Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Air Suci, Nasi 3G, dan Pesona Lereng yang Menggugah Rasa, Sepenggal Kisah dari Festival Gunung Slamet
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Unik

Air Suci, Nasi 3G, dan Pesona Lereng yang Menggugah Rasa, Sepenggal Kisah dari Festival Gunung Slamet

Tak hanya sebuah panggung hiburan, Festival Gunung Slamet menjadi ruang pelestarian nilai. Reza Fahlevi dari Kemenparekraf menyebutnya sebagai "etalase budaya yang hidup". FGS bahkan kembali masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) 2025, pengakuan nasional yang tak datang dengan mudah.

Nugroho P.
Last updated: Juli 5, 2025 4:25 pm
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
Festival Gunung Slamet Purbalingga
SHARE

HAWA sejuk khas kaki Gunung Slamet pagi itu mengandung sesuatu yang lebih dari sekadar kabut. Sabtu (5/7/2025), Desa Serang, Kecamatan Karangreja, menjadi panggung budaya yang memadukan sakralitas, rasa, dan harapan dalam Festival Gunung Slamet (FGS) ke-8. Warga dan wisatawan berkumpul, tak hanya untuk menyaksikan, tapi ikut larut dalam kisah yang diwariskan oleh alam dan leluhur.

Festival dimulai dengan arak-arakan air dari Tuk Sikopyah, mata air legendaris yang dipercaya membawa berkah. Ratusan warga mengenakan pakaian adat Banyumasan berjalan sejauh tiga kilometer, masing-masing membawa kendi dan lodong bambu. Mereka tidak sekadar menapak tanah, tapi mengalirkan energi spiritual menuju pusat acara di kawasan wisata DLAs Serang.

Air sakral itu kemudian dituang satu per satu ke wadah khusus. Prosesi ini dipimpin oleh Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, bersama Wakil Bupati Dimas Prasetyahani. Tamu undangan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun turut berpartisipasi. Momen itu juga diabadikan wisatawan asing yang tampak kagum menyaksikan kekayaan budaya lokal.

Puncak spiritualitas digambarkan lewat pentas wayang kulit ruwatan oleh Ki Dalang Sutama. Dalam lakon singkatnya, ia menyingkirkan energi negatif yang mengancam mata air dengan kisah jin serakah yang mencoba menguasai sumber kehidupan. Lakon itu tak hanya simbolis, tetapi menyentuh sisi batin penonton yang mendambakan kelestarian.

Begitu usai prosesi, suasana menjadi lebih cair. Warga mulai menyerbu gunungan hasil bumi sebagai simbol panen dan keberkahan. Namun, yang paling ditunggu tentu saja pembagian Nasi 3G—Gereh, Gundil, dan Gandul. Tiga lauk sederhana yang diracik bersama nasi jagung, dibungkus dalam besek dan daun nyangku, menciptakan rasa yang tak hanya menggugah lidah, tapi juga kenangan kolektif.

“Nasi 3G ini khas kita, khas Gunung Slamet. Tahun ini kita bagikan 8.888 bungkus, semoga bisa tercatat dalam rekor MURI dan dunia,” ujar Bupati Fahmi. Jumlah itu tak dipilih sembarangan—angka 8 adalah simbol kemakmuran, dan sejalan dengan FGS edisi kedelapan.

Kawasan DLAs Serang pun disulap menjadi pusat kegembiraan. Stand UMKM ramai diserbu pengunjung. Ada kerajinan bambu, olahan pangan lokal, hingga kopi khas dataran tinggi. Para pelaku usaha kecil tampak semringah, menjajakan produk sambil bercerita tentang asal usulnya.

Sore menjelang malam, cahaya lampion menghiasi langit. Denting musik tradisional mengalun, disusul penampilan modern dari penyanyi Ghea Indrawari. Lagu-lagunya menggema di antara pepohonan pinus, menambah nuansa romantis yang membalut keagungan Gunung Slamet.

Tak hanya sebuah panggung hiburan, Festival Gunung Slamet menjadi ruang pelestarian nilai. Reza Fahlevi dari Kemenparekraf menyebutnya sebagai “etalase budaya yang hidup”. FGS bahkan kembali masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) 2025, pengakuan nasional yang tak datang dengan mudah.

“Ini bukan sekadar festival. Ini ruang kreasi, edukasi, pelestarian budaya, dan sekaligus penggerak UMKM. Kami akan terus mendukung agar FGS naik kelas,” kata Reza. Ia menilai perpaduan antara nilai tradisional dan daya tarik wisata membuat FGS layak menjadi ikon nasional, bahkan internasional.

Di tengah gegap gempita, Bupati Fahmi menyampaikan harapannya agar FGS terus berkembang menjadi festival yang unik dan relevan. “Kita ingin event ini bukan hanya rutin, tapi terus menciptakan hal baru yang membanggakan daerah,” ujarnya.

Dan memang, Festival Gunung Slamet bukan hanya soal seremoni. Ia adalah narasi tentang alam yang bersahabat, masyarakat yang bersatu, dan warisan budaya yang terus bergema. Setiap langkah di lereng Slamet hari itu adalah jejak yang menyatu antara tanah, air, dan rasa.

Ketika semua usai dan kabut malam turun perlahan, satu pesan tertinggal di hati mereka yang hadir: bahwa budaya bukan sekadar dirayakan, tapi dirawat. Dan di kaki Gunung Slamet, kisah itu masih ditulis—dengan air suci, nasi jagung, dan semangat tak pernah padam. (*)

You Might Also Like

Gadget Guide: Your Go-To Resource for the Latest Tech

Mbah Mun Ketua PP Blora Ngaku Agen Pertamina, Tipu Rekanan Bisnis Rp333 Juta

Konser Denny Caknan di Kota Semarang Dibiayai Uang Dari Pungli

Menteri HAM Tegas Larang Bendera Fiksi Dikibarkan di Hari Kemerdekaan

Kurator Sritex Protes 72 Mobil Disita Kejagung

TAGGED:festival gunung slametpurbalinggawisata purbalingga
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Frank Van Kempen Resmi Nahkodai Timnas Indonesia U-20, PSSI Siapkan Jalan ke Piala Dunia 2027
Next Article Beginilah Kondisi Rumah T di Sleman Usai Digeruduk Ratusan Driver Ojek Online

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Pemprov Relokasi 900 Rumah di Kawasan Tanah Gerak Tegal

Jelang Lebaran, Kepala Daerah Diingatkan Jaga Stabilisasi Harga dan Pasokan

Ilustrasi gerakan sosial 'Setop Bayar Pajak'.

Viral Gerakan ‘Setop Bayar Pajak’ di Jateng, Warga: Ekonomi sedang Tidak Baik-baik Saja

Rawa Pening Disiapkan Jadi Proyek Percontohan

Kursi Kosong di PN Solo: Gusti Moeng dan PB XIV Purbaya Sama-sama Absen

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Gu
Unik

“Jangan Semua Ikuti Mertua Anda!”: Said Didu Sentil Keras Bobby Soal Empat Pulau Aceh

Juni 18, 2025
Unik

Soal Rob Sayung, Taj Yasin Sebut Pemerintah Akan Bangun Tanggul Laut

Juni 15, 2025
Unik

Tujuh Fraksi Kompak Tunjangan DPR Dievaluasi

Agustus 31, 2025
Unik

Kocak Banget! Dedi Mulyadi Tantang Ayu Ting Ting: Barak Militer atau KUA?

Mei 15, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Air Suci, Nasi 3G, dan Pesona Lereng yang Menggugah Rasa, Sepenggal Kisah dari Festival Gunung Slamet
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?