BACAAJA, SEMARANG – Mempersiapkan kelahiran anak bukan cuma soal membeli perlengkapan bayi atau menata kamar agar nyaman. Bagi orang tua Muslim, masa kehamilan juga menjadi kesempatan untuk memperkuat ibadah dan membangun kebiasaan baik sejak dini.
Buya Yahya mengingatkan bahwa pendidikan anak tidak baru dimulai setelah bayi lahir. Menurut pendakwah bernama KH Yahya Zainul Ma’arif tersebut, tanggung jawab orang tua sudah berjalan sejak memilih pasangan hidup hingga mendampingi proses kehamilan.
Dalam kajiannya, pengasuh LPD Al Bahjah itu menjelaskan sejumlah amalan yang bisa dilakukan ibu hamil. Mulai dari menjaga perilaku, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, hingga bersedekah sebagai bentuk syukur atas kehamilan.
Pendidikan Anak Dimulai Sebelum Lahir
Dalam kajian yang diunggah di kanal YouTube @buyayahyaofficial, Buya Yahya mengisahkan dialog seorang ayah yang mengadukan perilaku anaknya kepada Sayyidina Umar bin Khattab.
Dalam kisah tersebut, sang anak justru mempertanyakan tanggung jawab ayahnya dalam mendidik sejak awal kehidupannya. Cerita ini digunakan untuk menjelaskan bahwa pembentukan karakter anak berkaitan erat dengan peran orang tua.
Buya Yahya menyampaikan tiga tanggung jawab utama yang dikaitkan dengan kisah tersebut, yakni memilih pasangan yang baik, memberikan nama yang baik, serta mengajarkan Al-Qur’an kepada anak sejak dini.
Menurutnya, memilih pasangan yang memahami agama menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi berikutnya. Sebab, orang tua akan menjadi lingkungan pendidikan pertama yang dikenal anak.
“Kalau ingin punya anak yang sholeh, jangan hanya cari istri karena wajah cantik atau harta. Pilih yang paham agama, karena ia akan jadi madrasah pertama bagi anak-anaknya,” tegas Buya Yahya.
Jaga Perilaku dan Perbanyak Ibadah
Setelah kehamilan terjadi, Buya Yahya mengingatkan ibu agar tetap memperhatikan perilaku dan kebiasaan sehari-hari. Ia menganjurkan agar ibu hamil menjauhi maksiat serta menjaga penglihatan, pendengaran, dan pergaulan dari hal-hal yang tidak diridhai Allah SWT.
Selain menjaga diri, ibu hamil juga dianjurkan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, dan bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Amalan tersebut bisa dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan.
Buya Yahya juga mengingatkan bahwa kondisi fisik ibu hamil perlu diperhatikan ketika menjalankan ibadah. Apabila kehamilan membuat seseorang kesulitan melakukan sholat sambil berdiri, misalnya, terdapat keringanan untuk sholat dengan posisi duduk sesuai ketentuan yang berlaku.
Pesannya, jangan sampai keterbatasan fisik membuat ibu merasa tidak mampu menjaga kedekatan dengan Allah SWT. Ibadah dapat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi, tanpa memaksakan diri hingga membahayakan kesehatan.
Ia juga menyinggung doa sebelum berhubungan suami istri, yaitu:
اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ
Latin: Allahumma jannibna asy-syaithan.
Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan.”
Doa tersebut menjadi bagian dari ikhtiar spiritual pasangan Muslim dalam memohon perlindungan Allah SWT.
Sedekah sebagai Bentuk Syukur
Amalan berikutnya yang disampaikan Buya Yahya adalah sedekah. Ia menyarankan orang tua menjadikan kabar kehamilan sebagai kesempatan untuk bersyukur dan berbagi kepada sesama.
Dalam kajiannya, ia menyinggung sedekah setelah mengetahui kehamilan, ketika usia kandungan empat bulan, serta menjelang tujuh bulan. Amalan tersebut dapat dilakukan sesuai kemampuan keluarga, tanpa harus mengadakan acara besar.
Sedekah bisa berupa makanan, uang, atau bantuan lain yang bermanfaat bagi orang yang membutuhkan. Hal terpenting adalah niat berbagi dan bersyukur kepada Allah SWT, bukan besarnya biaya yang dikeluarkan.
Buya Yahya juga membahas tradisi tujuh bulanan yang masih dijalankan sebagian masyarakat. Menurut penjelasannya, kegiatan tersebut bisa menjadi sarana bersyukur dan berdoa bersama selama tidak dianggap sebagai kewajiban agama dengan ketentuan khusus yang tidak memiliki dasar.
Karena itu, keluarga tidak perlu memaksakan diri menggelar acara mewah. Kegiatan sederhana yang diisi doa dan sedekah dapat menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menandai masa kehamilan.
Ayah Juga Punya Tanggung Jawab
Buya Yahya mengingatkan bahwa mendampingi kehamilan bukan hanya tugas ibu. Ayah juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga suasana keluarga, memberikan dukungan, dan ikut memperkuat kehidupan spiritual rumah tangga.
Peran ayah tidak berhenti pada urusan mencari nafkah atau memenuhi kebutuhan perlengkapan bayi. Dukungan emosional dan kebiasaan beribadah bersama juga menjadi bagian dari upaya mempersiapkan kelahiran anak.
Ia menekankan bahwa orang tua perlu menjaga akhlak, perkataan, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Upaya tersebut menjadi bagian dari pendidikan keluarga yang akan berlanjut setelah anak lahir.
Meski begitu, amalan-amalan tersebut sebaiknya dipahami sebagai ikhtiar spiritual, bukan jaminan bahwa seorang anak pasti memiliki sifat tertentu. Pembentukan karakter juga berkaitan dengan pengasuhan, lingkungan, pendidikan, serta berbagai faktor lain dalam kehidupannya.
Pesan Buya Yahya mengajak calon orang tua untuk memanfaatkan masa kehamilan dengan memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Dengan menjaga ibadah, memperbanyak doa, bersedekah, dan saling mendukung, orang tua diharapkan bisa membangun lingkungan keluarga yang baik bagi buah hati. Ikhtiar tersebut menjadi bagian dari harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi sholeh atau sholehah yang membawa kebaikan bagi keluarga dan masyarakat. (*)

