BACAAJA, SEMARANG – Menghadapi anak usia balita memang penuh kejutan. Hari ini anak bisa terlihat manis dan penurut, tetapi besoknya mendadak hobi membantah, ogah berbagi mainan, atau memasukkan benda apa saja ke mulut.
Kebiasaan seperti itu sering membuat orangtua geleng-geleng kepala. Namun, jangan buru-buru menganggap si kecil nakal atau punya masalah perilaku. Sejumlah tingkah yang terasa menjengkelkan justru menjadi bagian dari proses tumbuh kembang anak.
Melansir Parents, Minggu (8/11/2026), Kepala Bagian Pediatri Perkembangan dan Perilaku K. Hovnanian Children’s Hospital, dr. Cristina Farrell, MPH, menyarankan orangtua mengenali perilaku anak dengan membandingkannya bersama teman sebaya. Jika masih ada kekhawatiran, orangtua bisa berkonsultasi dengan dokter anak atau guru di tempat penitipan maupun prasekolah.
1. Sedikit-Sedikit Bilang Tidak
Begitu mengenal kata “tidak”, sebagian balita seperti tidak pernah kehabisan kesempatan untuk mengucapkannya. Permintaan sederhana sekalipun bisa langsung mendapat penolakan.
Menurut Farrell, perilaku ini bukan berarti anak sengaja ingin membuat orangtua kesal. Mereka sedang belajar mengenali kemandirian dan menyadari bahwa dirinya juga bisa menentukan pilihan.
Di usia tersebut, anak merasa banyak hal dalam hidupnya masih diatur orang dewasa. Karena itu, menolak permintaan menjadi salah satu cara untuk mengambil kendali.
“Ini semua soal rasa diri yang terus berkembang. Untuk memahami diri sendiri, kamu harus memahami batasanmu,” ujar Farrell.
Dia menjelaskan, menguji batasan merupakan bagian dari proses anak mengenali dirinya. Mereka perlu mencoba dan mengetahui sejauh mana batas yang berlaku.
2. Suka Mengarang Cerita
Balita terkadang menceritakan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan. Bahkan, mereka bisa mengaku punya hewan peliharaan padahal sebenarnya tidak.
Namun, menurut Farrell, kebiasaan tersebut belum tentu merupakan kebohongan yang disengaja. Kemampuan berbahasa anak masih berkembang sehingga mereka belum selalu mampu menyampaikan isi pikirannya secara tepat.
Pemahaman tentang waktu, konteks, serta perbedaan antara khayalan dan kenyataan juga belum sepenuhnya terbentuk.
Farrell mencontohkan seorang anak yang mengaku punya hewan peliharaan, padahal hewan tersebut sebenarnya milik neneknya. Anak itu bisa saja belum memahami perbedaan antara pengalaman dirinya dan pengalaman anggota keluarga lain.
Balita juga mulai belajar menyembunyikan perbuatan yang mereka tahu tidak disukai orang dewasa. Jika orangtua langsung merespons dengan amarah atau mempermalukan anak, kebiasaan menyembunyikan sesuatu justru bisa semakin kuat.
3. Ogah Berbagi Mainan
Melihat anak bermain sendiri di tengah teman-temannya bukan sesuatu yang perlu langsung dikhawatirkan. Dalam tahap perkembangan, perilaku ini dikenal sebagai parallel play atau bermain paralel.
Anak bermain berdampingan dengan teman sebaya, tetapi belum benar-benar terlibat dalam permainan bersama. Tahap tersebut menjadi salah satu proses sebelum mereka mampu berinteraksi lebih aktif.
Farrell menjelaskan, anak biasanya mulai menyadari keberadaan teman bermain dan memahami kemungkinan bermain bersama ketika berusia sekitar tiga tahun.
Kemampuan berbagi juga tidak muncul begitu saja. Anak perlu belajar memahami bahwa orang lain memiliki keinginan dan perasaan yang bisa berbeda dari dirinya.
Menurut Farrell, pemahaman tersebut bahkan belum terbentuk sepenuhnya sampai anak duduk di kelas satu atau dua sekolah dasar. Meski begitu, orangtua tetap perlu memberikan batasan agar anak tidak terus terbiasa bersikap hanya mementingkan diri sendiri.
4. Semua Benda Ingin Dimasukkan ke Mulut
Benda apa pun yang ditemukan bisa menjadi sasaran eksplorasi balita. Mulai dari mainan, benda kecil, hingga barang yang sebenarnya tidak boleh masuk ke mulut.
Farrell menjelaskan, anak menggunakan mulut untuk mengenali dunia melalui rasa dan tekstur. Kebiasaan mengisap juga bisa menjadi cara mereka menenangkan diri, terutama saat sedang tumbuh gigi.
“Mengisap adalah cara paling primitif untuk mendapat nutrisi dan menenangkan diri. Kita memang ingin mereka beralih dari (kebiasaan) itu nanti, tetapi ada masanya kemampuan itu justru bagus untuk mereka,” ucap Farrell.
Meski tergolong wajar, orangtua tetap harus ekstra waspada. Benda kecil berisiko membuat anak tersedak, khususnya pada usia di bawah tiga tahun.
5. Hobi Mengorek Hidung
Kebiasaan mengorek hidung juga sering membuat orangtua risih, apalagi jika dilakukan di tempat umum. Padahal, membersihkan hidung merupakan keterampilan yang perlu dipelajari anak dan prosesnya bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Bagi balita, mengorek hidung bisa menjadi bentuk eksplorasi sensorik atau respons terhadap rasa tidak nyaman. Mereka juga belum sepenuhnya memahami soal kebersihan dan aturan sopan santun.
Farrell menyarankan orangtua tidak selalu merespons dengan teguran keras. Lebih baik alihkan perhatian anak secara lembut sekaligus mengajari cara lain untuk mengatasi rasa tidak nyaman di hidung.
Proses tersebut perlu dilakukan berulang kali sampai anak memahami dan terbiasa melakukannya dengan cara yang tepat.
6. Kapan Orangtua Perlu Waspada?
Meski sebagian kebiasaan tersebut masih tergolong normal, ada sejumlah perilaku yang sebaiknya tidak diabaikan. Farrell menyarankan orangtua berkonsultasi dengan dokter anak jika si kecil terus memasukkan benda ke mulut setelah melewati usia balita atau bahkan memakan benda yang bukan makanan.
Orangtua juga perlu mencari bantuan profesional jika anak sering mengalami tantrum selama 10 hingga 30 menit atau lebih dan kesulitan menenangkan diri.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan menghindari anak lain, tidak menggunakan komunikasi verbal maupun nonverbal untuk menyampaikan keinginan, serta sensitivitas berlebihan terhadap rangsangan seperti suara dan tekstur.
Dengan memahami tahapan tumbuh kembang, orangtua bisa lebih tenang menghadapi tingkah anak. Namun, tetap penting untuk mengamati pola perilakunya dan berkonsultasi dengan dokter jika muncul tanda-tanda yang mengkhawatirkan. (*)

