Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Trauma Bullying Bisa Pulih, Begini Cara Bangkit
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tips

Trauma Bullying Bisa Pulih, Begini Cara Bangkit

Nugroho P.
Last updated: Oktober 8, 2026 4:56 pm
By Nugroho P.
9 Min Read
Share
ilustrasi korban bullying. (foto istimewa)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Bullying memang bisa selesai ketika pelaku berhenti melakukan perundungan, tetapi luka yang ditinggalkan belum tentu langsung hilang. Bagi korban, pengalaman tersebut bisa terus teringat dan memengaruhi rasa percaya diri, hubungan dengan orang lain, bahkan aktivitas sehari-hari.

Contents
Bullying Bukan Sekadar CandaanKenali Tanda TraumaJangan Ragu Cari Bantuan ProfesionalCerita Pelan-pelan ke Orang TerpercayaRawat Diri, Tapi Jangan DipaksaBangun Lagi Rasa Percaya DiriBelajar Bilang TidakJangan Ukur Pulih dari KecepatanKapan Harus Segera Cari Pertolongan?Luka Bisa Pulih, Hidup Bisa Berlanjut

Dampaknya juga tidak selalu kelihatan dari luar. Ada korban yang menjadi lebih pendiam, gampang cemas, sulit tidur, susah berkonsentrasi atau kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya disukai.

Karena itu, bangkit dari trauma bullying bukan soal dipaksa cepat melupakan kejadian. Prosesnya membutuhkan waktu, rasa aman, dukungan orang terdekat dan bila diperlukan bantuan dari psikolog atau psikiater.

Bullying Bukan Sekadar Candaan

Perundungan yang dilakukan berulang kali bisa memberikan tekanan psikologis serius, terutama ketika korban merasa tidak punya kekuatan untuk menghentikannya. Perasaan takut, malu, tidak berdaya hingga kehilangan kepercayaan diri dapat muncul setelah kejadian tersebut.

Pada sebagian korban, dampaknya bisa terbawa dalam waktu lama. Mereka mungkin menjadi lebih waspada terhadap lingkungan, menghindari orang atau tempat tertentu, atau merasa tidak nyaman ketika berada dalam situasi yang mengingatkan pada pengalaman buruk.

Perubahan juga bisa terlihat dari pola makan dan tidur. Konsentrasi di sekolah atau tempat kerja dapat ikut terganggu sehingga prestasi maupun produktivitas menurun.

Namun, dampak bullying tidak selalu sama pada setiap orang. Karena itu, pengalaman korban sebaiknya tidak dibandingkan dengan pengalaman orang lain.

Kenali Tanda Trauma

Salah satu langkah awal adalah mengenali perubahan yang muncul setelah perundungan. Pikiran atau ingatan tentang kejadian bullying yang terus mengganggu bisa menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan.

Korban juga dapat menghindari tempat, orang atau situasi tertentu karena takut kembali mengalami kejadian serupa. Perubahan suasana hati, mudah cemas, gampang tersinggung dan menarik diri dari lingkungan sosial juga bisa muncul.

Tanda lainnya adalah hilangnya minat terhadap aktivitas yang sebelumnya menyenangkan. Kesulitan berkonsentrasi juga dapat membuat kegiatan sekolah, pekerjaan maupun rutinitas harian terasa lebih berat.

Jika perubahan tersebut terus berlangsung, semakin berat atau mengganggu kehidupan sehari-hari, sebaiknya jangan dipendam sendirian. Konsultasi dengan psikolog atau psikiater bisa membantu mengetahui kondisi dan kebutuhan penanganannya.

Jangan Ragu Cari Bantuan Profesional

Pemulihan trauma tidak harus dilakukan sendirian. Psikolog atau psikiater dapat membantu korban memahami apa yang dialami sekaligus menentukan pendekatan yang sesuai.

Salah satu metode yang dapat digunakan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Terapi ini dapat membantu seseorang mengenali hubungan antara pikiran, perasaan dan perilaku yang muncul setelah mengalami pengalaman traumatis.

Pendekatan terapi tidak selalu sama untuk setiap orang. Tenaga profesional akan menyesuaikannya dengan kondisi, kebutuhan dan tingkat gangguan yang dialami.

Mencari bantuan bukan berarti korban lemah. Justru, meminta pertolongan bisa menjadi langkah penting untuk mendapatkan kembali rasa aman dan kendali atas kehidupan.

Cerita Pelan-pelan ke Orang Terpercaya

Dukungan dari keluarga, teman atau orang yang dipercaya juga punya peran besar dalam proses pemulihan. Korban tidak harus langsung menceritakan seluruh kejadian jika belum siap.

Cerita bisa dimulai sedikit demi sedikit kepada orang yang dirasa aman. Memiliki seseorang untuk mendengarkan tanpa menghakimi dapat membantu korban merasa tidak sendirian menghadapi pengalaman tersebut.

Orang terdekat juga perlu menghindari respons yang menyalahkan korban. Kalimat yang terkesan mengecilkan pengalaman justru dapat membuat korban semakin menutup diri.

Lingkungan yang aman dan suportif dapat menjadi tempat bagi korban untuk perlahan membangun kembali rasa percaya terhadap orang lain.

Rawat Diri, Tapi Jangan Dipaksa

Menjaga kondisi fisik juga bisa menjadi bagian dari proses pemulihan. Tidur cukup, makan bergizi dan melakukan aktivitas fisik secara rutin dapat membantu menjaga kondisi tubuh sekaligus mendukung kesehatan emosional.

Korban juga bisa mencoba aktivitas yang membuat pikiran lebih tenang. Menulis jurnal, latihan pernapasan atau melakukan kegiatan yang disukai dapat menjadi cara sederhana untuk mengelola stres.

Namun, perawatan diri bukan pengganti bantuan profesional ketika gejala sudah berat. Jika trauma mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, konsultasi tetap diperlukan.

Yang penting, jangan memaksakan diri untuk langsung kembali seperti sebelum mengalami bullying. Pemulihan membutuhkan proses dan setiap orang punya kecepatannya sendiri.

Bangun Lagi Rasa Percaya Diri

Bullying sering meninggalkan perkataan negatif yang kemudian terus terngiang di kepala korban. Lama-kelamaan, korban bisa menganggap ucapan pelaku sebagai gambaran tentang dirinya.

Di sinilah pentingnya belajar memisahkan perkataan pelaku dari kenyataan tentang diri sendiri. Kalimat seperti “Saya tidak berharga” atau “Saya memang pantas diperlakukan begitu” perlu dipertanyakan kembali.

Korban dapat mencoba menggantinya dengan cara pandang yang lebih realistis. Misalnya, “Saya sedang berusaha pulih” atau “Perlakuan orang lain tidak menentukan nilai diri saya.”

Membangun kepercayaan diri tidak harus lewat perubahan besar. Berani kembali melakukan aktivitas yang sebelumnya dihindari pun sudah bisa menjadi sebuah kemajuan.

Belajar Bilang Tidak

Setelah mengalami bullying, kemampuan menetapkan batasan juga penting untuk dibangun kembali. Setiap orang berhak mengatakan tidak terhadap perlakuan yang membuat dirinya tidak nyaman.

Batasan dapat disampaikan dengan tegas tanpa harus bersikap kasar atau agresif. Memilih lingkungan yang lebih aman dan menjaga jarak dari orang yang terus memberikan perlakuan buruk juga merupakan bentuk menjaga diri.

Jika berada dalam situasi yang mengancam keselamatan, jangan mencoba menghadapi semuanya sendirian. Minta bantuan orang yang dipercaya, pihak sekolah, tempat kerja atau pihak berwenang sesuai situasinya.

Memiliki batasan yang sehat dapat membantu seseorang merasa lebih punya kendali terhadap kehidupannya.

Jangan Ukur Pulih dari Kecepatan

Proses pemulihan trauma tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya seseorang sudah merasa lebih baik, tetapi kemudian kembali cemas atau sedih ketika mengingat kejadian yang pernah dialami.

Kondisi tersebut tidak otomatis berarti pemulihan gagal. Naik turunnya perasaan bisa menjadi bagian dari proses, terutama ketika seseorang sedang belajar menghadapi kembali hal-hal yang sebelumnya dihindari.

Kemajuan kecil tetap layak dihargai. Mulai berani keluar rumah, kembali bertemu teman, mengikuti kegiatan yang disukai atau mampu menceritakan pengalaman kepada orang lain bisa menjadi langkah penting.

Tidak ada batas waktu yang sama bagi semua korban untuk pulih. Yang terpenting bukan seberapa cepat melupakan kejadian, tetapi bagaimana perlahan mendapatkan kembali rasa aman dan kepercayaan diri.

Kapan Harus Segera Cari Pertolongan?

Bantuan profesional sebaiknya segera dicari jika dampak bullying membuat seseorang kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari. Kondisi yang semakin berat, menarik diri secara ekstrem atau tekanan psikologis yang sulit dikendalikan juga perlu mendapat perhatian.

Jika muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup, jangan menghadapi situasi tersebut sendirian. Segera cari bantuan langsung dari orang yang dipercaya, fasilitas kesehatan terdekat atau layanan kegawatdaruratan setempat.

Korban juga tidak perlu merasa malu karena membutuhkan bantuan. Mendapatkan pertolongan sedini mungkin justru dapat membantu mencegah kondisi berkembang menjadi semakin berat.

Luka Bisa Pulih, Hidup Bisa Berlanjut

Pengalaman bullying memang dapat meninggalkan bekas, tetapi kejadian tersebut tidak harus menentukan masa depan korban. Dengan dukungan yang tepat dan penanganan yang sesuai, seseorang dapat kembali menjalani kehidupan secara lebih sehat.

Pemulihan bisa dimulai dari hal sederhana, seperti mencari lingkungan yang aman, berbicara dengan orang terpercaya, merawat diri dan belajar menghargai diri sendiri. Jika dibutuhkan, bantuan psikolog atau psikiater dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.

Tidak perlu terburu-buru untuk melupakan semuanya. Beri ruang untuk pulih, hargai setiap kemajuan kecil dan ingat bahwa perlakuan buruk dari orang lain bukan ukuran nilai diri seseorang. (*)

You Might Also Like

Scaling Gigi Tak Harus Mahal, Ini Kisaran Harganya

8 Kebiasaan Sepele yang Bikin Otak Cepat Lelah

Doa Belum Terkabul? Coba Cek Diri Sendiri

Jadi Mualaf Itu Nggak Ribet, Yuk Kenali Syarat dan Prosesnya

Mau Disukai Banyak Orang? Amalkan Doa Ini

TAGGED:bullyingcara bangkit dari bullyingkorban bullyingpsikologpsikologis
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Psikolog Ajak Korban Bullying Berani Bercerita dan Minta Bantuan
Next Article MBG Prasmanan di Sleman Sisakan 3,3 Kg Makanan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kasus Bullying di Pemalang Disorot, Pemprov: CCTV Jangan Cuma Jadi Pajangan

Mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng periode 2003–2013, Dr. Sos. Drs. KH. Muhammad Adnan, M.A., meninggal dunia pada Rabu (7/10/2026) malam di RS Samsoe Hidajat, Semarang. (Dok. Maarif NU Jawa Tengah)

Kiai Adnan, Mantan Ketua PWNU Jateng dan Sosok Akademisi Itu Telah Wafat

Tim PKM FK Unnes Kawal Kesehatan Ternak hingga Daging Kurban di Magelang

Usai Asian Games, Takraw Jateng Bidik Tiga Emas PON 2028

Giant Sea Wall Belum Berdiri, Mangrove Diminta Jadi Pasukan Pertama Jaga Pantura

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tips

Cinta Qulhu Bikin Allah Sayang, Kata Gus Baha

Agustus 21, 2026
Tips

Resep Karumeyaki, Jajanan Jadul Jepang yang Manisnya Bikin Nostalgia dan Bisa Jadi Ide Jualan

September 12, 2025
Tips

Buya Yahya Ingatkan Efek Ribut di Depan Anak

Agustus 28, 2026
Tips

Menu Buka Puasa Terbaik, Kata UAH, Idealnya Bukan Gorengan

Maret 6, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Trauma Bullying Bisa Pulih, Begini Cara Bangkit
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?