BACAAJA, SOLO — Kabar lega datang dari TPA Putri Cempo. Setelah sempat bikin antrean truk sampah mengular, penanganan sampah kini mulai kembali lancar.
Kuncinya ada di tambahan enam alat berat yang sekarang sudah bekerja optimal. Dampaknya langsung terasa, antrean panjang yang sebelumnya bikin proses bongkar muat tersendat, kini perlahan terurai.
Kepala UPTD Pengelolaan TPA Putri Cempo, Edy Suparmanto, mengatakan hambatan yang sebelumnya mengganggu operasional sudah berhasil diatasi. Kondisi di lapangan pun mulai bergerak ke arah normal.
Bacaaja: Respati Turun Gunung ke Putri Cempo Solo, Bawa Alat Berat Buat Beresin Drama Sampah
Bacaaja: Pimpin Kurvei Pasar Gedhe Solo, Respati Sorot Buruknya Manajemen Sampah
“Alhamdulillah Selasa kemarin kita mendapat bantuan alat berat dari Balai Besar Bengawan Solo, DPU Kota Surakarta, dan satu alat sewa. Terjadi peningkatan signifikan sehingga antrean bisa lebih terurai,” ujarnya saat ditemui di TPA Putri Cempo, Kamis (12/2/2026).
Tak cuma itu, bantuan juga datang dari BPBD Boyolali. Penambahan armada ini membantu petugas membuka jalur lebih lebar, sehingga distribusi sampah bisa berjalan lebih cepat.
Edy menjelaskan, dua ekskavator kini difokuskan untuk menangani area dumping di Blok D — titik yang sebelumnya jadi salah satu sumber kepadatan.
“Antrean biasanya muncul di pagi hari saat banyak armada datang bersamaan. Tapi siang hari tinggal sekitar 200 meter dekat area timbangan, dan itu sudah tergolong normal,” jelasnya.
Sebelumnya, persoalan sampah di Putri Cempo bahkan sampai menarik perhatian Wali Kota Solo, Respati Ardi. Ia turun langsung ke lokasi pada Selasa (10/2/2026) untuk mengecek penyebab antrean truk yang sempat bikin situasi cukup padat.
Usai peninjauan, Respati langsung menambah alat berat agar jalur masuk truk bisa kembali terbuka dan proses pengelolaan sampah lebih maksimal.
“Kita sediakan tiga ekskavator dan beberapa dozer untuk membuka jalur kembali. Setelah itu akan dilakukan penataan melalui cut and fill di Blok D dan beberapa blok lainnya,” terangnya.
Namun menurut Respati, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan dari sisi pengelola saja. Ada peran penting masyarakat yang juga menentukan kelancaran sistem.
Ia menyoroti mesin pemilah pada teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) di PLTSa yang kerap mengalami gangguan karena sampah rumah tangga masih tercampur.
“Kami mengajak seluruh warga Solo untuk memilah sampah dari rumah. Nantinya akan segera disosialisasikan sampai tingkat RT dan RW, karena ini adalah permasalahan bersama,” imbuhnya.
Dengan operasional yang mulai stabil, Putri Cempo perlahan kembali ke ritmenya. Tapi satu hal jadi pengingat: urusan sampah bukan cuma soal alat berat, melainkan juga soal kebiasaan.
Semakin rapi sampah dipilah dari rumah, semakin ringan pula beban yang harus ditangani di hilir. (*)


