BACAAJA, SEMARANG– Lari biasanya identik dengan alarm subuh, udara pagi, dan keringat sebelum berangkat kerja. Tapi di Semarang, urusannya beda. Lebih dari 3.000 orang justru diajak berlari malam-malam, menyusuri bangunan bersejarah sambil ditemani pertunjukan seni dan suasana kota yang punya banyak cerita.
Itulah Semarang Heritage Night Run (SHNR) 2026 yang untuk pertama kalinya digelar pada Jumat (10/10) malam. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti ikut menyambut para peserta yang datang dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, akademisi, hingga komunitas lari.
Mengusung tema “Bergerak Hebat, Menyusuri Harmoni Kota”, ajang lari santai sejauh lima kilometer ini mengambil titik start dan finis di Metro Point, kawasan Kota Lama Semarang.
Baca juga: Lari Sampai Nanjak 82 Km? Di Ungaran, Capek Jadi Wisata
Peserta melintasi sejumlah ruas jalan, mulai dari Jalan Letjen Suprapto, Jalan Pemuda, kawasan Kauman, Jalan KH Wahid Hasyim, Jalan Wotgandul Barat, Jalan MT Haryono, hingga Bubakan.
Bukan sekadar adu kuat napas dan kaki, rute tersebut juga menawarkan pengalaman menikmati wajah historis Semarang pada malam hari. Ada lima zona cheering point tematik yang menyambut pelari, yakni Semarang Tempo Doeloe, Hindia Belanda, Pecinan Semarang, Harmoni Budaya Jawa, dan Harmoni Budaya Arab.
Di sepanjang jalur, peserta juga dihibur penampilan para pelaku seni lokal. Jadi, kalau biasanya pelari hanya fokus mengejar garis finis, kali ini ada alasan untuk sesekali menoleh dan menikmati suasana.
“Biasanya kalau lari itu pagi hari. Hari ini kita membuat sebuah tahapan baru. Kita lari menyusuri berbagai macam jalur heritage di malam hari. Nanti di samping kanan kiri, teman-teman pelari akan dihibur oleh berbagai macam pelaku seni di Kota Semarang,” ujar Agustina.
Identitas Kota
Menurut Agustina, kekayaan heritage Semarang bukan cuma soal gedung tua yang bagus dijadikan latar foto. Sejarah dan identitas kota juga hidup melalui keberagaman budaya, aktivitas masyarakat, serta kesenian yang terus berkembang.
Usai melepas peserta, Agustina menyempatkan diri berkeliling kawasan Pecinan dan Pasar Semawis. Ia menyapa warga sekaligus mengunjungi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang meramaikan kawasan tersebut.
Aktivitas itu memperlihatkan bahwa wisata sejarah bisa berjalan beriringan dengan wisata kuliner dan perputaran ekonomi warga. Ribuan peserta yang datang diharapkan ikut memperluas kunjungan ke kawasan heritage sekaligus memberi peluang bagi pedagang setempat.
Baca juga: 2.700 Pelari dari 14 Negara Serbu Merbabu Skyrace 2026
Panitia juga menyiapkan hadiah bagi peserta, termasuk sepeda motor dan paket umrah. Kombinasi olahraga, hiburan, sejarah, dan hadiah pun menjadi daya tarik tersendiri bagi ajang perdana ini.
Namun, kesuksesan acara semacam ini tentu bukan cuma dihitung dari berapa banyak pelari yang datang atau seberapa ramai kawasan Kota Lama malam itu. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana keramaian sesaat bisa berubah menjadi kunjungan berulang yang ikut menghidupkan usaha warga.
Sebab, bangunan bersejarah tak cukup hanya ramai dilewati pelari dan jadi latar swafoto. Kota lama baru benar-benar hidup kalau setelah peluit finis berbunyi, ekonomi warga juga ikut berlari, bukan malah tertinggal di belakang. Rapikan tanggal dan gaya berita. (tebe)

