BACAAJA, NGAWI– Korupsi bukan cuma soal uang negara yang raib miliaran rupiah. Kebiasaan kecil yang mengabaikan aturan juga bisa menjadi pintu masuk masalah. Karena itu, Pemkab Ngawi mulai memperkuat benteng antikorupsi lewat edukasi digital bagi jajaran birokrasi.
Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko membuka kegiatan e-Learning Anti Korupsi di Nata Azana Hotel, Ngawi, Rabu (21/10/2026). Program ini menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel.
Baca juga: Bupati Ngawi: Regulasi Tak Cukup Sah, Harus Bermanfaat Bagi Rakyat
Dalam sambutannya, Dwi Rianto menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dan edukasi berkelanjutan untuk mencegah praktik korupsi sejak dini. Menurutnya, pemahaman mengenai antikorupsi perlu dimiliki seluruh jajaran pemerintah, bukan hanya pejabat di level tertentu.
“Melalui e-Learning Anti Korupsi ini, kita berharap seluruh jajaran aparat pemerintah memiliki pemahaman yang kuat serta integritas yang tinggi dalam menjalankan tugas-tugas pelayanan publik,” ujarnya.
Lebih Luas
Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekda Kabupaten Ngawi, para kepala organisasi perangkat daerah (OPD), camat se-Kabupaten Ngawi, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Melalui pembelajaran berbasis digital, edukasi antikorupsi diharapkan bisa menjangkau aparatur secara lebih luas. Namun, tujuan akhirnya tentu bukan sekadar menyelesaikan materi atau mendapatkan tanda kelulusan pelatihan, melainkan membangun kebiasaan kerja yang taat aturan dan mengutamakan kepentingan masyarakat.
Baca juga: Hari Santri di Ngawi: Bukan Sekadar Istighosah, Tapi Reminder Kalau Santri Ikut Bangun Negeri
Sebab, pemerintahan bersih bukan hanya perkara berapa banyak pegawai yang sudah ikut pelatihan, tetapi juga bagaimana mereka bertindak saat memegang kewenangan.
Sertifikat antikorupsi boleh tersimpan rapi, tetapi integritas harus tetap aktif setiap hari, bukan ikut logout begitu pelatihan selesai. (tebe)

