervensi Eka Hospital, dr. Rizki, Sp.JP, Subsp.KI (K), FIHA, menjelaskan bahwa istilah tersebut bukan nama diagnosis medis. Namun, keluhan yang dimaksud masyarakat bisa berkaitan dengan gagal jantung yang membuat aliran darah dari paru-paru mengalami bendungan.
“ Sebenarnya jantungnya gagal sehingga paru-parunya orang sering bilang kerendam,” kata Rizki saat ditemui dalam media meet up di Eka Hospital MT Haryono, Jakarta.
Darah Terbendung Bisa Bikin Paru-Paru Berair
Rizki menjelaskan, pada kondisi normal, darah yang sudah mendapat oksigen dari paru-paru akan kembali menuju jantung. Setelah itu, jantung memompanya ke seluruh tubuh.
Masalah muncul ketika kemampuan jantung menerima dan memompa darah sudah menurun. Aliran darah dari paru-paru kemudian tidak bisa berjalan lancar dan mengalami bendungan atau congestion.
“Sedangkan jantungnya sudah gagal, dia enggak bisa menerima lebih banyak darah lagi, sehingga darahnya congested. Jadi terbendung di paru-paru,” jelasnya.
Bendungan tersebut dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di paru-paru. Akibatnya, cairan bisa merembes dan menumpuk di jaringan paru-paru sehingga pasien mengalami sesak napas.
Kondisi inilah yang kemudian kemungkinan membuat istilah “jantung basah” muncul di tengah masyarakat. Jadi, bukan berarti jantung benar-benar terisi atau digenangi air.
Sesak Bisa Makin Parah Saat Rebahan
Salah satu keluhan yang perlu diperhatikan pada gagal jantung adalah sesak napas. Menurut Rizki, sesak yang berkaitan dengan masalah jantung memiliki ciri khas, yakni bisa terasa lebih berat ketika pasien berbaring.
“Sesak kalau penyakit jantung, sesaknya akan bertambah berat kalau dia posisi berbaring. Itu khas. Jadi dia enggak bisa tidur datar,” ujarnya.
Pasien gagal jantung biasanya merasa lebih nyaman ketika posisi tubuh dibuat lebih tegak. Bantal bisa ditinggikan atau pasien beristirahat dalam posisi duduk maupun setengah duduk.
“Kalau memang pasiennya betul gagal jantung, kalau mau istirahat posisi bantalnya harus ditinggikan, duduk atau setengah duduk,” kata Rizki.
Meski begitu, posisi tidur bukanlah pengobatan untuk gagal jantung. Jika sesak terasa berat atau semakin memburuk, pasien perlu segera dibawa ke instalasi gawat darurat agar mendapat pemeriksaan dan penanganan.
Gagal Jantung Tak Cuma karena Penyumbatan
Gagal jantung juga tidak selalu terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah jantung. Ada sejumlah kondisi lain yang dapat membuat kemampuan otot jantung menurun.
Salah satunya adalah penyakit jantung koroner. Ketika pembuluh darah jantung tersumbat, suplai darah dan oksigen ke otot jantung bisa terganggu. Dalam kondisi tertentu, sebagian otot jantung dapat mengalami kerusakan sehingga kemampuan memompa ikut menurun.
Selain itu, gagal jantung dapat berkaitan dengan gangguan katup jantung, peradangan otot jantung hingga kelainan jantung bawaan.
“Jadi gagal jantung itu macam-macam,” tutur Rizki.
Karena penyebabnya berbeda-beda, penanganannya juga tidak bisa disamaratakan. Tidak semua pasien gagal jantung otomatis membutuhkan pemasangan ring atau operasi bypass.
Tindakan medis akan ditentukan berdasarkan penyebab dan kondisi jantung masing-masing pasien. Karena itu, keluhan seperti sesak berulang, terutama yang makin berat saat berbaring, sebaiknya tidak dianggap sepele dan perlu diperiksa lebih lanjut. (*)

