BACAAJA, SEMARANG- Menolong sesama ternyata nggak selalu butuh banyak kata. Kadang, cukup dengan menggulung lengan baju, duduk sebentar, lalu merelakan darah mengalir untuk mereka yang membutuhkan.
Hal itulah yang terus dilakukan ribuan pendonor darah sukarela di Jateng. Konsistensi mereka bukan cuma membantu pasien yang membutuhkan transfusi, tetapi juga menjadi bukti bahwa kepedulian sosial masih punya banyak pengikut.
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menyebut, donor darah merupakan bentuk amal yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. “Bagi siapa pun yang memberikan darah kepada yang membutuhkan, ini merupakan suatu bentuk perwujudan amal, charity, yang diberikan dengan tulus,” kata Luthfi saat menghadiri Temu Donor Darah Sukarela 2026 di Balairung Astina, UTC Convention Hotel, Kota Semarang, Selasa (29/9/2026).
Baca juga: Posko PMI Semarang Jadi “Pit Stop” Favorit Pemudik
Menurutnya, aksi donor darah bukan sekadar kegiatan rutin untuk membantu ketersediaan darah. Lebih dari itu, ada nilai kemanusiaan yang ikut tumbuh dari kepedulian para pendonor.
Manfaatnya pun nggak berhenti pada pasien yang menerima transfusi. Keluarga pasien dan masyarakat luas turut merasakan dampak dari aksi sederhana tersebut.
Luthfi berharap, semangat para pendonor bisa menular kepada lebih banyak orang. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada mereka yang sudah berkali-kali mendonorkan darahnya hingga mencapai puluhan kali.
Terima Penghargaan
Dalam acara tersebut, sebanyak 2.347 pendonor darah sukarela menerima penghargaan atas konsistensi mereka membantu sesama. Rinciannya, sebanyak 1.742 orang telah mencapai 50 kali donor darah, sedangkan 605 orang lainnya sudah mendonorkan darah hingga 75 kali.
Namun, di tengah apresiasi itu, Luthfi juga menyoroti persoalan yang tak kalah penting, yakni pendataan pendonor. Ia meminta pencatatan dan verifikasi data diperbaiki agar tidak ada pendonor yang sudah berkali-kali menyumbangkan darah justru luput dari perhatian.
Salah satu masukan datang dari pendonor asal Purworejo yang mengaku telah mendonorkan darah lebih dari 130 kali sejak 1980. Sayangnya, jumlah tersebut belum seluruhnya tercatat dalam data.
“Tidak boleh sampai ada masyarakat yang melakukan donor terlewatkan datanya, meskipun itu sukarela,” tegasnya. Persoalan ini menjadi pengingat bahwa apresiasi terhadap pendonor bukan hanya soal memberikan penghargaan. Data yang akurat juga penting agar pengabdian mereka tercatat dengan semestinya.
Baca juga: PLN Icon Plus Tumbuhkan Semangat Kemanusiaan melalui Aksi Donor Darah
Hingga Juni 2026, produksi darah dari seluruh Unit Donor Darah (UDD) PMI di Jateng tercatat sekitar 17 ribu kantong per bulan. Pada periode tersebut, ketersediaan darah dinyatakan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dan kalau ada pelajaran dari ribuan pendonor ini, mungkin sederhana saja: manusia bisa lupa banyak hal, tetapi jangan sampai lupa mencatat orang-orang yang sudah berkali-kali menyelamatkan sesamanya.
Sebab, kalau sudah 130 kali donor saja masih ada yang tercecer dari data, jangan-jangan yang paling rutin mengalir bukan cuma darah, tetapi juga alasan untuk membenahi administrasi. (tebe)

