BACAAJA, NGAWI- Di tengah dunia yang makin sibuk mengejar tren dan teknologi, Pendopo Wedya Graha Ngawi justru dipenuhi lantunan doa. Rabu, (21/10/2026) malam bukan cuma istighosah yang mengudara, tapi juga pesan bahwa santri hari ini tak lagi identik dengan kitab kuning semata, mereka juga diajak ikut ngebut di jalur pembangunan.
Suasana khidmat menyelimuti peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 yang digelar. Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono, Wakil Bupati Dwi Rianto Jatmiko, dan jajaran Forkopimda hadir bersama para kiai, pimpinan pondok pesantren, tokoh agama, organisasi Islam, hingga ribuan santri dari berbagai penjuru Kabupaten Ngawi.
Baca juga: Harga Sembako di Ngawi Dipantau, Wabup Turun Langsung ke Pasar
Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri, Menuju Indonesia Emas”, acara ini menjadi ruang untuk mengingat kembali peran santri yang sejak dulu ikut menjaga kemerdekaan, sekaligus mendorong mereka mengambil peran di era yang penuh tantangan baru.
Malam dibuka dengan penyerahan santunan simbolis kepada anak-anak yatim piatu. Setelah itu, suasana berubah semakin syahdu ketika doa dan istighosah dipanjatkan bersama, memohon keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi masyarakat Bumi Ngawi Ramah.
Kebutuhan Zaman
Dalam sambutannya, Ony Anwar Harsono menilai tema HSN tahun ini relevan dengan kebutuhan zaman. Menurutnya, santri kini tak cukup hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga perlu hadir di ruang-ruang yang menentukan masa depan bangsa, mulai dari teknologi, ekonomi, hingga pembangunan.
“Santri tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga berkontribusi aktif dalam berbagai sektor pembangunan, teknologi, dan ekonomi menuju kemajuan bangsa,” ujarnya.
Pesan itu terasa seperti ajakan untuk memperluas makna menjadi santri di era digital. Kalau dulu perjuangan identik dengan menjaga tanah air dari penjajah, kini medan tempurnya bisa berupa inovasi, pemberdayaan ekonomi, hingga membangun masyarakat yang tetap berpijak pada nilai-nilai keagamaan.
Baca juga: Bupati Ngawi Lantik Ratusan PNS, Minta ASN Melek AI dan Tak Terjebak Rutinitas
Resepsi berlangsung hangat dengan nuansa religius yang kental. Silaturahmi antara pemerintah daerah, ulama, dan para santri menjadi salah satu warna yang memperkuat peringatan HSN tahun ini.
Sebab, Indonesia Emas tak akan lahir hanya dari slogan yang diulang setiap Oktober. Doa memang penting, tetapi setelah “amin” terucap, tantangan berikutnya adalah memastikan semangat santri ikut hidup di ruang kelas, ruang usaha, laboratorium, hingga meja pengambil kebijakan, bukan berhenti di panggung seremoni. (tebe)

